Ini Tipu Daya Setan pada Orang yang Gemar Amar Makruf

0
491

BincangSyariah.ComGemuruh amar makruf nahi mungkar kadang membuat lalai sebagian umat muslim. Tindakan mereka dalam mengajak kepada kebaikan bisa saja ditunggangi kepentingan pihak lain. Pihak lain ini bukan kelompok tertentu, tapi ini setan. Ya, setan bisa saja mendukung kita melakukan amar makruf. Namun tentu saja dengan kepentingan tertentu. Kepentingan itu adalah memperjuangkan keburukan yang dibungkus kebaikan. (Baca: Menyimak Dialog Setan dengan Allah tentang Manusia)

Imam Al-Ghazali dengan jelas memperingatkan hal ini. Setan bisa saja berkata pada kita: “Tunjukkan hal yang hak dan jangan meremehkannya!” Ucapan ini tentu saja memperoleh dukungan dari hati yang penuh semangat memperjuangkan ajaran Islam. Namun bukan setan namanya bila tidak menjerumuskan manusia ke dalam keburukan. Ia menyisipkan cara-cara yang tak baik dalam ajakan menunjukkan perkara yang hak tersebut.

Cara-cara yang tak baik ini menimbulkan keburukan lain yang lebih parah sebelum munculnya ajakan kepada perkara hak itu. Di antaranya, orang yang mengajak kepada perkara hak akan tenggelam dalam perdebatan panjang yang penuh dengan rasa marah, kecewa, kata-kata caci maki serta tentu saja waktu panjang yang terbuang sia-sia. Sedang orang yang diajak kepada perkara hak, alih-alih ia mengikuti ajakan itu, ia justru menjauh dan menjadi musuh baru.

Ajakan menunjukkan perkara hak itu bisa jadi dari setan. Hal ini diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali di dalam kitab Bidayatul Hidayah. Beliau menerangkannya di sela-sela menerangkan bahaya lisan berupa kegemaran adu mulut, saling hujat serta perdebatan yang tidak produktif. Padahal hal-hal ini hanya akan membuang-buang waktu sebab melakukan hal yang sia-sia, serta memancing rasa permusuhan antar umat Islam. Imam Al-Ghazali berkata:

Baca Juga :  Petuah Imam Syafi’i tentang Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Jangan sampai setan menipumu dengan berkata padamu: “Tunjukkan hal yang haq dan jangan meremehkannya”. Sungguh setan selamanya akan mengajak orang bodoh kepada keburukan dalam rupa kebaikan. Janganlah engkau menjadi bahan tertawaan setan sehingga ia membuatmu hina. Menunjukkan hal benar adalah bagus bersama orang dapat menerimanya darimu. Dan itu dengan jalan memberi nasihat di waktu sepi, tidak dengan jalan adu mulut. (Bidayatul Hidayah/68)

Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa amar makruf dalam melaksanakannya memiliki cara-cara tersendiri. Diantaranya mencari celah kemungkinan orang yang diajak mau menerima ajakan kita. Selain itu, ajakan itu juga disampaikan dengan cara-cara yang tidak berujung mempermalukannya. Seperti disampaikan secara pribadi, tidak di depan khalayak umum.

Namun yang cukup perlu digarisbawahi dari ungkapan Imam Al-Ghazali di atas adalah, ternyata setan bisa saja menjadi pihak yang mendukung kita berbuat kebaikan. Namun dengan tujuan memunculkan keburukan yang lebih besar nilainya dari yang muncul dari ajakan kebaikan tersebut. Oleh karena itu kita wajib berhati-hati. Jangan sampai semangat amar makruf nahi mungkar tidak disertai pengetahuan yang mencukupi, tentang cara-cara yang benar serta strategi yang tepat dalam amar makruf nahi mungkar.

Kegemaran Ahli Fikih Pada Saling Hujat di Masa Imam Al-Ghazali

Usai mengungkapkan bahwa setan bisa menjadi pihak yang mendukung ajakan kepada perkara hak tapi dengan kepentingan tertentu, Imam Al-Ghazali menceritakan fakta di zaman beliau. Bahwa banyak ulama di zamannya tertipu dengan dukungan setan tersebut. Banyak ulama yang dengan dalih “diskusi agama”, terjerumus pada perdebatan yang berisi saling hujat serta adu mulut yang tidak menghasilkan kesimpulan sama sekali. Bahkan justru memancing kebencian di antara mereka. (Bidayatul Hidayah/68) (Baca: Hadis Dapat Menyesatkan Kecuali Bagi Ahli Fikih)

Baca Juga :  Ayat Ahkam: Keutamaan Beribadah di Maqam Ibrahim (QS Al-Baqarah [2]: 125)

Parahnya hal itu juga menjangkiti para pelajar yang berada di sekeliling mereka. Dan muncul tren di antara mereka bahwa, kelihaian saling menghujat dan adu mulut adalah suatu kelebihan yang seharusnya dimiliki. Mereka mengkesampingkan keutamaan bersikap “diam”, tatkala berada di tengah-tengah orang yang sudah tidak lagi perduli dengan ajakan kebaikan dengan ucapan.

Mereka lupa bahwa amar makruf nahi mungkar yang salah satunya berbentuk diskusi atau ajakan kebaikan di depan umum, memiliki cara tertentu dan menuntut disampaikan dalam suatu keadaan yang tidak sembarangan. Ajakan kebaikan haruslah dengan sikap halus. Bila tidak, justru akan berubah menjadi sikap mempermalukan orang lain. Dan kerusakan yang disebabkannya lebih besar dari kebaikannya.

Uraian di atas adalah keterangan Imam Al-Ghazali mengenai keadaan ulama di zamannya, yang salah kaprah dalam memahami bolehnya melakukan adu mulut atau saling hujat yang tak jelas tujuan serta manfaatnya. Lalu, bagaimana keadaan ulama di zaman kita sekarang? Adakah praktek adu mulut atau saling hujat antara orang yang berlabel ulama, yang bukannya membuat masyarakat lebih kuat dalam mengamalkan ajaran Islam, tapi justru membuat mereka kebingungan sehingga membuat mereka menjauh dari Islam?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here