Islam Menentang Rasisme dan Diskriminasi

4
2618

BincangSyariah.Com – 21 Maret lalu, ditetapkan Dewan Keamanan PBB sebagai Hari Anti Diskriminasi Rasial sedunia. Peringatan ini dilatar belakangi terjadinya tragedi Sharpeville, yakni peristiwa ditembaknya para demonstran kulit hitam yang menolak kebijakan Aphartheid di Afrika Selatan pada tahun 1960. Dalam peristiwa tersebut massa aksi berkumpul sekitar 5000 sampai 7000 orang, dengan korban jiwa 69 orang dan ratusan lainnya luka-luka.

Pasca dihapuskannya politik Apartheid dengan naiknya Nelson Mandela sebagai Presiden di Afrika Selatan, pada tahun 1994 hingga sekarang, setiap tanggal 21 Maret diperingati hari anti diskriminasi rasial sedunia.

Kita tahu bahwa sejak Nabi Muhammad saw diutus para pengikut awal berasal dari kalangan mustad’afin, orang miskin dan budak. Sebut saja misalnya Bilal bin Rabah dan Ammar bin Yasir.

Al-Quran mengajarkan bahwa tidak ada yang membedakan antara ras, warna kulit, dan identitas primordial lainnya antara satu dengan yang lainnya. Semuanya sama dan setara di hadapan Allah swt. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Q.S al-Hujurat: 13,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.

Ayat di atas seringkali dikutip oleh para ulama sebagai argumentasi bahwa tidak ada yang perlu diistimewakan dari seseorang, apalagi karena harta atau rupanya, melainkan hanya takwa kepada Allah swt.

Farid Esack, seorang Professor dan juga aktivis anti-Apartheid dari Afrika Selatan, menegaskan bahwa takwa merupakan kata kunci bagi perjuangannya menegakkan Islam progresif anti-diskriminatif di Afrika Selatan.

Bagi Esack, ketika al-Quran menggunakan diksi takwa, maka ia selalu berkaitan dengan keimanan dan interaksi sosial semisal berbagi dengan orang lain (al-Lail [92]: 5), menepati janji (Ali Imran [3]: 76), dan terutama berbuat baik kepada orang lain (Ali Imran [3]:172, al-Nisa [4]:126). Takwa adalah manifestasi komitmen untuk melakukan transformasi sosial sekaligus representasi bagi perbaikan secara individu.

Jika kita kembali pada surat dalam al-Hujurat [49]: 13, maka hal ini juga berkorelasi dengan sabda Rasulullah saw yang tercantun dalam Sahih Muslim:

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ، وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُم

Sesungguhnya Allah tidak melihat badan dan rupa kalian, melainkan Dia melihat hati kalian.

Dari keterangan-keterangan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad saw. sedari awal telah mengajarkan kepada umatnya untuk menolak segala bentuk diskriminasi, termasuk diskriminasi atas dasar ras, warna kulit, dan lain sebagainya.

Oleh karenanya, peringatan Hari Anti-diskriminasi Rasial Internasional bukan saja perlu diperingati atas dasar sejarah kelam Afrika Selatan, akan tetapi hal ini juga telah diajarkan oleh Rasul kita, Muhamamad Saw., yang telah berjuang menghapuskan segala bentuk diskriminasi dan rasisme. Wallahu A’lam.  

4 KOMENTAR

  1. […] George Floyd (46 tahun) tewas tidak bisa bernafas karena diinjak lehernya dengan lutut salah seorang aparat kepolisian di sana yang bernama Derek Chauvin. Tewasnya Floyd dilatarbelakangi oleh dugaan penipuan dengan modus membeli barang di sebuah toko kelontong dengan uang palsu pada 25 Mei 2020 malam waktu setempat. (Baca: Islam Menentang Rasisme dan Diskriminasi) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here