Inilah Kriteria Perempuan yang Dianjurkan untuk Dinikahi

15
72338

BincangSyariah.Com – Sebagai seorang insan sudah menjadi fitrahnya menyukai keindahan dan kesempurnaan. Entah dalam perekonomian, akademik, hingga pasangan.

Dalam perkara pasangan, seseorang memiliki kriteria dan kacamata sendiri dalam menilai pasangan yang ideal baginya. Ada yang mendahulukan keindahan paras daripada kekayaan, adapula yang mendahulukan nasab daripada paras, semua kembali kepada tiap-tiap individu.

Abu Hurairah meriwayatkan hadis dari Rasulullah mengenai hal ini:

نْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita dinikahi karena 4 hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, maka kalian akan beruntung.” (H.R. Bukhari)

Dari hadis di atas kita mendapatkan empat kriteria mengenai perempuan yang akan dinikahi, dan perempuan yang baik agamanya merupakan pilihan yang tepat untuk didahulukan.

Dalam kitab Muhadharat fî al-Ahwâl asy-Syakhsiyyah, Prof. Dr. Faraj Ali as-Sayyid ‘Anbar memaparkan kriteria perempuan yang dianjurkan untuk dinikahi.

Perempuan yang Baik Agamanya

Para fuqaha berpendapat disunnahkan bagi seorang laki-laki untuk memilih perempuan yang baik agamanya untuk pernikahannya, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah saw. dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA di atas.

Imam Syafii menafsirkan perempuan yang baik agamanya adalah perempuan yang memiliki sifat adil, semangat dalam ketaatan dan amal saleh, menjaga diri dari sesuatu yang diharamkan, meskipun sepele.

Sementara itu, Hanafiyyah mensunnahkan memilih perempuan yang tinggi akhlak dan adabnya, serta bersifat wira’i.

Perempuan yang Perawan

Para fuqaha berpendapat sunnah menikahi perempuan yang masih perawan, karena Rasulullah saw. bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْأَبْكَارِ، فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا، وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا، وَأَرْضَى بِالْيَسِيرِ

“Hendaklah kalian memilih para gadis, karena mereka lebih segar (manis) mulutnya, lebih banyak anaknya, dan lebih rela dengan (pemberian) yang sedikit.”

Berbeda dengan pendapat ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah yang berpendapat bahwa perempuan janda lebih utama dari perawan, jika keadaan itu memiliki maslahat, seperti seorang duda yang membutuhkan ibu untuk mengasuh anak-anaknya, atau seorang laki-laki yang lemah untuk menembus keperawanan wanita.

Baca Juga :  Fintech dalam Pandangan Hukum Islam

Sebagaimana dibenarkan oleh Rasulullah saw. dalam hadis, Rasulullah bertanya kepada Jabir:

هَلْ تَزَوَّجْتَ بِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا؟»، فَقُلْتُ: تَزَوَّجْتُ ثَيِّبًا، فَقَالَ: «هَلَّا تَزَوَّجْتَ بِكْرًا تُلاَعِبُهَا وَتُلاَعِبُكَ»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، تُوُفِّيَ وَالِدِي أَوِ اسْتُشْهِدَ وَلِي أَخَوَاتٌ صِغَارٌ فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَزَوَّجَ مِثْلَهُنَّ، فَلاَ تُؤَدِّبُهُنَّ، وَلاَ تَقُومُ عَلَيْهِنَّ، فَتَزَوَّجْتُ ثَيِّبًا لِتَقُومَ عَلَيْهِنَّ وَتُؤَدِّبَهُنَّ

“Engkau menikah dengan perawan atau janda?” Aku (Jabir) menjawab: “Aku menikahi janda,” kemudian Rasulullah bersabda: “Mengapa kamu tidak menikahi gadis, supaya kamu bisa bersenang-senang dengannya, dan ia bersenang-senang denganmu?,” Maka aku menjawab: “Ayahku telah wafat – atau telah mati syahid- dan aku memiliki beberapa saudara perempuan yang masih kecil, aku tidak ingin menikahi wanita seperti mereka yang tidak dapat mendidik dan merawat mereka, karena itulah aku menikahi seorang janda agar bisa merawat dan mendidik mereka” (HR Bukhari)

Memiliki Nasab yang Mulia

Perempuan yang mulia perempuan yang nenek moyangnya berasal dari orang-orang mulia dan ulama. Di Indonesia dapat digambarkan, orang yang memiliki nasab mulia di antaranya anak perempuan kiai dan awliya` shalihin. Hal ini berdasarkan kriteria yang tercantum dalam hadis Rasulullah, yaitu Li hasabihâ, sebab nasabnya.

Kendati demikian, Hanafiyyahh mengingatkan bagi perempuan yang dinikahi sebab nasabnya namun suaminya tidak bernasab mulia sepertinya agar tidak merendahkan suaminya. Sebab ada hadis Nabi saw. yang berbunyi:

من تزوج امرأة لعزها لم يزده الله إلا ذلاًّ، ومن تزوجها لمالها لم يزده الله إلا فقراً، ومن تزوجها لحسبها لم يزده الله إلا دناءة، ومن تزوج امرأة لم يرد بها إلا أن يغض بصره ويحصن فرجه ويصل رحمه، بارك الله له فيها، وبارك لها فيه.

