Ini Bahaya Memanjakan Hawa Nafsu

0
802

BincangSyariah.Com – Hawa  nafsu adalah salah satu unsur dalam jiwa manusia yang memiliki  kecenderungan tabiat terhadap apa yang sesuai dengannya. Seringakali hawa nafsu mengajak kepada kenikmatan tanpa memperhatikan akibatnya.

Seperti itu pula yang disebutkan Ibnu Qayyim, bahwa kalaulah seseorang berpendapat bahwa hawa nafsu itu mutlak tercela, hal ini dapat dipahami karena pada umumnya hawa nafsu melahirkan yang haram atau mengarah pada sesuatau yang haram karena kadarnya yang melampaui batas.

Dalam Qashidah Burdah, Imam Al Bushiri mengatakan:

والنقس كالطفل إن تهمله شب # على حب الرضاع وإن تفطمه ينفطم

Nafsu itu laksana anak kecil, jika kau biarkan maka akan tumbuh remaja dengan suka menetek. Jika kau sapih maka ia akan berhenti

Menyapih adalah sebuah usaha untuk memberhentikan anak bayi dari menyusu ASI pada ibunya. Jika tidak disapih, maka bayi tersebut akan terus merasakan nyamannya air susu ibu sampai ia dewasa. Menyapih anak seperti itu tentu perkara yang sulit, namun tetap harus dilaksanakan untuk mempersiapkan anak untuk meneruskan perkembanagan jiwanya menjadi remaja dan dewasa. Begitu pula dengan seorang muslim, menyapih diri dari menyusu pada dunia adalah perkara yang dibutuhkan. Karena jika tidak, maka ia akan terus bergantung pada dunia yang condong pada hawa nafsu yang menyenangkan.

Pesan Imam Bushiri di atas mengingatkan kita pada kisah Nabi Yusuf yang dimaktubkan dalam QS Yusuf ayat 53:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي

karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku 

Ayat yang mengabarkan bahwa nafus itu tidak bersifat netral, mealinkan sudah memiliki kecondongan, yang jika dibiakan maka akan terus emngarah pada apa yang disenangi, dan kecondongan nafsu itu menuju ke arah yang buruk. Seringkali nafsu menghasut manusia untuk melampaui batas dari petunjuk wahyu. Nafsu terus merengek agar bisa mengenyam segala kesenangan dengan menghalalkan berbagai cara. Seolah-olah nafsu mengelola untuk menyibukkan manusia dengan semua kenyamanan dunia hingga ia lalai dari berdzikir dan menghamba kepada Allah. begitulah cara hawa nafsu menyeret manusia pada berbagai titik larangan Allah, pelan tapi pasti.

Hawa nafsu itu tidak ada ujungnya dann tidak akan terpuasi. Semakin dituruti maka semakin liar ia mencari-cari. Begitulah sejatinya hawa nafsu akan selalu menuntun manusia pada jalan yang tidak benar. Rasulullah pernah menggambarkan sebuah nafus manusia dalam hadis-Nya yang berbunyi:

لو كان لابن آدم واديانِ من مالٍ لابتغى ثالثًا، ولا يملأ جوف ابن آدم إلا التراب، ويتوب الله على مَن تاب

Andaikan anak Adam memilki dua ladang emas, niscaya ia akan mencari ladang emas yang ketiga, dan tidak ada yang bisa memenuhi perut (keinginan) anak Adam kecuali tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa saja yang bertobat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here