Islam Melarang Agar Jangan Berkeluh Kesah

0
1360

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah dan apabila mendapatkan kebaikan, ia amat kikir. (QS Al-Ma‘ârij [70]: 19-21)

 

BincangSyariah.Com- Seseorang yang dapat menjalankan ibadah puasa, oleh para mubalig sering dikatakan karena mendapatkan limpahan taufik dan hidayah dari Allah Swt. Dengan de­mikian, bisa saja orang yang sehat secara jasmaniah, na­mun karena tidak mendapat taufik dan hidayah dari Allah Swt., ia tidak dapat menjalankan ibadah puasa. Dengan kata lain, kesanggupan berpuasa tidak semata-mata menjadi urus­an manusia.

Kadang-kadang, pengertian kata taufik dan hidayah­ ter­lupakan begitu saja. Ini karena kata taufik dan hidayah se­ring terdengar dan digunakan dalam berbagai kesempatan sehingga makna sesungguhnya kemudian tidak tertangkap. Kata taufik berarti “bimbingan”. Bila para mubalig biasanya me­nutup ceramah dengan perkataan bi ’l-Lâh-i taufîq wa ’l-hidâyah, maksud sesungguhnya adalah memohon bimbingan kepada Allah Swt. agar kita mendapatkan kekua­tan untuk me­­nerima rahmat Allah Swt. baik yang berupa kemudahan mau­pun kesulitan.

Tampaknya cukup mengherankan, untuk mendapat­kan kemudahan, dalam arti rezeki yang banyak, kita justru me­minta kekuatan dari Allah Swt. Alasan semacam itu sebe­nar­nya bisa kita ketahui. Banyak dari kita ini kuat mende­rita, atau dalam ungkapan kuat miskin. Akan tetapi sebalik­nya, tidak sedikit dari kita yang tidak kuat menerima kemu­dah­an, di antaranya orang tersebut kemu­dian menjadi lupa diri dan lupa kepada yang memberi rezeki, yakni Allah Swt.

Itulah sebabnya, bisa saja kebaikan dan kemudahan da­lam bentuk limpahan rezeki yang diberikan oleh Allah Swt. kepada kita, jangan-jangan merupakan cobaan dan uji­an apakah kita kuat menerimanya, mensyukuri, atau malah kita menjadi lupa diri dan sombong. Seperti kita pahami se­belumnya, manusia diciptakan oleh Allah Swt. sebagai ciptaan dan karya terbaiknya. Manusia diberi kekuatan un­tuk dapat berlaku melebihi derajat malaikat, seperti yang di­con­tohkan dalam peristiwa Mikraj, tetapi manusia juga di­beri kelemahan yang berupa hawa nafsu yang dapat men­jatuh­kan dirinya ke derajat yang paling rendah, bahkan me­le­bi­hi binatang.

Di antara kelemahan manusia itu adalah seperti yang dikata­kan dalam Al-Quran bahwa manusia adalah makhluk yang mudah berke­luh kesah. Seperti dalam sebuah ayat yang berbunyi, Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat ke­luh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh ke­sah dan apabila mendapatkan kebaikan, ia amat kikir (QS Al-Ma‘ârij [70]: 19-21).

Selain potensi bawaan yang mudah menjadikan ber­keluh kesah kalau ditimpa kesulitan, sifat manusia pun amat mudah menjadi sombong apabila mendapatkan kemudah­an. Dalam kasus ini, dalam kehidupan sehari-hari, sering ter­dengar ungkapan-ungkapan seper­ti, “Coba kalau tidak ada saya” atau “Ini kan berkat usaha saya.” Seluruhnya meng­indikasikan bahwa kesuksesan dan keberhasilan diklaim datang dari dirinya. Dari usahanya, inilah contoh sifat som­bong.

Baca Juga :  Puasa dan Pembangunan Kepedulian Sosial

Adapun kata sombong dalam bahasa Arab diistilahkan dengan ungkapan istighnâ, yang artinya tidak membutuhkan pertolongan pihak lain. Cerita tentang kesombongan dapat ditemukan dalam Al-Quran yang diilustrasikan lewat cerita Nabi Musa a.s. Nabi Musa adalah sosok seorang nabi yang sa­ngat cerdas dan fisiknya juga sangat kuat karena sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan istana Raja Fir’aun. De­ngan sendirinya, kebutuhan gizi atau nutrisinya terpenuhi.

