Ini Perumpamaan Orang Yang Shalatnya Tidak Khusyuk Menurut Imam al-Ghazali

1
17

BincangSyariah.Com – Ibadah yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun bagi seorang muslim adalah sholat. Tidak ada yang menggugurkan kewajiban sholat kecuali kematian itu sendiri.

Oleh karena itu, shalat bukan ibadah yang remeh berupa gerakan tubuh tanpa makna. Sehingga para ulama’ merumuskan shalat yang diterima oleh Allah, baik secara dhohir dan bathin. Diantaranya adalah Imam al-Ghazali. Beliau mensyaratkan khusyuk dan hadirnya hati ketika melaksanakan shalat.

Banyak sekali nash, baik dari al-Quran dan hadits yang menunjukkan hal tersebut. Diantaranya adalah surah at-Thaha [20]: 14,

وَاَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِيْ

dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. (Q.S. Thaha: 20 ayat 14).

Syekh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi dalam kitab Maw’izhatu al-Mu’miniin memberikan catatan, bahwasanya zahirnya maksud ayat tersebut adalah wajib. Sedangkan lalai adalah lawannya ingat kepada Allah. Maka barangsiapa yang lalai dalam seluruh sholatnya maka bagaimana ia mendirikan shalat untuk mengingat Allah ?

Dalam hal ini, Imam al-Ghazali memberikan kesimpulan dan perumpamaan terhadap orang yang lalai atau tidak tidak khusyuk dalam shalatnya. Menurut al-Imam al-Ghazali bahwasanya orang yang shalat itu adalah orang yang sedang berbincang-bincang dengan Allah. Sedangkan orang yang berbincang-bincang dalam keadaan lalai tidaklah disebut sebagai orang yang berbincang-bincang.

Selanjutnya Imam al-Ghazali memberikan perumpamaan seperti ini:

  1. Andaikan seseorang bersumpah dan berkata, “sungguh saya akan berterima kasih, memuji dan meminta bantu kepada si fulan” kemudian ia mengucapkan kalimat tersebut ketika tidur (mengigau) maka sumpahnya tidak dianggap terpenuhi/tercukupi.
  2. Andaikan kalimat tersebut diucapkan dalam ruangan yang gelap sedangkan orang yang diajak bicara itu ada ditempat tersebut, dan orang itu tidak mengetahui dan melihat orang yang diajak bicara, maka sumpahnya tidak anggap terpenuhi. Karena kalimat tersebut tidak dianggap sebagai perbicangan dengan lawan bicaranya selama orang lawan bicaranya itu hadir di dalam hatinya.
  3. Andaikan kalimat tersebut diucapkan dihadapan lawan bicaranya disiang hari akan tetapi ia dalam keadaan lalai karena tenggelam dalam pikirannya maka sumpahnya tidak dianggap terpenuhi.

Maka tidak diragukan lagi bahwasanya tujuan dari bacaan, zikir, pujian, kerendah hatian, doa, sdangkan mukhotobnya (lawan bicaranya) adalah Allah sedangkan hatinya tertutup kelalaian maka ia terhalang dari Allah. Maka hatinya tidak melihat dan menyaksikan Allah meskipun lisannya bergerak secara kebiasaan.

Maka alangkah jauhnya perumpamaan diatas dengan tujuan shalat yang disyariatkan untuk membeningkan hati,  memperbaharui mengingat Allah dan mengokohkan ikatan iman. Jadi hadirnya hati itu adalah ruhnya shalat. Barangsiapa yang mengetahui rahasianya shalat maka ia mengetahui bahwasanya lalai lawan dari shalat.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here