Ini Penjelasan Ulama yang Memperbolehkan Keluarga Nabi Menerima Zakat dan Sedekah

0
392

BincangSyariah.Com – Para ulama mayoritas berpendapat bahwa sedekah atau zakat tidak boleh diberikan kepada keluarga Nabi, yakni dari klan Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Keharaman tersebut merujuk pada hadits Nabi:

اِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَةَ أَوْسَاخُالنَّاسِ وَأِنَّهَالاَتَحِلُّ لِمُهَمَّدٍوَلاَلِآ لِ مُحَمَّدٍ

“Sesungguhnya sdekah (zakat) adalah kotoran manusia, tidak halal untuk Muhammad dan keturunan Muhammad” (HR. Muslim)

Pertimbangan berikutnya ialah karena anggota keluarga Nabi telah tercukupi dengan menerima bagian khumus dari baitul mal.

Persoalannya kemudian ialah pada beberapa negara, termasuk di Indonesia sudah tidak ada lagi bagian khumus yang secara spesial diberikan kepada mereka, khususnya para Habaib dan Syarifah. Sebutan untuk para pria dan wanita keturunan Nabi Muhammad dari jalur Fatimah.

Jika demikian, bagaimana dengan status keharaman keluarga Nabi menerima zakat dan sedekah?

Dalam mazhab Syafi’i, mayoritas ulama Syafi’iyyah mengatakan bahwa tetap haram bagi keluarga Nabi untuk menerima zakat dan sedekah, namun ada beberapa ulama yang memperbolehkannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar Ba’alawi dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin, (Beirut: Dar al-Fikr, 2000), h. 175:

اتفق جمهور الشافعية على منع إعطاء أهل البيت النبوي من الزكاة ككل واجب كنذر وكفارة، وإن منعوا حقهم من خمس الخمس، … واختار كثيرون متقدمون ومتأخرون الجواز، حيث انقطع عنهم خمس الخمس، منهم الاصطخري والهروي وابن يحيى وابن أبي هريرة.

“Mayoritas ulama syafiiyyah mengatakan bahwa terlarang memberikan zakat pada keluarga Nabi sebagaimana bentuk ibadah wajib menggunakan harta lainnya seperti nadzar dan kafarat, meskipun mereka tidak lagi mendapatkan bagian khumus al-khumus … sementara kebanyakan mayoritas ulama klasik dan kontemporer memilih pendapat bahwa ketika mereka tidak lagi mendapatkan bagian khumus al-khumus, maka boleh menerima zakat dan lainnya. Mereka adalah Imam al-Ustukhri, Imam al-Harawi, Imam Ibnu Yahya dan Imam Ibnu Abi Hurairah”.

Dari keterangan diatas, bisa kita simpulkan bahwa meskipun mayoritas ulama mazhab Syafiiyyah mengatakan haram bagi keluarga Nabi menerima zakat dan sedekah meskipun mereka tidak lagi menerima khumus, namun Imam al-Ustukhri dan lainnya menganggap boleh-boleh saja bagi mereka menerimanya jika memang mereka sudah tidak lagi menerima khumus.

Baca Juga :  Di Kondisi Ini Non-Muslim Wajib Mengeluarkan Zakat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here