Ini Cara Menjaga Kesehatan Mental Menurut al-Balkhi, Psikolog Abad 8 M

0
885

BincangSyariah.Com – Sebelum meneruskan tulisan soal cara menjaga kesehatan mental ini, saya ingin menyatakan beberapa disclaimer.

Pertama, penulis sama sekali bukan psikolog, baik dalam pengertian pernah mendapatkan pendidikan psikologi secara sistematis di universitas atau mengikuti katakanlah pelatihannya, apalagi sampai pada tingkat akademisi dan profesional di bidang psikologi.

Kedua, penulis memilih tema ini karena kebetulan berusaha memahami konten buku karya Abu al-Qasim al-Balkhi yang ditulis dalam bahasa Arab, dan bahasa Arab adalah latar belakang utama pendidikan penulis.

Ketiga, boleh jadi jika diantara pembaca ada yang lebih memahami soal sejarah perkembangan psikologi, akan tidak sepakat dengan judul diatas karena pada dasarnya, berdasarkan pemahaman penulis, di masa itu belum ada pemisahan keilmuan-kelimuan secara rigid di masa sekarang. Abu al-Qasim al-Balkhi sendiri memahami jiwa manusia, lewat karyanya ini, sebagai bagian dari keilmuan filsafat dan ilmu-ilmu rasionalistik yang memang ia tekuni. Tiga disclaimer tadi penting dengan harapan bisa membuka khazanah yang lebih luas terkait pengetahuan tentang kesehatan mental tersebut yang boleh jadi sudah dibicarakan di berbagai peradaban, di berbagai zaman.

Seperti sudah di bahas dalam artikel tentang kitab Mashalih al-Abdan wa al-Anfus ini, al-Balkhi selalu menekankan bahwa dalam diri manusia itu yang perlu dijaga bukan hanya kesehatan fisik, tapi juga mental. “Inna li nafs al-Insan shihhatan wa saqman, kamaa anna li badanihi shihhatan wa saqman” (sesungguhnya jiwa manusia itu bisa sehat atau sakit layaknya fisiknya (juga bisa sehat atau sakit), demikian pungkas al-Balkhi dalam bab kedua buku tersebut yang berjudul fi tadbiir hifzhi shihhat al-anfusi ‘alayhaa (bab tentang mengelola kesehatan jiwa) (h. 118-119).

Menurut al-Balkhi, kesehatan mental atau jiwa itu terjadi ketika elemen-elemen dalam diri ini seluruhnya tenang dan stabil, dalam arti tidak ada hal-hal yang dapat memicu menjadi tidak stabil, semisal kondisi marah, khawatir, atau ketakutan.

Baca Juga :  Ini Bantahan Larangan Salati Jenazah Pendukung Pemimpin Non-Muslim

Al-Balkhi kemudian kembali menganalogikan dengan kesehatan tubuh. Katanya, kesehatan tubuh bisa terjaga kalau bisa terlindungi dari hal-hal eksternal maupun internal. Hal eksternal misalnya, cuaca panas dan dingin (yang ekstrim, tentu saja), juga hal-hal yang melukai fisik. Hal internal, kalau menurut al-Balkhi, adalah menjaga makan yang seimbang, mengkonsumsi yang bermanfaat, menjauhi yang negatif bagi tubuh.

Kesehatan mental juga demikian. Ada hal-hal eksternal yang harus dihindari. Diantaranya adalah, menurut al-Balkhi, mendengar atau melihat sesuatu yang membuat manusia menjadi galau atau khawatir, atau yang menyebabkan terdorong untuk bersikap takut, galau, bahkan marah. Sementara hal-hal internal adalah, memikirkan hal-hal yang menyebabkan kita bersikap seperti yang disebutkan sebelumnya, yang disebabkan oleh hal-hal eksternal tadi. Hemat penulis, dan ini sangat terbuka untuk diperdebatkan dan dikoreksi, bukankah pernyataan tersebut sebenarnya sudah sama dengan anjuran untuk tidak overthinking, diantara penyebab yang menyebabkan kesehatan mental terganggu misalnya menjadi depresi. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here