Islam Menolak Nepotisme

1
1168

BincangSyariah.Com- Dalam Islam, setiap orang berada dalam kesamaan dan kesetaraan derajat di sisi Allah. Artinya secara hakikat, kita semua sama tidak dipisahkan oleh sekat perbedaan.Nilai-nilai kesetaraan dalam Islam sejatinya berkaitan dengan usahanya sendiri. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an dengan laysa lil insani illa ma sa’a (QS. an-Najm: 39). Begitulah, di mana mulanya, kita sama-sama memiliki hak untuk mendapatkan dan mencapai sesuatu. namun, keadaan sosial serta budaya masyarakat yang buruk menyebabkan ide kesamaan dan kesetaraan itu mulai memudar. Parahnya, di hadapan kekuasaan manusia, kita selalu disekat oleh sisi ketidaksetaraan.

Sikap nepotisme adalah satu di antara contoh-contohnya. Sikap ini diartikan dengan sikap mementingkan seseorang untuk menduduki sebuah jabatan struktural karena memiliki hubungan kekeluargaan. Sikap ini bisa jadi lahir dari budaya patriarki yang mengakar, atau karena hubungan kekerabatan seperti sanak-dun sanak merupakan state of ideas yang membentuk pola kedekatan dari aspek emosional sehingga memengaruhi cara untuk mengambil kebijakan dan penentuan posisi jabatan.

Dalam sejarah masyarakat arab pra-Islam, tradisi nepotisme masih mengakar kuat. nepotisme berada di bawah sistem ashabiyyah (solidaritas kesukuan). Pola pengisian jabatan di suku (clan), qabilah (regent) ditunjuk oleh kepala suku yang sangat kharismatik dan kuat dari kemampuan berperang. Pada konteks inilah, term ashabiyyah awalnya diartikan dan menemukan bentuk defenisinya yang konkrit.

Pada masa awal kedatangan Islam, dalam struktur sosial-budaya klan yang kian menguat di mana itu tak bagus untuk membangun kesatuan umat lewat ide kesetaraan, maka Nabi Muhammad Saw memilih soft strategi dalam bentuk politik bahasa untuk meredam ketegangan antara klan. moment itu datang ketika, Nabi Muhammad Saw diperintahkan untuk hijrah ke Madinah. Orang-orang yang berhijrah yang sebelumnya berasal dari bermacam-macam klan disebut muhajirin, Sedangkan klan-klan yang mengulurkan tangan kepada para muhajirin disebut anshor (penolong).

Baca Juga :  Cikal Bakal Politik Identitas dalam Sejarah Islam

Dengan begitu, pada hakikatnya, efek dari pola kekerabatan ini hanya mungkin ditolak jika tidak diimbangi oleh kapabilitas dan kemampuan tertentu. Pada aspek pengisian jabatan struktural di pemerintahan pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, model pengambilan kebijakan dan pemosisian hakim/ kepala daerah diberikan kepada sanak familinya. Tetapi pemosisian jabatan itu diawali oleh suatu seleksi khusus yang ditunjuk oleh khalifah. dalam konteks sekarang mungkin dikenal fit and proper test.

Nepotisme adalah sebuah efek negatif dari pola kesukuan klasik di abad pra Islam. sedangkan kita hidup di zaman dewasa, yang menghendaki keterbukaan kesempatan bagi setiap orang. Nepotisme pun harus dihindari dalam penegakan hukuman, artinya adanya kesetaraan di depan hukum, sejatinya juga diterapkan oleh baginda nabi Muhammad Saw. ini dibuktikan lewat sabda, law kanat Fatimata sariqat, la qata’tu yadaha,“seandainya Fatimah mencuri, maka saya sendiri yang akan menegakkan hukuman padanya”. Bukankah kita selalu mendaku mengikuti sabda, dan laku Nabi Muhammad Saw ? and then…. wallahu a’lam bi al-shawab.

1 KOMENTAR

  1. Nepotisme sangat di anjurkan di dalam Islam. Sama seperti Dubes² kenapa harus kerabat² dekat yg di angkat menjadi dubes.
    Amerika sendiri sampai sekarang masih selalu Nepotisme, Presiden George Bush punya anak George Bush junior sempat jadi Presiden juga, Presiden Trumph mengangkat kerabat²nya sampai anaknya jadi pejabat di kabinet, karena apa ?

    Karena jarang keluarga & kerabat dekat itu saling menghianati. Begitu juga baginda Nabi. Jangan karena hukuman di samakan dengan jabatan. Tapi hukuman harus di samakan dengan keadilan. Sangat tidak nyambung mengambil dalil yg hukuman di samakan kepada.jabatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here