Ironi Sugi Nur: Mantan Preman Dipuja, Ulama Beneran Dihina

17
10244

BincangSyariah.Com – Lagi-lagi, dengan wasilah media sosial kita lebih cepat mengetahui sesuatu yang terjadi. Kali ini yang terjadi adalah (Ust.) Sugi Nur, seorang yang mendaku ustaz dan biasa dengan terang-terangan mencela tokoh politik, kembali menimbulkan perdebatan pada ceramahnya di Medan, Sumatera Utara. Setelah berceramah, Sugi Nur kemudian membuka pertanyaan.

Ada tiga orang setidaknya yang bertanya, dan umumnya memberi masukan kalau ceramah Sugi Nur lebih dipenuhi dengan caci maki terhadap orang lain daripada menjelaskan ajaran-ajaran Islam. Misal, ada penanya pertama yang memberikan masukan bahwa bukankah Islam sebagai agama rahmatan li al-‘aalamiin (kasih kepada seluruh alam). Kemudian, Sugi Nur yang biasa disebut Gus Nur justru mempertanyakan “kenapa hanya anda yang terganggu, padahal jamaah lain tidak terganggu”. Kemudian, penanya itu memilih keluar disertai pekikan-pekikan takbir dan ungkapan dilarangnya menginterupsi dakwah seorang ustaz.

Kemudian, muncul penanya kedua yang menyatakan dirinya sebagai kader Ansor. Disini mungkin bisa dikatakan perselisihannya lebih kuat. Penanya yang menyatakan sebagai kader Ansor ini mencoba memberikan pandangan kalau Islam Nusantara memang bisa terlihat. Ia mengatakan kalau model keislaman di Indonesia (bukan merubah syariat yang dimaksud), berbeda dengan keislaman di wilayah lain. Kemudian, sekelompok orang merebut pengeras suara dari penanya tadi, bahkan ia dibawa untuk bertanya di hadapan Sugi Nur langsung. Orang yang menyatakan sebagai kader Ansor tadi kemudian mengatakan, “saya meminta satu saja kaidah ushul (ushul fikih) yang mengharamkan (cara berpikir) Islam Nusantara!”

Yang mencengangkan, Sugi Nur justru menyatakan kalau ia tidak paham kaidah fikih, ushul fikih, bahkan kitab kuning. Ia bahkan menegaskan kalau dirinya hanya mantan preman dan baru menyadari pentingnya agama setelah anaknya berusia dua tahun.

Baca Juga :  Belajar Tauhid: Ternyata Inilah Isi Kitab Injil Nabi Isa

Baginya, ia menyatakan untuk mengkritik Islam Nusantara cukup hanya menyerahkan kepada opini masyarakat. Ditambah lagi, ia kemudian menyimpulkan kalau ini yang disebut dalil ‘aqli (dalil akal) dan kearifan lokal. Ia juga menambahkan bahwa Islam Nusantara baru ada sejak rezim ini (maksudnya Pemerintahan Jokowi). Ciri-ciri Islam Nusantara ini menurutnya diantaranya azan dan iqamah di gereja.

Apa yang dapat kita simpulkan dari pandangan-pandangannya ? Ia mengakui kalau dirinya dulu hanyalah seorang preman, bahkan tidak mengerti kitab kuning. Ia, masih dalam forum ceramah yang agaknya pongah dengan mengatakan “saya tapi bisa menggaji orang-orang yang bisa membaca kitab kuning!”. Tanpa bermaksud merasa lebih baik, tapi mengapa beliau tetap merasa di posisi yang paling benar ketika ia mengakui sendiri kalau ia tidak memiliki perangkat untuk memahami ajaran agama dengan baik?

Kemudian, tentang Islam Nusantara. Tentu sebagai sebuah ide, ada yang setuju dan ada yang tidak. Namun, dengan menyerahkan benar tidaknya sesuatu hanya berdasarkan voting jamaah, tentu itu merupakan bentuk pencarian kebenaran yang terburuk. Sugi Nur hanya memanfaatkan psikologi masyarakat yang sebenarnya dalam posisi yang sudah didorong dengan rasa tidak suka dengan Islam Nusantara, kemudian mencari pembenaran dari psikologi masyarakat yang dibalut rasa benci. Tidak ada jawaban keilmuan yang diupayakan olehnya, meskipun menggunakan embel-embel dalil ‘aqli dan kearifan lokal (istilah terakhir bagi kami paling membingungkan, bukankah Islam Nusantara justru sangat konsen dengan kearifan lokal). Tidak jelas juga apa yang ia maksud dengan kearifan lokal.

Bahkan Sugi Nur tidak mencoba bertanya kepada pihak NU secara normal, apa yang mereka kehendaki dengan Islam Nusantara. Namun, mungkin langkah itu kecil sekali kemungkinan dilakukan jika cara beliau melihat sesuatu hanya berasas emosi masyarakat. Dan, hari ini perilaku seperti itu hari ini banyak terjadi di masyarakat awam.