Pada suatu hari, Musa ditanya oleh salah seorang peng­ikutn­ya, “Apakah ada orang lain di dunia ini yang lebih pin­tar, lebih alim daripada diri Anda?” Nabi Musa pun menja­wab bahwa tidak ada orang yang lebih alim daripada dirinya. Rupanya jawaban Musa membuat Allah Swt. murka. Dika­bar­kan, diwahyukan kepada Na­bi Musa, sekaligus sebagai tegur­an atas kesombongannya, bahwa ada orang lain yang lebih alim dari­pada Musa. Nabi Musa pun bertanya dan ingin sekali mem­buk­ti­kan apakah benar orang ta­di lebih alim daripada dirinya. Sesuai dengan petunjuk Allah, Nabi Musa pun melakukan perja­lan­an. Cerita tersebut digambar­kan Al-Quran dalam Surah Al-Kahfi.

Musa pun bertemu dengan orang yang bernama Khidir—kemudian dikenal dengan nama Nabi Khidir—dan bertanya, “Be­tul­kah Anda adalah orang yang dikabarkan oleh Allah Swt. se­ba­gai orang yang lebih pintar dari­pada saya?” Khidir menjawab bahwa dia tidak mengetahui hal yang berkaitan dengan soal ter­sebut. Musa menjadi penasaran dan ingin membuktikan kealim­an­nya. Untuk menerima dan me­menuhi keinginan Musa itu, Khi­dir menyampaikan sebuah persyara­tan sangat sederhana, yakni agar Musa tidak bertanya apa-apa atas hal yang terjadi selama perjalanan.

Ternyata, setelah melalui beberapa rintangan, terbukti Mu­sa tidak mampu menahan kesabarannya dan bertanya ke­pada Khidir, meminta penjelasan mengapa semua itu di­lakukan. Akhirnya Khidir pun menjelaskan alasan-alasan dia melakukan tindakan tersebut. Dengan sendirinya, Musa dinyatakan tidak berhasil melewati ujian yang dibuat Khidir.

Selain sifat sombong, yang diidap manusia adalah sifat rasa dirinya tidak sempurna sehingga sering menimbulkan penyakit psikologis yang dikenal dengan nama rendah diri. Karena dorongan rasa rendah diri tersebut, seseorang seti­dak­nya akan terdorong membuat kompensasi atau pelam­pias­an. Tindakan itu antara lain, manusia suka dipuji-puji atau senang pujian. Dan karena pujian itulah, kemudian ma­nusia akan mudah digelincirkan seperti yang banyak terjadi.

Seperti diketahui, pujian sering membuat orang lupa diri dan pada akhirnya membuat orang tidak dapat mengen­dali­kan diri. Banyak tokoh dan pemimpin yang jatuh karena mereka mabuk pujian. Padahal, ibarat pepatah asing yang sa­ngat populer, pujian itu mirip parfum yang menebarkan bau harum untuk dihirup dan, bukan kemudian untuk di­minum dengan asumsi biar lebih wangi, yang justru malah berakibat fatal. Ungkapan tersebut berbunyi, “Praise is a per­fume to smell but not to swallow.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Menangisnya Orang-Orang Shalih

Dalam perjalanan sejarah dapat ditarik asumsi bahwa dalam batasan tertentu, pujian akan dapat melahirkan sema­ngat kultus individu, seperti yang terjadi pada masa Demo­krasi Terpimpin. Kultus individu, ternyata, dalam sejarah t­e­lah banyak menghan­curkan banyak tokoh dunia, seperti yang digambarkan oleh Michael Hart yang menulis buku Se­ratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Per­adab­an Dunia.

Dia memilih Nabi Muhammad saw. sebagai tokoh no­mor satu dengan alasan ajaran Nabi Muhammad hingga sam­pai saat ini terbuk­ti memiliki kadar autentisitas, kemurnian yang paling tinggi dan jauh dari kultus individu. Dalam hal kul­tus individu, Nabi Muhammad saw. jauh-jauh justru me­nga­takan kepada umatnya bahwa dirinya hanyalah manusia biasa, “Anâ ‘abdun wa rasûlun.”

Sebagai orang beriman, umat Islam diajarkan untuk ti­dak berlaku sombong, tapi juga dilarang berendah diri. Orang beriman hendaknya berlaku rendah hati kepada se­sa­ma bukan rendah diri, sebagaimana dalam Al-Quran di­se­butkan, Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman. (QS âli ‘Im­rân [3]: 139).

Kembali menyinggung hidayah atau petunjuk dari Allah Swt. Hidayah tidak diberikan secara gratis, tapi hida­yah membutuhkan pengkondisian ruhani, di antaranya ada­lah mampu menjauhkan diri dari rasa sombong yang dapat menghalangi datangnya hidayah.

