Ini Dua Tips Mendapatkan Malam Lailatul Qadar Menurut Ulama

0
1416

BincangSyariah.Com – Kedatangan Lailatul Qadar  memang disembunyikan oleh Allah Swt. Kita secara pasti tidak bisa menentukan apalagi menvonis kedatangannya pada suatu malam di antara malam-malam yang berlalu di bulan Ramadan. Apakah malam pertama, kedua ketiga dan seterusnya, bukan berada di ranah kemampuan kita.

Sekalipun kedatangannya menurut penjelasan hadis ditentukan pada salah satu malam akan tetapi terdapat banyak versi. Ada hadis yang mengatakan Lailatur Qadar jatuh pada malam ke 21 bulan Ramadan. Ada pula yang mengatakan terjadi malam ke-23, ke-25, ke-27, atau ke-29 bualan Ramadan. Namun kesimpulannya berdasarkan kerahasiaan terjadinya dan hadis yang menggabungkan di antara beberapa hadis yang berbeda di atas malam ini jatuh pada salah satu malam ganjil pada sepuluh hari terakhir malam-malam bulan Ramadan.

Kondisi demikian menjadikan para ulama mencari kiat dan cara menentukan serta menemukannya sesuai dengan bacaan, pemahaman serta pengalaman mereka masing-masing. Hasilnya pun juga tidak dalam satu kata antara satu ulama dengan lainnya.

Detailnya, kiat dan cara menentukan kedatangannya dapat dilihat dalam penjelasan Al-Habib Mohammad bin Alawi al-Idrus yang dijuluki Habib Sa’ad (ulama yang sangat produktif berkebangsaan Yaman) dalam bukunya Lailatu al-Qadar: Fadhluha wa Alamaatuha wa Ma Yustahab Fi’luha halaman 18 hingga 19 tentang kiat dan cara menentukan malam Lailatu Qadar.

Menurut beliau, ada dua kiat dan metode yang menjadi pegangan ulama salaf dalam menentukan malam Lailatul Qadar yang perlu dijadikan pedoman oleh kita semua khususnya orang-orang yang rindu akan menemui malam yang sangat mulia ini. Walaupun antara keduanya saling bertabrakan. Hal demikian dapat dilihat  sebagai berikut:

Pertama, kiat dan metode yang dijadikan pedoman oleh Imam as-Syadili dan Imam Nawawi. Yaitu, jika bulan puasa dimulai hari Ahad dan Rabu maka malam Lailatul Qadar  jatuh pada malam ke 29. Jika dimulai hari Senin, maka jatuh pada malam ke-21. Jika dimulai hari Selasa dan Jumat maka jatuh pada malam ke-27. Jika dimulai dari hari Kamis maka jatuh pada malam ke-25. Dan jika dimulai pada hari Sabtu maka jatuh pada malam ke-23.

Baca Juga :  Apakah Anak Angkat Berhak Mendapatkan Warisan?

Beliau menuturkan bahwa menurut pengakuan Imam as-Syadzili, kiat dan metode ini selalu saja benar dan dialami oleh Imam as-Syadzili semasa hidupnya. Di samping itu menurut beliau, Imam Nawawi menuturkan bahwa inilah pemersatu beberapa hadis yang berseberangan hingga menjadi pedoman yang harus dipilih.

Kedua, kiat dan metode yang diusung oleh Imam Muhyidin Ibnu Arabi. Menurut imam Muhyidin Ibnu Arabi, jika puasa dimulai hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-11. Jika dimulai pada hari Rabu maka jatuh pada malam ke-29. Jika dimulai pada hari Sabtu maka jatuh pada malam ke-21. Jika dimulai pada hari Ahad maka jatuh pada malam 27. Jika dimulai pada hari Senin maka jatuh pada malam ke-19. Jika dimulai pada hari Selasa maka jatuh pada malam ke-15. Dan jika dimulai pada hari Rabu maka malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-17.

Alhasil, kiat dan kedua metode yang dijelaskan di atas murni hanya sebagai acuan dari kita untuk lebih memantapkan amalan-amalan kita dalam menghidupkan malam-malam Ramadan khususnya di beberapa malam ganjil yang disebutkan dalam metode di atas. Bukan malah malah menyepelekan malam-malam lain yang tidak disebutkan di atas. Karena pada dasarnya kita dianjurkan untuk pasang kekuatan dan kesabaran dalam menghidupkan semua malam di seluruh bulan Ramadan bukan tertentu di malam-malam ganjil yang disebutkan dalam kedua metode di atas. Wallahu A’lam bisshawab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here