Ini Argumentasi Salat Para Koruptor Tidak Diterima

0
371

BincangSyariah.Com – Salat lima waktu merupakan rukun Islam yang wajib dilaksanakan setiap Muslim. Agar salat kita diterima oleh Allah dan memberikan manfaat kepada kehidupan pribadi dan sosial, maka penting untuk memperhatikan beberapa syarat sahnya salat seperti disebutkan oleh Muḥammad ad-Dû’ânî dalam Gayâh al-Munâ Syarḥ Safînah an-Najâ, yaitu:

Pertama, suci dari hadas besar dan kecil,

Kedua, suci dari najis, baik pakaian, badan, maupun tempat yang digunakan salat,

Ketiga, menutup aurat,

Keempat, menghadap kiblat,

Kelima, masuk waktu salat,

Keenam, mengetahui kewajiban salat,

Ketujuh, tidak meyakini suatu yang fardu dalam salat sebagai perbuatan sunah,

Kedelapan, tidak mengerjakan hal-hal yang membatalkan salat, seperti berbicara, makan, minum dan lain sebagainya.

Selain beberapa syarat yang telah disebutkan, menurut Imam Nawawî al-Jâwî dalam Syarḥ Sullam at-Tawfîq, terdapat syarat lain yang harus diperhatikan dan dipenuhi oleh orang yang salat, yaitu: melaksanakan salat hanya karena Allah, menjaga diri dari makanan dan minuman haram, tempat yang digunakan harus halal dan harus menghadirkan hatinya ketika salat.

Berkaitan dengan minuman, makanan dan tempat yang didapatkan dengan cara haram, secara detail Imam Nawawî al-Jâwî mengutip beberapa penjelasan para ulama seperti Imam Sahl yang mengatakan bahwa, barang siapa memakan barang haram, maka hijab yang menutupi hatinya tidak akan terbuka dan akan segera mendapatkan siksa, di mana salatnya, puasanya dan sedekahnya tidak bermanfaat.

Imam asy-Syâżilî berkata:

“Barangsiapa memakan barang halal, maka sesungguhnya hatinya akan lembut dan terang, sedikit tidurnya dan tidak tertutup dari kehadiran Allah. Barangsiapa memakan barang haram, maka hatinya keras, kasar dan gelap, terhijab dari kehadiran Allah dan banyak tidur.

‘Alî al-Khawwâṣ berkata:

Baca Juga :  Bolehkah Mantan Koruptor Menjadi Caleg dalam Hukum Islam?

Barang siapa memakan barang haram dan menyibukkan diri dengan ibadah, maka ia seperti merpati yang bersusah payah mengerami telur busuk yang tidak kunjung menetas dan hanya menjadi busuk.

Nabi saw. bersabda:

“Barangsiapa salat menggunakan baju yang dibeli seharga 10 dirham dan 1 dirhamnya merupakan uang haram, maka salatnya tidak diterima.” Sehingga tidak heran apabila Ibn Mas’ud berkata, “ketika barang halal dan haram bercampur, maka yang halal dikalahkan.”

Dengan demikian, kalau 1 dirham saja tidak diterima, lalu bagaimana dengan salatnya para koruptor yang suka mencuri uang rakyat hingga milyaran rupiah? Apalagi mereka secara jelas telah mengkhianati amanah Tuhan dan rakyat.

Kalau 1 dirham saja bisa menutupi kehadiran Allah Yang Maha Suci, lalu bagaimana dengan ratusan juta yang biasa dicuri oleh para koruptor dan secara nyata merusak tatanan bernegara? Kalau 1 dirham saja bisa membuat ibadah seperti salat dan puasa tidak bermanfaat, lalu bagaimana dengan 1 miliar yang biasa dirampas oleh para koruptor dan secara terang-terangan menyengsarakan kehidupan rakyat?

Hal ini mengingat dalam konteks Indonesia tidak sedikit―untuk tidak mengatakan semuanya―para koruptor yang beragama Islam. Tentu mereka mengetahui kewajiban salat dan melaksanakannya sebagai seorang Muslim. Meskipun misalnya, hanya sekali dalam seminggu (salat Jumat) atau mungkin dua kali dalam setahun (salat sunah hari raya Idul Fitri dan Adha). Wa Allâh A’lam wa A’lâ wa Aḥkam…

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here