Baca Juga :  Kriteria Utama dalam Mencari Ustadz Menurut Quraish Shihab

Saya yakin, sejatinya bisa masyarakat mau jernih melihat persoalan ini, harusnya sosok seperti Sugi Nur (Gus Nur) ini secara keagamaan tidak punya kemampuan untuk menyampaikannya sehingga sangat mungkin untuk menolaknya. Masyarakat sejatinya sudah lama tahu bahwa yang memiliki kemampuan membaca literatur keislaman berbahasa Arab, dianggap lebih baik dari yang tidak. Ini masih minus memilih mana yang menyampaikannya dengan kesejukan dan mana yang dengan berapi-api, karena ada sebagian masyarakat yang memang senang dengan pidato berapi-api. Ini perlu ulasan tersendiri, misalnya sebenarnya tema-tema dalam agama Islam ini begitu luas dan banyak yang menyejukkan. Tidak perlu dengan cara berapi-api

Bagaimanapun, lewat tulisan ini saya ingin mengajak pembaca dan masyarakat secara luas untuk menyadari pentingnya kealiman seseorang dalam menyampaikan agama, agar tidak mudah terjerumus dan mudah menghakimi. Apalagi kalau sudah sampai mengkritik dengan mengatakan munafik dan sebagainya, sementara pengkritik menyatakan kalau dirinya tidak memiliki kemampuan memahami dalil-dalil agama, yang dibuktikan dengan pernyataan « tidak ngerti kitab kuning ». Mari kita berlatih untuk meninggalkan « ustadz » yang seperti itu, dan mulai selektif dalam memilih orang yang menyampaikan ajaran Islam. Terakhir, Rasulullah Saw. pernah bersabda, seperti diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar al-Ghifari Ra.,

لا يرمي رجل رجلاً بالفسوق، ولا يرميه بالكفر إلا ارتدت عليه إن لم يكن صاحبه كذلك

“Janganlah seseorang menuduh orang lain fasik. Dan jangan ia menuduh orang lain dalam keadaan kafir, melainkah tuduhan itu akan kembali kepadanya jika yang dituduh tidak demikian.”

Wallahu A’lam

17 KOMENTAR

  1. Kalau bisa judulnya diubah dikit. Kalimat mantan preman dipuja seakan memberi arti bahwa seorang preman selamanya akan menjadi preman. Hidup ini berproses awalnya buruk bisa jadi kemudian baik dan seterusnya. Mohon maaf bukan berarti saya mendukung sugi nur, tidak! Justeru saya sangat benci cara dakwah dia dan kapasitas keilmuannya yang sangat dangkal. Tapi sekali lagi seorang yang awalnya buruk masih punya harapan menjadi baik hingga akhir hayat.

    • bapak benar, hanya dlm judul kata “mantan preman” sudah menunjuk pd sugik nur atau sejenisnya dan sedang dibandingkan dg ulama (sebenarnya) yg malah dibenci orang2 yg menjunjung sugik nur ini.

      menurut saya sugi nur blm mantan preman, hanya pindah lahan saja.

  2. Saya sangat kecewa dengan semua isi ceramahnya yang selalu mengumbar kebencian pada satu golongan.
    Itu sugik mondok dimana sih? Ceramahnya tidak pernah menenangkan hati malah bikin resah. Semoga dia mendapatkan pencerahan dan dibukakan hatinya dari kesesatan.

    • Dia gak mondok, ya makanya gak bisa menunjukkan hadis, dalil fiqih dll..

      Mondok dulu nur ke ulama NU

      #indonesia

  3. Memng skrnk bnyk ustad jadi jadian dikit dikit menyalahkan .padahal masih sedengkal ilmunya.apalagi seperti Gus Nur baca kitab kuning gk bisa malah mw menyalahkan ulama’2 besar yg sudah mondok di mana mana guru2nya alim2 semua.Sudah jelas sanadnya k rosulullah saw

  4. Skrg ini mana ulama yg berani tampil beda itulah yg dipuja, berani menentang pemerintah, berani msk k ranah politik dsb.
    Ulama bkn diikuti krn ilmunya, apalagi para pengikut bya yg gk ngerti agama.
    Kata2 takbir selalu menjadi jeda saat ketidaktauan itu trrjadi.
    Ceramah gk ada unsur aagamanya spt penceramah yg diceritakan artikel diatas justru ada jamaah yg belanya., miris dsy liatnya.
    Ulama pd sibuk berpolitik sehingga umat dibiarkan tanpa faedah ilmu .

  5. Siapa bilang Sugi nur mantan preman……dia itu justru dedengkotnya preman yg sudah tertutup hatinya untuk bertobat,kalian ngomong apa saja kl tdk sealiran dgnya pasti takkan ada bebernya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here