Islam dan Kebangsaan: Mengembangkan Agama Islam Sebagai Sumber Etika

0
10

BincangSyariah.Com – Seringkali isu seputar negara dan agama menjadi perbincangan hangat yang kemungkinan besar pembahasannya seperti tak pernah ada habisnya. Ini misalnya isu yang ramai diperbincangkan masyarakat belakangan ini, yaitu hubungan antara agama dan negara. Misalnya, apakah status negara harus berdasarkan negara Islam, adalah sebagai bukti konkretnya. Islam dan kebangsaan apakah dapat bersatu?

Timbulnya perbedaan pandangan tersebut seringkali menimbulkan ketegangan dan atau konflik. Hal ini bertentangan dengan prinsip dasar dari ajaran-ajaran agama yang berlaku universal, yaitu tentang prinsip persamaan, keadilan, penghormatan terhadap hak-hak orang lain, dan sebagainya.

Agama lahir ke dunia ini bukan berarti bebas nilai (no value free). Ia hadir ke muka bumi secara ideal untuk menebarkan benih-benih kebaikan kepada pemeluknya. Akan tetapi, ajaran ideal setiap agama tersebut seringkali bertolak belakang dengan realitas keberagamaan masyarakat. Yang terjadi justru sikap saling mencurigai dll.

Hal tersebut menarik untuk diangkat sebagai tema pembahasan sehingga permasalahan setidaknya menemukan gambaran solusinya. Persoalan ini bukanlah persoalan yang mudah. Sudah banyak para pemuka agama ataupun cendekiawan yang berusaha mempertemukan benang merah dari akar masalah, akan tetapi hasilnya jauh panggang dari api.

Dalam pandangan Rumadi, bahwa hal yang tersebut bisa terjadi karena masing-masing pemeluk agama melakukan klaim kebenaran (truth claim) bahwa agamanyalah yang paling benar sementara yang lain salah. Sikap saling curiga dari masing-masing agama itu berawal dari sini. Ini penting dilakukan penelitian lebih lanjut mengingat sikap saling mencurigai apalagi sampai terjadi konflik itu pada hakikatnya bertolak belakang dengan misi agama yang sesungguhnya.

Negara Sebagai Penyeimbang

Di Indonesia, terdapat beragam jenis suku, budaya, adat-istiadat, bahkan agama, yang apabila tidak dibina dengan baik maka akan muncul persepsi yang berbeda-beda sehingga menimbulkan ketegangan-ketegangan dari masing-masing individu ataupun kelompok. Pembinaan itu harus dilakukan secara sistemik dan berkesinambungan mengingat bahwa manusia itu memiliki kepentingan-kepentingan yang berbeda-beda pula. Mereka memiliki kecenderungan untuk melakukan apa saja yang ia sukai meskipun dengan cara yang tidak dibenarkan.

Baca Juga :  Humor: Empat Kelompok Berdebat Soal Lampu Mati

Apalagi ketika masing-masing individu sudah berafiliasi kepada salah satu organisasi tertentu, maka mereka akan semakin kuat memperjuangkan kepentingan tersebut. Maka penting dalam sebuah organisasi ini harus pula memasukkan nilai-nilai etis yang sistemik untuk mereposisi peran agama di masyarakat dan terorganisir.

Ada sebuah keyakinan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang baik, harmonis, dan teratur yaitu diperlukan sebuah langkah strategis. Dengan demikian diperlukan intervensi negara, karena tujuan dari negara di sini adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat guna mewujudkan kehidupan masyarakat yang bahagia.

Ketika negara tidak lagi memerankan fungsinya sebagai penyeimbang (balance) dan tidak dapat mengkoordinir dengan baik, maka yang akan terjadi adalah kesan negara yang buruk. Kehadiran negara sebagai realitas tersebut, dengan membimbing warganya menuju kebahagiaan, akan mustahil bagi negara menjadi walfare state, yaitu negara yang dapat membahagiakan kehidupan rakyatnya.

Ajaran Agama Tentang Perikemanusiaan

Sebelum mengakhiri artikel ini penulis mengajak pembaca merenung sejenak kenapa kecenderungan berbuat sesuatu yang samasekali bertentangan dengan tujuan agama itu masih terjadi? Saya sangat tertarik dengan tulisan Cak Nun–sapaan akrab Emha Ainun Najib–dalam komentar pada buku yang diterjemahkan dari Dustur Umat Islam: Dirasat fi Usul al-Hukm wa Thabi’atihi wa Ghayatihi ‘Indal Muslimin karya Husain Mu’nis, bahwa Nabi Muhammad Saw itu diutus untuk umatnya, untuk kita semua, bukan untuk membentuk otoritas keagamaan untuk mengawasi hidup masyarakat, akan tetapi kehadirannya untuk memaripurnakan akhlak yang luhur. Seperti sudah sangat jelas pernyataan substansialnya: “Sesungguhnya aku diutus oleh Tuhan untuk mengutamakan kemuliaan akhlak“.

Pesan moral yang bisa diambil di sini adalah tentang ajaran-ajaran substansial dari agama Islam itu sendiri. Agama Islam menurut K.H. Sahal Mahfudz memiliki ajaran syariat dan tasawuf, yang keduanya memiliki hubungan dan simbiosis yang sangat erat dan saling mempengaruhi. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Apabila dipisahkan antara keduanya, atau hanya menggunakan salah satunya maka keimanan seseorang akan menjadi tidak seimbang dan tidak stabil. Dengan demikian, di sini kehadiran Islam mengajarkan kepada umatnya tentang keteladanan moral dan atau etika berupa kasih sayang, hormat menghormati satu sama lain dll. Ketika syariat dipisahkan dari etika, maka yang akan terjadi justru manusia tidak lagi memerankan fungsinya sebagai Khalifah untuk menebarkan kedamaian di muka bumi. Justru itu yang terjadi adalah sikap dan perilakunya jauh dari kearifan dan kebijaksanaan.