Siapa yang menikahi seorang wanita karena kemuliaannya maka Allah tidak menambah pada dirinya kecuali kehinaan, siapa yang menikahi seorang wanita karena hartanya maka Allah tidak menambah pada dirinya kecuali kefakiran, siapa yang menikahi wanita karena kedudukannya maka Allah tidak menambah pada dirinya kecuali kerendahan, dan siapa yang menikahi seorang wanita tanpa sebab apapun kecuali untuk menahan pandangannya, menjaga kemaluannya, dan menyambung silaturahmi maka Allah akan senantiasa melimpahkan keberkahan kepadanya. (HR Thabrani)

Baca Juga :  Bolehkah Memakai Obat Kuat dalam Islam?

Memilih Perempuan yang Subur serta Penyayang

Disunnahkan menikahi perempuan yang penyayang serta subur, sebab terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a:

كان رسول الله يقول: تزوجوا الودود الولود، فإني مكاثر بكم الأمم يوم القيامة

“Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur, karena aku berbangga dengan jumlah umatku yang banyak didepan umat-umat lainnya pada hari kiamat” (HR Ahmad)

Perempuan yang Cantik

Perempuan yang cantik termasuk kategori yang dianjurkan dinikahi, sebab kecantikannya lebih menenangkan suami dan lebih menjaga pandangannya dari perempuan lain.

Abu Hurairah meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw.:

قِيلَ يا رَسُولُ اللَّهِ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟ قَالَ الَّذِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

Rasulullah saw. pernah ditanya; “Wanita yang bagaimana yang paling baik?” Beliau menjawab: “Jika dipandang (suami) ia menyenangkan, jika diperintah ia taat, dan ia tidak menyelisihi suaminya pada sesuatu yang tidak disukainya, baik dalam diri maupun harta” (HR. Ahmad)

Cerdas dan Baik Perangainya

Kecerdasan akal merupakan tuntutan dalam kehidupan rumah tangga, karena rumah tangga yang baik tidak dihasilkan dari orang yang bodoh, dalam artian tidak dapat mengatur rumah tangganya sendiri. Begitupun dengan kebaikan akhlak dan perangainya, supaya anak-anaknya dapat meneladani orangtuanya.

Imam al-Asnawi menjelaskan, cerdas disini adalah kecerdasan umum. Maksudnya adalah kemampuan mengatur rumah tangga dan anak-anak, tidak mesti kecerdasan yang berkaitan dalam intelektual maupun akademik.

Bukan Kerabat Dekat

Disunnahkan menikahi perempuan dari kerabat yang jauh, sebab tujuan pernikahan itu sendiri adalah merekatkan hubungan kekeluargaan.

Di sisi lain, seseorang yang menikahi kerabat dekatnya cenderung kurang tertarik dengan si perempuan, sehingga dapat berpengaruh kepada anak dari pasangan tersebut sebab kurangnya syahwat.

Baca Juga :  Di Rumah Aja? Ini Loh Tiga Tips Spiritual Saat Terjadi Penyakit Mewabah

Mudah Maharnya

Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat sunnah menikahi perempuan yang paling mudah dikhitbah dan dinafkahi, juga mudah maharnya, sebagaimana yang disebutkan oleh Aisyah r.a:

إِنَّ مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ: تَيْسِير خِطْبَتِهَا، وَتَيْسِير صَدَاقِهَا، وَتَيْسِير رَحِمِهَا

“Sesungguhnya diantara kebaikan seorang perempuan adalah, mudah meminangnya, ringan maharnya, dan subur rahimnya.” (HR Ahmad)

Belum Memiliki Anak

Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah menganjurkan untuk tidak menikah dengan perempuan yang sudah mempunyai anak. Namun perempuan yang sudah memiliki anak lebih dianjurkan untuk dinikahi jika keadaan tersebut lebih maslahat dan baik.

Tidak Menikahi Perempuan yang Bermasalah Secara Fikih

Ulama Syafi’iyyah menganjurkan untuk tidak menikahi seorang perempuan yang ditalak namun masih memiliki rasa suka kepada mantan suaminya, juga tidak menikahi perempuan yang memiliki hubungan sepersusuan dengannya.

Demikian beberapa kriteria yang telah disebutkan di atas, semoga kita mendapatkan seorang istri yang memiliki kriteria bagus, tentunya dengan tidak lupa untuk memperbaiki diri sendiri dan menutup lubang kekurangan yang ada dalam diri kita dengan usaha yang maksimal. Wallahu a’lam

15 KOMENTAR

  1. Sepupu dg sepupu insyaallah boleh (karena sepupu dg sepupu bukanlah mahrom/orang yg tdk boleh dinikahi) Waullahua’lam bishowab. silahkan anda pelajari Q.S An-Nisa

  2. Sepupu dg sepupu insyaallah boleh (karena sepupu dg sepupu bukanlah mahrom/orang yg tdk boleh dinikahi) Waullahua’lam bishowab. silahkan anda pelajari Q.S An-Nisa

  3. Wanita dinikahi karena 4 hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Misalnya dia ‘tidak cantik’ *maaf. Apakah tidak apa2 ? Padahal kecantikan untuk menjaga pandangannya dari perempuan lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here