Islam tidak Membatasi Bentuk Bangunan: Kasus Masjid As-Safar

2
5621

BincangSyariah.Com – Belum lama ini, ada video yang menyebutkan kalau Masjid As-Safar, masjid yang dibangun oleh Ridwan Kamil (kini Gubernur Jawa Barat) di sebuah rest area di wilayah Purbaleunyi, Jawa Barat, memiliki isyarat simbol iluminati, simbol yang disebut-sebut merupakan simbol gerakan zionisme yang hendak menguasai dunia. Yang menyebutkannya adalah seorang ustadz yang berceramah di sebuah acara bernama Teras Dakwah. Dari penelusuran penulis, sang ustadz menyampaikan ceramahnya dalam tema besar Dauroh Akhir Zaman atau The New World Order.

Tidak lama setelah itu, sang arsitek, Ridwan Kamil memberikan penjelasannya soal bentuk masjid itu. Ia menegaskan bahwa memang mungkin saja orang punya penafsiran yang berbeda. Tapi, ia justru membuat masjid tersebut sebagai bagian dari upaya eksplorasi arsitektur untuk menemukan bentuk-bentuk kreatif baru pada bentuk masjid. Ia mengatakan – seperti dikutip dari detik.com – “Mereka menafsir tanpa pernah sedikitpun bertanya/tabayyun. Jika segitiga dilarang, maka di dunia ini geometri tinggal tersisa kotak dan lingkaran. Maka masjid2 tropis dgn atap ala pendopo pun harus dihancurkan? Kita ikut akal sehat saja,”

Sampai saat ini, belum terdengar apakah sang ustadz akan bertemu dengan Ridwan Kamil atau sebaliknya.

Adakah Bentuk “Paling Islami” dari Masjid?

Pada hakikatnya, Islam tidak pernah memberikan aturan apapun terhadap bentuk bangunan. Islam misalnya hanya memberikan arahan umum mengamatkan bumi ini kepada manusia agar mereka menjadi khalifah Allah di muka bumi, mengelolanya dengan sebaik-baiknya. Mengelola diantara maknanya adalah membangun sesuatu. Allah juga mengatakan dalam Al-Qur’an, bahwa betapa zalimnya jika ada orang yang menghalangi seseorang untuk membangun tempat rumah ibadah, dimana disitu diagungkan nama Allah. Ini disebutkan dalam surah al-Baqarah [2]: 114,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ

Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allâh dalam masjid-masjid-Nya

Ayat ini kemudian oleh para ulama menjadi dalil kesunahan untuk membangun masjid. Namun, tidak ada dalil yang menyebutkan kalau Islam menetapkan bentuk bangunan yang khusus terhadap masjid. Yang ada adalah, Islam hanya memberi peringatan bahwa jika kita menunaikan ibadah di suatu tempat dimana pada awalnya itu merupakan tempat ibadah agama lain, maka perlu memastikan agar simbol-simbol yang tidak menunjukkan kehambaan pada Allah, harus disingkirkan terlebih dahulu. Inipun para ulama tidak sepakat seperti apa bentuk penyingkirannya, karena ada juga pendapat yang mengatakan shalat di dalam gereja juga sebenarnya sah.

Karena itu, tidak tepat jika menganggap kalau bentuk-bentuk kreativitas arsitektur tertentu adalah milik agama orang lain. Yang ada adalah bagaimana kita memfungsikan sebuah bangunan, apakah untuk tempat ibadah atau bukan.

Dalam sejarah panjang sejak perkembangan Islam sendiri, sudah banyak bentuk-bentuk yang beragam dari bangunan masjid. Misalnya, di wilayah Nusantara saja seperti di Masjid Demak, kita melihat masjid dibangun dengan bentuk atap limas bertumpuk. Di India, masjid yang konon pertama kali dibangun, bentuknya saat itu mengikuti model bangunan kuil Budha, agar tidak menimbulkan konflik sosial dengan masyarakat India yang waktu itu masih mayoritas beragama Hindu dan Budha. B

ahkan seperti dikutip dari buku “Arsitektur yang Lain: Sebuah Kritik Arsitektur”, kubah (dome) yang saat ini banyak diadopsi oleh seluruh masjid hampir di banyak tempat di dunia, pada awalnya adalah arsitektur yang digunakan Gereja Katolik Timur, salah satunya Haghia Sopia, yang sempat menjadi masjid setelah sebelumnya adalah gereja katolik, dan kini dijadikan Museum saja. Ini berarti kubah tidak bersumber dari tempat Nabi Muhammad berasal, jazirah Arab. Kubah baru masuk ke wilayah Islam abad ke-12. Sampai saat ini, bentuk kubah juga masih digunakan di beberapa Gereja Kristen seperti di Gereja Vatikan.

Menara justru lebih lama lagi. Menara baru masuk ke dalam arsitektur masjid pada masa Dinasti Umayyah di wilayah Syam. Besar kemungkinan, orang Islam waktu itu hanya mengubah fungsi Menara yang pada awalnya menjadi tempat Api yang disembah kaum Majusi (karena itu disebut minaarah, yang secara bahasa berarti tempat api), menjadi mi’dzanah (tempat dikumandangkannya Azan).

Mendiang Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub, ahli hadis Indonesia, pernah menyampaikan dalam ceramah bertema “Sarasehan Seniman & Budayawan Islam” hal yang sama. Ia bahkan menyarankan justru sebaiknya ketika seseorang hendak membangun masjid di Bali, yang membangun harusnya membangun menyesuaikan dengan arsitektur umumnya di Bali. Beliau menegaskan kalau kubah jelas awalnya adalah bentuk arsitektur Gereja, yang kemudian diadopsi oleh Kesultanan Utsmani setelah mereka melihat megahnya Hagia Sophia. Karena itulah, kini kita melihat di banyak negara Arab sekarang masjid rata-rata memiliki kubah.

Saya kira, beberapa catatan diatas menjadikan persoalannya menjadi jelas, agar kita tidak mudah menuduh. Yang tentu saja tidak bisa dikira-kira adalah, perancangnya sudah menyatakan apa makna bangunan yang dirancang. Ini sudah menjadi dalil yang kuat. Dan lebih utama lagi, niat pembangunanya adalah untuk tempat ibadah, kepada Allah, bukan yang lain.

2 KOMENTAR

  1. […] Pertama, mihrab dari abad 1 Hijriah. Sejak didirikannya, masjid Uqbah bin Nafi telah mengalami banyak perbaikan dan perluasan. Seperti yang dilakukan oleh Hasan bin Numan (80 H) , Basyar bin Sofwan (105 H), Yazid bin Hatim (155 H) dan Ziyadatullah bin Aghlab (221 H). Uniknya, semua perombakan tersebut dilakukan tanpa mengubah mihrab masjid yang dikenal dengan Mihrab Uqbah. Mihrab ini dibangun oleh Uqbah bin Nafi’ pada tahun 50 H dan masih bertahan sampai sekarang.  Hal tersebut untuk mengenang jasa – jasa  Uqbah terutama saat pertama kali menentukan arah kiblat masjid tersebut. (Islam Tak Membatasi Bentuk Arsitektur Masjid) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here