Hidayah juga tidak dicapai berdasarkan tinggi dan luas­nya ilmu pengetahuan atau kualitas intelektualitas. Akan te­tapi sekali lagi, hidayah berkaitan erat dengan penyiapan diri, kemauan menerima datangnya hidayah itu sendiri. Ma­nu­sia sering kali diliputi oleh topeng-topeng yang berupa em­­­­­bel-embel nama atau gelar, jabatan, yang kadang malah menghalangi dirinya mendapatkan hidayah.

Kisah yang menegaskan bahwa hidayah sekali-kali bu­kan hal yang diberikan secara gratis atau cuma-cuma, tanpa melalui muja­hadah, spiritual exercise, terdapat dalam Alqur­an. Digambarkan usaha yang dilakukan oleh Nabi Muham­mad saw. dengan penuh ambi­sius agar menjelang ajal, pa­man­nya, Abu Thalib, dapat memeluk Islam.

Ternyata, meski Nabi Muhammad sudah berusaha mak­simal agar Abu Thalib mendapatkan hidayah dan memeluk Islam pada akhir hayatnya, Allah Swt. justru menegur Nabi Mu­hammad dengan ungka­pan, Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang kamu ka­sihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dike­hendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (QS Al-Qashash [28]: 56).

Baca Juga :  Tafsir: Islam sebagai Agama Hanif

Dari kasus tersebut dapat dilihat bahwa hidayah bisa dipero­leh atau masuk kalau memang dalam diri seseorang, yak­ni ruha­niahnya, ada kesiapan untuk menerimanya. Dan yang demikian itu, seperti dalam ayat tersebut ditegaskan, Allah Swt. Maha Mengeta­hui siapa-siapa saja hamba-Nya yang mau menerima petunjuk-Nya.

Kembali berkenaan dengan kasus ilmu. Tidak menjadi alasan bahwa seseorang dengan ilmu yang luas kemudian dipastikan akan mendapat petunjuk, itu memang benar. Na­mun begitu, juga perlu diingat bahwa ilmu menjadi sangat pen­ting untuk memahami pesan-pesan agama yang dapat membawa seseorang ke dalam ketakwaan. Seperti dalam ha­dis Nabi yang sangat masyhur dikatakan, “Ketahui­lah bah­wa tiada tuhan selain Allah.” Untuk dapat mengetahui, dibu­tuh­kan pencarian, penelitian, refleksi, dan seterusnya. Di si­ni, ilmu pengetahuan menjadi sangat penting sebagai modal utama.

Berpuasa merupakan sarana yang sangat baik untuk meng­asah dan melatih ketajaman ruhaniah karena dengan berpuasa, ruhani menjadi sangat sugestif. Namun juga perlu dipahami, sesungguhnya puasa itu sendiri ibarat pedang ber­mata ganda. Di satu sisi, ber­puasa dapat mendatangkan hal-hal yang bersifat positif dan ber­manfaat, seperti puasa Rama­dan yang diperintahkan oleh Allah Swt.

Namun di sisi lain, berpuasa juga dapat membawa ke per­buatan jahat. Hal semacam itu terjadi dalam budaya Sa­ma­nisme, yang menjadikan puasa sebagai persyaratan untuk mendapatkan kekebalan atau ilmu magic, ilmu magis. Ilmu ter­sebut ada yang black magic, yang selalu mendorong ke ke­ja­hat­an dan perbuatan dosa, ada pula white magic yang meng­ajak orang ke kebajikan.

Di masyarakat kita juga dikenal puasa wishâl atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah pati geni—yang biasanya menjadi prasyarat utama untuk mendapatkan kesaktian atau kekeba­lan. Puasa dalam bentuk pati geni tersebut—puasa secara terus-menerus dengan tidak berbuka, bahkan ada yang sampai 40 hari—sesuai dengan ajaran Islam dila­rang karena bersifat melawan nature kita dan menyengsara­kan tubuh kita.

Ibadah puasa dapat menumbuhkan kepekaan dan ke­siap­an spirit­ual dan itu menjadi momen atau saat yang kon­dusif untuk menerima hal-hal yang supranatural atau kegaib­an. Dengan menjalankan ibadah puasa Ramadan, orang beriman akan dapat meningkatkan derajat keimanan dan ketakwaannya karena jiwanya semakin bertam­bah sugestif, responsif, dan bertambah dekat secara ruhaniah dengan Allah Swt. Kondisi yang demikian itulah yang akan dapat memudahkan datang dan masuknya hidayah Allah Swt. ke dalam jiwa seseorang.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here