Ini Beda Berharap dengan Berkhayal Menurut Ulama Shufi

0
884

BincangSyariah.com – Ibnu Athaillah berkata “harapan adalah suatu keinginan yang dibarengi oleh tindakan. Jika tidak, maka itu termasuk khayalan kosong”. Sebagian ulama berpendapat bahwa harapan adalah ketergantungan hati dengan sesuatu yang diingini di masa depan yang disertai tindakan untuk menghasilkannya. (Baca: Berharap kepada Allah Melebihi Rasa Takut Kepada-Nya, Pantaskah?)

Hal senada diungkapkan oleh Syekh Zaruq sebagaimana dinukil Syekh Ibnu Ajibah dalam Kitab Iqozhul Himam, bahwa khayalan merupakan keinginan yang tidak diikuti oleh tindakan untuk menghasilkannya (Iqozhul Himam, hal 177). Jadi, diantara harapan (raja’) dan khayalan (umniyah) terdapat pemisah yang sangat jelas yang membedakan keduanya. Itulah tindakan.

Ketika seseorang menginginkan sebuah rumah kemudian dia bekerja keras untuk mewujudkan keinginan itu maka itulah yang disebut harapan meskipun mungkin belum terwujud. Berbeda jika seandainya orang itu tidak mengikuti keinginannya memiliki rumah dengan kerja keras maka itu yang disebut khayalan. Dalam Islam berharap (raja’) merupakan sifat terpuji yang seharusnya melekat pada  jiwa setiap muslim. Sebaliknya umniyah (khayalan) merupakan sifat tercela yang harus dijauhi seorang muslim.

Harapan adalah sifat seorang mujahid sementara khayalan adalah sifat pemalas. Berharap melahirkan kerja keras sementara berkhayal melahirkan omong kosong. Orang yang berharap merasakan kenikmatan saat ia bertindak sementara orang yang berkhayal merasakan kenikmatan saat ia berbicara. Cita-cita seorang pengharap jelas dan nyata sedangkan cita-cita pengkhayal kabur dan sirna.

Jika seseorang mengharapkan sesuatu maka ia harus melakukan tindakan yang menjadi persyaratan terwujudnya sesuatu yang diharapkan dan menghilangkan segala hal yang menyebabkan kegagalan dalam memperoleh sesuatu tersebut. Orang yang mengharapkan surga wajib baginya beribadah dan menjauhi kemaksiatan.

Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa surga bisa didapatkan dengan beribadah sementara di waktu yang lain ia bermaksiat maka ia seperti orang yang menghidupkan api dengan air. Di satu sisi ia berusaha keras bagaimana agar api bisa hidup, di sisi yang lain ia sesungguhnya sedang berusah memadamkan api yang coba ia hidupkan.

Baca Juga :  Mengapa Ahli Fikih Harus Kekinian?

Bahkan Syaikh Ma’ruf Al-Karkhy berkata “Menginginkan surga tanpa dibarengi dengan amal merupakan satu dosa dari beberapa dosa besar, dan berharap pertolongan tanpa melakukan sebab (perjuangan) merupakan salah satu bentuk ketertipuan….”. Di dalam Al-Qur’an (2:282) Allah menjanjikan pengajaran bagi mereka yang mau bertakwa, sebagaimana Firman-Nya “Bertakwalah kalian kepada Allah maka Allah akan ajari kalian”.

Jadi, Allah menjadikan wujud pengajaran setelah wujudnya takwa. Barangsiapa yang bertakwa maka Allah akan ajarkan ia ilmu. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak menghadirkan wujud takwa maka Allah tidak akan menghadirkan wujud pengajaran baginya. Senada dengan firman Allah, sabda Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani “Pastinya ilmu (bisa diraih) dengan belajar, sementara sifat hilm (tidak mudah marah) dapat diraih dengan tahallum (berusah sabar). Barangsiapa mencari kebaikan ia akan dapatkan dan barangsiapa menjauhi keburukan ia akan dihindarkan”.

Dari firman Allah dan hadist Nabi tersebut kita dapat mengambil sebuah pelajaran “bukanlah sebuah harapan, keinginan yang datang dari seseorang yang tidak tau cara mewujudkannya”. Orang yang menginginkan ilmu dari Allah ia harus bertakwa sehingga ia  perlu belajar bagaimana caranya bertakwa.

Orang yang ingin mendapatkan ilmu maka ia harus belajar sehingga ia perlu belajar caranya belajar yang baik. Orang yang menginginkan sifat hilm ia harus berusaha secara terus-menerus untuk selalu bersabar. Maka ia pun harus belajar bagaimana caranya bersabar. Disini secara jelas dapat kita lihat bahwa antara harapan dan ilmu memiliki hubungan yang sangat erat.

Harapan (raja’) merupakan kombinasi dari keinginan, tindakan dan ilmu. Ketika sebuah keinginan disertai oleh tindakan yang dilakukan berdasarkan ilmu disitulah pertolongan Allah akan didapatkan. Diluar itu sungguh hanya merupakan khayalan yang dibenci oleh Allah. Maka bagaimana Allah akan menolong orang yang berkhayal? Wallahu A’lam Bisshowab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here