Ini Logika Ulama Fikih yang Membolehkan Shalat Jumat 2 Gelombang

0
1176

BincangSyariah.Com – Menyambung dari tulisan penulis sebelumnya yang menyatakan bahwa dalam bagian pendapat Imam Syafii, terdapat qaul qadim yang menyatakan bahwa shalat Jumat ada yang dilaksanakan dengan 3, 4 atau 12 orang jamaah, dengan salah satunya menjadi Imam. Asalkan jumlah jamaah kurang dari 40 orang, maka masih berlaku pendirian Jumat. Namun, karena pendapat itu merupakan pendapat yang dlaif (lemah), maka ada kewajiban melaksanakan shalat Zuhur setelahnya sebagai solusi keluar dari khilaf para ulama yang mensyaratkan harus terdiri dari 40 orang.

Masalahnya kemudian, adalah ada ketentuan bahwa: pertama, shalat Jumat itu yang penting adalah dilakukan pada waktu Zuhur. Kedua, shalat Jumat itu lebih sempurna dari sisi ibadah dibanding sekedar menunaikan shalat Zuhur. Ketiga, untuk kalangan Syafi’iyah, pindah ke pendapat yang menyarankan agar memakai pendapat Imam Syafii di qaul qadimnya (pendapat saat beliau tinggal di Baghdad), merupakan bentuk pencarian fadhilah (keutamaan) semata.

Di sisi lain, orang yang sanggup datang ke masjid untuk menghadiri shalat Jumat, menandakan bahwa dirinya sebenarnya tidak masuk bagian dari udzur yang disyaratkan boleh meninggalkan shalat Jumat, di antaranya udzur tersebut adalah meliputi: 1) perempuan, 2) belum baligh, 3) musafir, 4) tidak tinggal di perkampungan, 5) budak, dan 6) sakit. Mereka yang hadir ke masjid dan kemudian terhalang melakukan shalat Jumat adalah disebabkan lebih karena faktor tidak ke bagian tempat, karena keharusan melaksanakan social distancing akibat kondisi wabah Covid-19, sehingga efektifitas tempat / masjid menjadi terkurangi akibat penjarakan jamaah.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah mereka yang sudah hadir ini, boleh meninggalkan shalat Jumat karena alasan itu? Inilah pokok permasalahan yang hingga detik ini menggelayuti para fuqaha.

Jika dirunut dari sejarah, memang tidak ada sejarahnya bahwa shalat Jumat itu pernah dilaksanakan secara bergelombang di lokasi yang sama. Namun, beberapa fatwa yang membolehkan shalat Jumat 2 gelombang, sepertinya lebih menimbang ke tiga alasan yang sudah disebutkan di atas, yaitu: 1) waktu Zuhur itu panjang sehingga muat untuk mendirikan lagi Jumat, 2) shalat Jumat itu akmal (lebih sempurna) dari sekedar shalat Zuhur, dan 3) daripada meninggalkan Jumat, maka lebih baik mencari keutamaan lewat pemanfaatan durasi waktu Zuhur sebagai syarat utama mendirikan Jumat.

Alhasil, baik fuqaha yang condong pada intiqal (pindah) ke pendapat lain dari madzhab yang sama dan fuqaha yang memilih bolehnya pendapat pendirian Jumat secara bergelombang, keduanya sama-sama mencari fadlilah/keutamaan melaksanakan shalat Jumat dibanding langsung mutlak memilih ke meninggalkan shalat Jumat sama sekali dan melaksanakan shalat Zuhur. Hanya mahal qiyasnya yang berbeda. Untuk pendapat terakhir ini, mahal qiyasnya adalah soal waktu dan mencukupinya jamaah.

Dengan berangkat dari konsep waktu ini, kemudian ditarik sebuah qaidah:

الحاجة تنزل منزلة الضرورة

“Kebutuhan (pengadaan Jumat 2 gelombang) itu menempati derajat dlarurat.”

Atau qaidah:

المشقة تجلب التيسير

“Kesulitan mengharuskan mengambil kemudahan.”

Dan yang dianggap mudah oleh fuqaha yang condong pada pelaksanaan Jumat 2 gelombang ini, adalah seiring terbatasnya masjid dan mengertinya masyarakat terhadap syarat dan rukun Jumatan, maka dilakukanlah shalat Jumat di satu tempat.