Baca Juga :  Menghitung Potensi Zakat dan Wakaf di Indonesia

Sesungguhnya agama Islam juga memiliki pesan-pesan kemanusiaan. Artinya, semua manusia dijamin keamanannya. Setiap orang harus dihormati darahnya, hartanya, keluarganya, dan status sosialnya.

Ada penjelasan dari Rasulullah Saw. yang dikutip oleh Habib Ali, yang disampaikan versi lengkapnya antara lain sebagai berikut:

(16.402) “Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman berkata; telah menceritakan kepada kami Ismail bin ‘Ayyas dari Yahya bin Abu ‘Amr Al-Syaibani dari Abu Sallam Al-Dimasyqi dan ‘Amr bin Abdullah, sesungguhnya keduanya telah mendengar Abu Umamah Al-Bahili yang menceritakan dari hadis ‘Amr bin Abasah Al-Sulami, dia berkata, ‘Saya sangat membenci tuhan-tuhan kaumku pada masa jahiliah’, lalu dia menyebutkan hadisnya.

(‘Amr bin ‘Abasah As-Sulami) berkata; lalu saya bertanya tentang keberadaan Nabi, dan saya pun mendapatkan Nabi dalam keadaan menyembunyikan diri dari keramaian orang. Saya berusaha menemuinya dengan cara menyamar hingga saya bisa menemuinya, saya ucapkan salam kepadanya, lalu saya bertanya kepadanya, ‘Apa (status/ kedudukan) Anda?’ Beliau menjawab, ‘Nabi’. Saya (Amr bin ‘Abasah) berkata; ‘Apa Nabi itu?’

Beliau menjawab, ‘Rasulullah’. Saya bertanya, ‘Siapa yang mengutus Anda?’ Beliau menjawab, ‘Allah Azzawajalla’. Saya bertanya, ‘Dengan apa?’ Beliau menjawab, ‘Agar kamu menyambung silaturahmi, melindungi darah, mengamankan jalan, berhala dihancurkan, Allah semata yang disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya sesuatu pun’. Saya berkata, ‘Sangat bagus risalah yang karenanya Anda diutus.

Saya bersaksi sesungguhnya saya beriman kepada Anda, dan saya memercayai Anda, apakah saya harus tinggal bersama Anda atau bagaimana pendapat Anda?’. Maka beliau bersabda, ‘Kamu telah melihat kebencian orang-orang atas apa yang aku bawa, maka tinggallah di keluargamu. Jika suatu hari nanti kamu mendengarku dan aku telah keluar dari tempat persembunyianku, datangilah aku’, lalu dia menyebutkan hadis secara lengkap.”

Baca Juga :  Bencana Alam: Antara Azab dan Tanda Kecintaan Allah kepada Hamba-Nya

Hadis ini penulis sitir dari tulisan Prof. Nadirsyah Hosen yang mengutip pendapat Habib Ali tentang kemanusiaan mendahului sikap religius (al-Insaniyyah qabla Al-tadayyun). Pesan yang disampaikan dalam hadis tersebut menurut Gus Nadir–sapaan akrab Prof. Nadirsyah Hosen–adalah berkaitan dengan pesan-pesan kemanusiaan.

Sungguh, problem kemanusiaan pada masa kini masih terlihat minim. Konflik, misalnya, masih tetap saja terjadi di mana-mana. Sementara itu, pesan pada hadis tersebut secara eksplisit menekankan betapa pentingnya menyentuh sisi kemanusiaan itu terlebih dahulu, dengan ajaran menyambung silaturahmi, melindungi darah sesama manusia, dan mengamankan jalan raya (Nadirsyah Hosen, 2020: 132-133).

Dengan demikian, baik negara maupun agama sebenarnya sama-sama memiliki misi yang serupa, bahwa keduanya menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme demi terlaksananya kedamaian, kerukunan, hormat menghormati serta keamanan bersama di muka bumi ini. Merujuk pada UUD 1945 pasal 29, bahwasanya negara telah berusaha memberikan yang terbaik bagi warga dengan memelihara budi pekerti dan cita-cita moral rakyat.

Prof. KH. Abdul A’la–saya menyebutnya kiai karena saya masih berguru kepadanya–menulis, “demokrasi substansial perlu dikembangkan dan dilabuhkan di tingkat lokal maupun global”.

Dalam artian, melalui pengembangan demokrasi itu pemerintah diharuskan mengambil kebijakan secara kolektif dan adanya penghargaan serta penghormatan terhadap suara rakyat.

Menurut beliau, suara rakyat harus dihargai. Sebab, tanpa masyarakat yang mandiri dan berkeadaban, kata beliau, negara yang benar-benar demokratis sulit untuk berkembang. Justru yang terjadi malah sebaliknya, yaitu tumbuhnya negara yang berorientasi kepada persoalan seputar kekuasaan.

Jadi, persoalan agama dan negara sudah klir. Bentuk sistem pemerintahan pun tak perlu lagi dipersoalkan. Sebab, letak masalahnya bukan pada persoalan institusionalnya, melainkan pada ide dan motivasi orang per-orang untuk berbuat sesuatu pada negaranya. Tinggal PR kita hari ini, dan tentu saja generasi selanjutnya, bagaimana ide dan motivasi Anda untuk negara tercinta ini? []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here