Inilah yang Diajarkan Islam Saat Anda Alami Kekalahan

0
893

BincangSyariah.Com – Akhir-akhir ini kata “kalah” sudah menjadi fenomena umum yang tengah menggejala di masyarakat. Bagaimana tidak, banyak event besar yang terjadi pertengahan tahun 2018 ini. Dua di antaranya adalah pilkada dan piala dunia. Banyak hal-hal di luar nalar yang tak terduga, beberapa calon kuat juara berguguran satu persatu.   Hal ini sangat mencolok sekali dalam gelaran piala dunia kali ini, bayangkan saja Timnas Jerman, sebagai tim nomor satu di dunia versi FIFA saat ini dan sebagai juara bertahan dengan mudahnya gagal di fase grup, disusul oleh Argentina, Portugal, dan Spanyol yang sama-sama gagal di fase enam belas besar.

Bukan hanya para pemain yang terlibat dalam pertandingan saja yang merasakan kekalahan, akan tapi para pendukung dari seluruh dunia yang bahkan negaranya tidak masuk ke piala dunia juga merasakan kekalahan. Terlebih pendukung yang cukup fanatik mendukung tim kesayangannya. Kekalahan adalah hal yang sangat biasa, yang menjadi tidak biasa adalah cara melampiaskannya. Apakah dengan hal-hal baik ataukah dengan hal-hal buruk?

Al-Imam Muhyiddin Abi Zakariya al-Nawawi (w. 676 H) dalam karyanya al-Adzkar al-Nawawiyyah menuliskan satu sub bahasan menarik yang berjudul Bab Maa Yaquul Idza Ghalabahu al-Amr: Pembahasan Tentang Apa Yang dikatakan ketika Menerima Kekalahan. Dalam sub bahasan tersebut Imam Nawawi mengutip dua riwayat yang bersumber dari Shahih Muslim dan dari Sunan Abi Dawud. Masing-masing sebagai adalah berikut.

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Baca Juga :  Soal Ucapan Kyai Ma’ruf Amin “Lakum Capresikum wa Lana Capresuna”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, suatu ketika Rasulullah Saw bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dibandingkan dengan mukmin yang lemah. Meskipun begitu, keduanya memiliki kebaikan. Maka, bersemangatlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan meminta pertolonganlah kepada Allah dan jangan lemah. Dan jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengatakan: ‘Seandainya aku melakukan ini maka akan begini dan begitu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkannya dan apa yang Ia kehendaki telah terjadi.’ Sebab kata ‘seandainya’ akan membuka ruang bagi setan untuk bekerja.” (HR. Muslim)

Ada banyak sekali pesan moral yang hendak disampaikan dalam riwayat di atas. Pertama adalah sebagai seorang mukmin sudah seharusnya memiliki jiwa yang kuat dan tahan banting, tidak gampang putus asa hanya dengan kekalahan yang kecil, karena Allah SWT menyukai mukmin yang kuat dibandingkan yang lemah. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebut bahwa yang dimaksud dengan kuat di sini adalah tekad kuat yang ada dalam jiwa dan karakter seseorang dalam mengurusi persoalan-persoalan akhirat. Meski begitu, tidak layak seorang mukmin memiliki jiwa yang lemah, apalagi hanya karena tim kesayangannya kalah.

Kedua, baik orang yang kuat maupun orang yang lemah sama-sama memiliki kebaikan. Terang saja karena dalam riwayat ini, baik orang yang kuat maupun orang yang lemah keduanya adalah orang yang beriman, maka tentu keduanya memiliki sisi yang sama-sama baik. Jika demikian tidak ada alasan bagi orang yang merasa dirinya kuat, tiba-tiba menjatuhkan dan mengolok orang yang lemah karena keduanya memiliki kelebihannya masing-masing.

Ketiga, bersungguh-sungguhlah mengerjakan hal yang bermanfaat. Ada banyak ragam cara orang melampiaskan kekalahan dan kekecewaan. Ada yang berkata-kata kotor, membanting barang, memukul sesama dan banyak lagi yang lainnya. Maka dalam riwayat di atas kita dilarang melakukan hal-hal tersebut dan diperintahkan untuk malakukan hal-hal positif lainnya. dengan catatan kita harus senantiasa meminta pertolongan dari Allah dan jangan lemah untuk mengerjakan hal positif tersebut.

Baca Juga :  Negara Islam Menurut Habib Munzir al-Musawa

Keempat, tidak perlu mengatakan ‘seandainya’, akan tetapi katakanlah ‘takdir Allah telah terjadi’. Seandainya adalah kata yang sering muncul dari mulut orang-orang yang kalah, ini merupakan untaian penyesalan dan bisa juga evaluasi atas apa yang terjadi. Misalnya seandainya saja Jerman bermain lebih ngotot, seandainya saja Cristiano Ronaldo tidak banyak melakukan diving, seandainya saja tidak ada VAR, dan banyak lagi yang lainnya. Hal-hal semacam ini menurut riwayat di atas hanya akan menambah ruang setan, ruang penyesalan yang cukup dalam.

Riwayat selanjutnya adalah bersumber dari kitab Sunan Abi Dawud, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW memutuskan perkara antara dua orang laki-laki. Maka salah satu dari mereka ketika perkaranya telah diputuskan mengatakan, ‘Hasbiyallah wa Ni’mal Wakil (cukup bagiku Allah dan Dialah sebaik-baik tempat berserah)’. Mendengar hal tersebut Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَلُومُ عَلَى الْعَجْزِ وَلَكِنْ عَلَيْكَ بِالْكَيْسِ فَإِذَا غَلَبَكَ أَمْرٌ فَقُلْ حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Sesungguhnya Allah mencela orang yang lemah, oleh karena itu bangkitlah!, dan apabila engkau kalah dalam suatu urusan maka ucapkanlah, ‘Hasbiyallah wa ni’mal wakil (cukup bagiku Allah dan Dialah sebaik-baik tempat berserah)’”. (HR. Abu Dawud)

Maksud dari mencela orang yang lemah sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh bin ‘Idrus dalam komentarnya terhadap al-Adzkar ini adalah Allah tidak menyukai orang yang lemah yang menyia-nyiakan waktu dan kesempatan serta menyepelekan urusan. Adapun makna ‘kais’ dalam riwayat di atas adalah agar seseorang bangun dan bangkit untuk memulai banyak hal positif, yang memiliki maslahat. Dan poin yang terpenting dalam riwayat ini adalah agar seseorang ketika mengalami kekalahan berserah diri kepada Allah dan menyadari dalam diri bahwa setiap kekalahan telah ditakdirkan oleh-Nya. Hasbiyallah wa ni’mal wakil.

Demikian beberapa hal yang diajarkan Islam ketika menerima kekalahan, baik secara langsung atau tidak langsung, semoga kita senantiasa selalu berada di jalan Allah SWT. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here