Ini Delapan Etika Transaksi Bisnis dalam Islam

0
656

BincangSyariah.Com – Di antara salah satu cara kita memenuhi kebutuhan adalah dengan melakukan transaksi dengan orang lain. Di dalam Islam, selain harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, transaksi juga harus dilandasi dengan etika yang baik dan membawa kemaslahatan bersama. Prof. Dr. Muhammad Sayid Tanthawi dalam kitabnya Mu’amalatul Bunuk wa Ahkamuhasy Syar’iyah menyebutkan bahwa etika transaksi bisnis dalam Islam ada delapan.

Pertama, harus memberi kemudahan terutama pada orang yang mengalami kesulitan.

Kedua, mencari rezeki yang halal dan menghindari rizeki yang haram dan syubhat.

Ketiga, berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh harta dan rezeki dengan cara yang benar, dan menggunakan untuk sesuatu yang benar dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Keempat, senantiasa berambisi untuk melakukan usaha-usaha yang bermanfaat, seperti membangun perindustrian, perdagangan, dan usaha-usaha lainnya yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Kelima, menunaikan hak-hak orang lain tanpa menunda-nunda. Seperti, menunda membayar upah buruh, menunda membayar hutang, dan lain sebagainya.

Keenam, membangun semua bentuk transaksi berdasarkan suka sama suka, tidak ada unsur paksaan, memberikan pilihan dan keleluasaan pada orang lain, dan mau menerima persyaratan dari orang lain. (Zikiran Agar Bisnis Lancar)

Ketujuh, semua bentuk transaksi hendaknya dicatat dengan baik dan rapi. Sebab dengan demikian, transaksi lebih bisa menenangkan hati, dan lebih bisa menjaga kewajiban dan hak-hak orang lain. Karena pentingnya catatan dalam transaksi ini, Allah sampai mengingatakan dalam satu ayat yang panjang dalam surah Al-Baqarah. Ayat dimaksud berbunyi sebagai berikut;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ  فَلْيَكْتُبْ

Baca Juga :  Hukum Berbohong untuk Mendamaikan Dua Golongan

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis.

Kedelapan, selalu merasa diawasi oleh Allah dalam setiap aktifitas transaksi yang dilakukan dengan orang lain. Sehingga dengan demikian, tidak timbul niatan dalam hati untuk membohongi dan menipu orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here