Ini Pendapat Empat Mazhab Soal Kapan Menikah Jadi Wajib

0
1568

BincangSyariah.Com – Semua orang tentu ingin memiliki pasangan, dan hal tersebut mesti melalui jalan yang dibenarkan oleh agama. Satu-satunya jalan adalah menikah. Dengan menjalankan akad nikah, maka hubungan intim dengan lawan jenis menjadi halal dan terhormat.

Adapun hukum menikah berjalan di atas koridor hukum taklifi yang lima, yaitu wajib, mandub, mubah, makruh, dan haram. Lantas, kapan nikah menjadi wajib hukumnya bagi seorang mukallaf?

Dalam kitab Muhadharat fî al-Ahwâl asy-Syakhsiyyah yang disusun oleh Prof. Dr. Faraj Ali as-Sayyid ‘Anbar, disebutkan beberapa pendapat ulama mengenai wajibnya nikah.

Menurut Hanafiyah, nikah menjadi wajib ketika seseorang sangat berhasrat ingin menikah sebab takut terjatuh dalam lubang perzinaan jika ia tidak menikah.

Ibnu ‘Abidin berpendapat, seandainya tidak memungkinkan baginya untuk menahan diri dari melihat sesuatu yang diharamkan, ataupun dari istimna` menggunakan tangan (masturbasi), maka wajib menikah meskipun ia tidak khawatir jatuh dalam pezinaan.

Perlu kita ketahui pula, bahwa dalam mazhab Hanafi, fardhu dan wajib memiliki perbedaan. Oleh karena itu, jika di atas telah disebutkan hukum wajib nikah menurut mazhab Hanafi, maka terdapat pula hukum fardhu nikah, yaitu ketika seseorang telah yakin bahwa ia akan terjatuh dalam kubang perzinaan, tak bila lepas darinya kecuali jika ia menikah. Karena sesuatu yang tidak membuatnya menjauhi hal yang haram kecuali dengan perbuatan itu, maka menjadi fardhu untuk dilakukan.

Mengenai kewajiban maupun kefardhuan nikah menurut Hanafiyyah, disyaratkan pula bagi orang yang dibebani kewajiban nikah untuk mampu membayar mahar dan menafkahi. Juga dalam kitab al-Bahru ar-Râiq karangan Zainuddin ibn Najim al-Hanafi disebutkan syarat yang lainnya, yaitu tidak ada tekanan. Apabila syarat terpenuhi maka wajib baginya nikah, dan jika tidak, maka tak berdosa meninggalkannya.

Baca Juga :  Tidak Selamanya Ibadah Sunnah itu Baik, Ini Penjelasannya

Adapun mazhab Maliki dalam salah satu pendapatnya yang kuat, nikah menjadi wajib bagi orang yang menginginkannya sedang ia khawatir jatuh dalam perzinaan jika tidak menikah, meski dengan menikah menjadikan suami tersebut menafkahi sang istri dengan jalan yang haram, atau tidak menafkahi sama sekali dengan syarat wajib menginformasikan kepada istrinya.

Namun pendapat di atas dibantah oleh Prof. Dr. Faraj Ali as-Sayyid ‘Anbar, bahwa sesuatu yang haram tidak dapat digunakan untuk menghindari sesuatu yang haram pula, karena seseorang tentunya dibebani untuk meninggalkan semua keharaman itu. Maka tak dapat dibenarkan apabila ada yang berpendapat, “Jika takut jatuh dalam perzinaan, maka wajib baginya menikah meski nanti menafkahi istrinya melalui jalan yang haram.”

Sedang menurut Mazhab Syafi’i, wajib menikah apabila khawatir akan zina, dan ia menentukan jalan untuk membayarnya sesuai kemampuannya. Beitupula Imam Ibnu hajar al-Haitami berpendapat wajib nikah bagi orang yang takut zina, karena ihshan (penjagaan) dari zina tak didapat kecuali dengan menikah. Dan hukum ini berlaku pula bagi perempuan, maka apabila seorang perempuan tak dapat menghindari zina kecuali dengan menikah, maka wajib baginya untuk menikah.

Begitupula wajib nikah bagi orang yang bernazar, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in:

ويجب بالنذر حيث ندب

Dan wajib menikah sebab nazar sebagaimana yang terdapat dalam hadis. (Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratil ‘Ain, Dar Ibn Hazm, hal. 445)

Dan yang terakhir, menurut mazhab Hanbali, wajib menikah bagi orang yang takut dari zina sebab meninggalkan nikah, baik bagi laki-laki maupun perempuan, sama saja entah kekhawatirannya mencapai taraf keyakinan ataupun masih prasangka. Mengapa demikian? Karena setiap orang wajib menjaga kehormatan dirinya, dan mengalihkannya dari sesuatu yang haram. Bahkan dalam hal ini, nikah yang hukumnya wajib mesti didahulukan dari haji yang wajib, melihat dari kekhawatiran jatuh pada sesuatu yang haram. Wallahu a’lam

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here