Ini Hukum Transaksi Jual-Beli bagi Tunatera dalam Islam

0
1461

BincangSyariah.Com –Apakah boleh bagi tunanetra melakukan transaksi jual beli, sebagaimana orang yang bisa melihat?

Terkait kebolehan dan keabsahan trasaksi jual beli bagi tunanetra masih terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama empat mazhab. Secara umum, ada dua pendapat di kalangan ulama empat mazhab mengenai transaksi jual beli bagi tunanetra.

Pertama, menurut ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah, tunanetra boleh dan sah melakukan akad jual beli. Dia sah menjual barang dari orang lain dan sah pula membeli barang dari orang lain. Hal ini karena orang buta bisa mengetahui benda yang ingin dijual atau dibeli dengan indra peraba, penciuman atau melalui rasa.

Bahkan menurut mereka, tunaetra tidak hanya sah melakukan transaksi jual beli, tapi juga sah melakukan akad pinjaman, gadai dan hibah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

قال الحنفية والمالكية والحنابلة: يصح بيع الأعمى وشراؤه وإجارته ورهنه وهبته

“Ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah berkata, ‘Sah jual belinya orang buta, pinjamannya, gadaiannya dan hibahnya.”

Bagi mereka, ketika orang buta sudah ridha untuk melakukan akad jual beli, maka akadnya sudah dinilai sah. Hal ini karena dasar utama dari akad jual beli adalah sama-sama ridha antara penjual dan pembeli. Ini berdasarkan hadis riwayat Ibnu Majah dan al-Baihaqi dari Abu Sa’id al-Khudri, Nabi Saw bersabda;

إنما البيع عن تراض

“Sesungguhnya jual beli didasarkan atas saling ridha.”

Kedua, menurut ulama Syafiiyah, orang buta tidak sah melakukan akad jual beli kecuali sebelum buta dia telah mengetahui barang yang hendak dijual atau dibeli. Bagi mereka, tunanetra tidak mengetahui barang yang hendak dijual atau dibelinya sehingga dia tidak bisa membedakan antara barang yang bagus dan jelek. Karena itu, dia tidak boleh dan tidak sah melakukan jual beli.

Baca Juga :  Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Tunanetra

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

وقال الشافعية: لا يصح بيع الأعمى وشراؤه إلا إذا كان قد رأى شيئاً قبل العمى مما لا يتغير كالحديد ونحوه، ودليلهم قصور الأعمى عن إدراك الجيد والرديء، فيكون محل العقد بالنسبة له مجهولاً

“Ulama Syafiiyah berkata, ‘Orang buta tidak sah melakukan akad jual beli kecuali dia telah melihat barangnya sebelum buta dan barang tersebut tidak akan berubah, seperti besi dan lainnya. Alasannya mereka adalah karena keterbatasan tunanetra untuk mengetahui barang yang bagus dan jelek sehingga bagi dia barang tersebut majhul atau tidak diketahui.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here