Inilah Potret Orang Paling Kaya Menurut Sahabat Ali

0
249

BincangSyariah.Com – Khalifah terakhir Ali Ibn Abi Thalib dijuluki dengan Sayyid Al Bulagha wa Al Mutakallimin, sebab kata-katanya yang indah dan fasih dalam bertutur. Sebab itulah tuturan-tuturannya abadi menjadi sumbangan berharga dalam khazanah kebudayaan Islam. Salah satu tuturnya dalam Al Hikam Ali ibn Abi Thalib  beliau mengungkapkan tentang potret orang paling kaya sesungguhnya. Dalam kitabnya disebutkan:

أشرف الغنى ترك المنى

Orang yang paling kaya adalah orang yang meninggalkan keinginanya

            Penjelasan yang mematahkan teori bahwa orang kaya adalah orang yang yang duitnya dimana-mana. Potret orang paling kaya disebutkan diatas tentu tidak bertentangan dengan syariah Islam. Orang yang meninggalkan keinginannya adalah orang yang paling kaya menurut Ali ibn Thalib. Mengapa demikian? Sebab ia bisa meninggalkan perkara yang tidak dibutuhkan, atau bahkan tidak bermanfaat baginya. Dengan begitu ia termasuk orang yang tidak menuruti hawa nafsunya.

Orang yang meninggalkan keinginannya bukan berarti ia tidak bisa memenuhi kebutuhannya, melainkan ia bisa mengobati diirnya. Kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan oleh manusia dan dapat mengahdirkan kesejahteraan. Sehingga bila ada kebutuhan yang tidak terpenuhi maka ia akan merasa tidak sejahtera. Sedangkan keinginan adalah sesuatu tambahan atas kebutuhan, yang diharapkan apabila dapat dipenuhi kita akan merasa lebih puas. Namun pada kenyataannya apabila keinginan tidak terpenuhi maka sesungguhnya kesejahteraan tersebut tidak akan berkurang.

Dengan demikian, orang yang meninggalkan keinginannya berarti ia telah memenangkan peperangan untuk memuaskan dirinya. Dan orang yang bisa menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah yang akan menjadi temapt tinggalnya. Dan inilah yang disebut sebagai orang yang paling kaya menurut Ali ibn Abi Thalib.  Oleh sebab itu  jangan menuhankan keinginan dengan menuruti semua keiginannya. Orang yang tidak mengenal batas keinginannya akan cenderung egois dan egonsentris.

Baca Juga :  Dialog Sahabat Ali dengan Salman Al-Farisi tentang 4 Kesedihan yang Dibolehkan

Menyebut manusia seperti itu sebagai manusia yang menyembah hawa nafsunya. Allah berfirman dalam QS Al jasiyah ayat 23:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Dengan denikian siapasaja yang bisa  meninggalkan banyaknya keinginan dalam dunia ini, secara tidak langsung ia telah menjadi orang yang paling kaya. Baginya surga yang telah disiapkan oleh Allah untuk dijadikan tempat tinggalnya kelak.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here