Investasi Emas dalam Perspektif Hukum Islam

2
2443

BincangSyariah.Com – Dewasa ini, emas merupakan salah satu produk primadona. Bahkan, dalam kurun beberapa bulan terakhir, harga jual emas merangkak naik terus, hingga tembus 800 ribu rupiah per gramnya. Karena fluktuatifnya nilai emas tersebut, maka banyak yang melirik untuk menjadikan emas sebagai obyek lindung nilai terhadap modal keuangannya. 

Lindung nilai merupakan salah satu strategi untuk menghadapi kondisi perekonomian yang tidak pasti, karena pengaruh inflasi dan deflasi ekonomi. Dulu, tahun 1990-an, uang senilai 1,4 juta rupiah sudah bisa digunakan untuk membeli tanah kurang lebih seluas 1 hektar. Namun, bertambah tahun, nilai uang 1.4 juta sudah tidak bisa lagi digunakan untuk membeli tanah seluas itu. (Baca: Pedoman Menghitung Zakat Emas, Perak dan Harta Dagangan)

Jangankan tanah seluas 1 hektar are, tanah seluas 1 meter persegi saja, hari gini sudah tidak bisa lagi dibeli dengan uang sebesar itu. Inilah bagian dari resiko inflasi dan deflasi itu. Bagaimana caranya, agar uang 1.4 juta rupiah tetap terjaga nilai tukarnya sehingga tetap bisa digunakan untuk membeli tanah seluas itu?

Caranya adalah, anda harus menyiapkan sistem lindung nilai itu. Dan salah satu solusinya, anda memerlukan obyek investasi. Hingga kini, obyek investasi yang dianggap paling tangguh adalah emas dan perak.

Persoalannya adalah bagaimana cara kita melakukan investasi emas itu untuk maksud lindung nilai? 

Sebenarnya ada banyak ruang penyaluran untuk maksud lindung nilai dengan emas. Hari ini baik perbankan syariah, maupun perbankan konvensional telah menyediakan ruang saluran investasi emas.

Demikian halnya dengan pegadaian. Bahkan beberapa di antaranya sudah berbasis teknologi, seperti yang dikeluarkan oleh pegadaian lewat produk Tabunganku dan Aplikasi E-mas yang merupakan produk joint venture antara PT Pegadaian, PT ORORI Indonesia dan PT Aneka Tambang (Antam), Tbk. 

Dari setiap pola investasi yang ditawarkan, dapat penulis ambil kesimpulan bahwa mekanisme yang diterapkan adalah nasabah atau konsumen pengguna aplikasi membeli emas sesuai dengan batas kemampuan yang dimiliki oleh dananya. Jika seorang nasabah punya uang 100 ribu, maka 100 ribu itu langsung dbelikan emas, sesuai dengan harga terbaru dan terkini yang dirilis oleh pegadaian. Suatu misal, harga terkini, adah 800 ribu rupiah per gram.

Sementara dana yang dimiliki oleh nasabah pengguna hanya 160 ribu. Dari uang itu ia membeli emas seberat 0.2 gram dan selanjutnya emas itu dititipkan ke pegadaian dengan bukti catatan deposit senilai berat emas yang telah dibelinya. Bila emas tersebut telah mencapai kisaran berat 0.5 gram, atau 1 gram, atau berapapun nilai wujudnya, pihak penabung bisa meminta dicetakkan dalam bentuk emas batangan atau bahkan dijual lagi sesuai harga terbaru jual beli emas. 

Apakah pola menabung semacam ini hukumnya adalah boleh? 

Baca Juga :  Hukum Nikah Bagi Orang Gila

Sudah pasti, jawabnya adalah boleh. Sebab ada catatan, bahwa bila suatu produk emas dibeli secara tunai, maka hal itu diperbolehkan. Alasan yang paling mendasar adalah karena emas merupakan barang ribawi. 

Setiap pertukaran barang ribawi tidak sejenis, namun keduanya masih sama-sama barang ribawi (mis. emas dengan uang, atau perak dengan uang), maka proses jual belinya adalah disyaratkan wajibnya hulul (kontan) dan saling taqabudl (saling serah terima). Inilah dasar utama dari pertukaran barang ribawi non sejenis tersebut. 

Tidak boleh terjadi dalam pertukaran barang ribawi baik sejenis maupun non sejenis, adanya penundaan penyerahan pada salah satu barang yang sedang diperjualbelikan, lalu diambil nilai tambah berbasis waktu. Adanya nilai tambah berbasis waktu ini menjadikan jual beli barang ribawi tidak sejenis masuk kategori riba al-nasa’ (riba kredit). Itu pula sebabnya, jual beli emas secara kredit, hukumnya juga haram dengan illat riba tersebut. 

الذَّهبُ بالذَّهبِ والفضَّةُ بالفِضَّةِ والبُرُّ بالبُرِّ والشعِيرُ بالشعِيرِ والتمْرُ بالتمْرِ . والمِلحُ بالمِلحِ . مِثْلًا بِمِثْلٍ . سوَاءً بِسَواءٍ . يدًا بِيَدٍ . فإذَا اخْتَلَفَت هذهِ الأصْنَافُ ، فبيعوا كيفَ شئْتُمْ ، إذَا كانَ يدًا بِيَدٍ

“Pertukaran emas dengan emas, perak dengan perak, anggur dengan anggur, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, kadarnya harus semisal dan sama, harus dari tangan ke tangan (kontan). Jika jenisnya berbeda, maka juallah sesuka kalian, selama dilakukan dari kontan.” (HR. Bukhari-Muslim).

Sementara itu, untuk penyerahan (qabdu) barang, termasuk salah satu tanda sudah bagi terjadinya qabdlu adalah adanya barang tersebut sudah bisa dijamin secara hukum menjadi hak kepemilikan pembelinya.

Jaminan secara hukum seperti ini dikenal dengan istilah qabdu hukmi. Istilah lainnya, bila suatu ketika terjadi mangkir (jahd) dari penyerahan (istifa’) terhadap barang yang sudah dibeli, maka pembeli bisa menuntutnya lewat jalur hukum / perundangan yang berlaku. 

Alhasil, investasi emas melalui transaksi jual beli secara kontan dan adanya barang bisa dijamin penyerahannya secara hukum, hukumnya adalah boleh. Namun perlu diperhatikan adalah bahwa yang tidak diperbolehkan dalam syariat tentang investasi emas itu adalah bila jual beli itu dilakukan secara kredit, mengingat emas adalah produk ribawi. Wallahu a’lam bi a-shawab

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here