Jika benar bahwa pendapat fuqaha’ dari kalangan ini dilaksanakan, maka sebenarnya ada sisi maslahatnya juga, khususnya bagi para pekerja industri yang harus bergantian melaksanakan shift giliran menjaga mesin industri di kala hari Jumat dan bertepatan dengan waktu shalat Jumat. Mereka bisa bergiliran untuk melaksanakan ibadah Jumat itu, melalui rangkaian gelombang pelaksanaan Jumatan. Apalagi dalil pendirian shalat Jumat ini merupakan perintah Allah SWT secara langsung di dalam Al-Qur’an:

يَا أَيهَا الَّذين آمنُوا إِذا نُودي للصَّلَاة من يَوْم الْجُمُعَة فَاسْعَوْا إِلَى ذكر الله

“Wahai orang-orang yang beriman, ketika diserukan panggilan untuk shalat di hari Jumat, maka bersegeralah kepada mengingat Allah!”

Di dalam Shahih Muslim, Rasulullah saw. bersabda:

لقد هَمَمْت أَن آمُر رجلا فَيصَلي بِالنَّاسِ ثمَّ أحرق على رجال يتخلفون عَن الْجُمُعَة بُيُوتهم

“Sungguh, aku ingin sekali memerintahkan seseorang agar ia shalat bersama manusia yang lain, kemudian aku datangi rumah-rumah orang yang meninggalkan Jumat dan aku bakar rumah mereka.”

Masih di dalam kitab hadis Shahih Muslim, berdasar sumber riwayat yang lain dijelaskan bahwa:

عن الحكم بن ميناء أن عبد الله بن عمر وأبا هريرة حدثاه أنهما سمعا رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول على منبره : ((لينتهين أقوام عن ودعهم الجمعات أو ليختمن الله على قلوبهم ثم ليكونن من الغافلين)) رواه مسلم

“Dari al-Hakam bin Mina’ bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma berkata: Keduanya mendengar dari Rasulullah saw., beliau bersabda: ”Hendaklah suatu kaum menghentikan pekerjaannya dari meninggalkan shalat Jumat atau (kalau tidak) Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengunci hati-hati mereka lalu mereka benar-benar menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)

Di dalam salah satu hadis riwayat Ashhaabu as-Sunan juga disebutkan bahwa,

من ترك ثَلَاث جمع تهاونا طبع الله على قلبه

Barang siapa meninggalkan tiga kali shalat Jumat karena mengentengkannya, maka Allah akan kunci mati hatinya.”

Berangkat dari beberapa dalil pokok di atas, dan menimbang bahwa 1) para pekerja industri itu mendengar seruan adzan Jumat namun mereka tidak bisa datang karena shift yang harus dipatuhi, 2) mereka tidak termasuk udzur syar’i sebagai yang sakit/musafir, 3) melaksanakan shalat Jumat adalah lebih sempurna dari sekedar melaksanakan shalat Zuhur saja, maka pendirian Jumat dengan 2 gelombang itu adalah yang lebih afdlal buat mereka dibanding sekedar shalat Zuhur saja. Belum lagi, ada ancaman dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa kaum muslimin yang meninggalkan shholat Jumat karena pekerjaan, akan dikunci mati hatinya oleh Allah SWT.

Lantas pendapat mana yang seyogianya kita rujuk, dalam pada ini?

Menimbang penjelasan dari masing-masing pihak yang membolehkan dan menganggap tidak sahnya shalat Jumat gelombang kedua, maka dalam konteks ini, untuk kita atau pekerja industri yang kebagian shift kedua, sebaiknya merujuk ke pendapat ulama yang membolehkan, atau melarangnya. Bagi pihak yang mengacu pada tidak sahnya shalat Jumat gelombang kedua, maka ada baiknya melaksanakan shalat Zuhur. Adapun pihak yang mengacu nilai maslahat yang ditampilkan dari pelaksanaan Jumatan 2 gelombang, maka sebaiknya mengacu pada pendapat ulama yang membolehkan. Sebagaimana kaidah:

الخروج من الخلاف مستحب

“Keluar dari perselisihan adalah yang dianjurkan.”

Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here