Ini Alasan Diharamkannya Nikah Muth’ah

0
430

BincangSyariah.Com – Pernikahan dalam Islam adala ikatan dan perjanjian yang berlandaskan nait yang baik sehingga bisa mememtik buah kejiwaan yaitu ketentraman, kecintaan dan kasih sayang. Pernikahan juga memperbanyak keturunan sehingga bisa membanggakan umat Nabi Muhammad di akhirat kelak. Disbutkan dalam QS An-Nahl: 72,

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?

Sedangkan nikah muth’ah adalah pernikahan yang hanya berlaku dalam beberapa waktu tertentu dengan upah tertentu pula. Pernikahan tersebut tentunya tidak menemukan buah kejiwaan yang disebutkan dalam ayat tersebut. Nikah muth’ah memang pernah diperbolehkan oleh Rasulullah, ketika masa peperangan dan bepergian. Namun setelah itu Rasulullah mengharamkannya untuk selama-lamanya. Sabda Nabi mengingatkan:

…يَآاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّي قَدْ كُنْتُ اَذِنْتُ لَكُمْ فِى اْلاِسْتِمْتَاعٍ مِنَ النِّسَاءِ وَاِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ…

…“Wahai manusia! Sesungguhnya aku pernah mengizinkan kamu untuk nikah mut’ah, dan (sekarang) sesungguhnya Allah telah mengharamkan nikah mut’ah tersebut sampai hari kiamat…” (HR Muslim).

Sebagian orang mungkin bertanya-tanya, kenapa Rasulullah memperkenankan sahabatya untuk nikah mut’ah pasa masa itu? Perlu diketahui bahwa waktu itu adalah masa transisi, dimana perzinaan masih tersebar dimana-mana. Pada masa itu Islam menyerukan untuk berperang dan mereka pasti jauh dari istri. Sehingga bagi yang imannya tidak kuat akan mudah untuk berbuat zina. Sehingga nikah muth’ah disebutnya sebagai jalan untuk mengatasi problem tersebut, dan juga merupakan jenjang diundangkannya hukum pernikahan yang smepurna.

Baca Juga :  Metode Rasional dalam Mazhab Hanafi

Pengharaman khamar dan riba yang dilakukan secara bertahap, karena memang kedua hal tersebut terlah terbiasa dan tersebar luas di jaman sebelum Islam datang. Begitu pula dengan perihal haramnya zina, Rasulullah tempuh dengan jalan yang bertahap juga. Yang awalnya diperbolehkan ketika terpaksa, setelah itu haram selamanya. Penegasan dari sebuah hadis menegaskan:

عَنْ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ عَامَ أَوْطَاسٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ثُمَّ نَهَى عَنْهَا

Salamah bin Al Akwa’ berkata : “Rasulullah SAW member keringanan pada kami dalam masalah mut’ah wanita-wanita pada tahun Authos selama 3 hari, kemudian beliau melarangnya.

Pada hakikatnya, nikah muth’ah keluar dari tujuan awal sebuah pernikahan. Dimana nikah muth’ah tidak menekankan untuk mendapatkan keturunan, tetapi hanya untuk kenikmatan sesaat. Tidak ada gambaran untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Bahkan dampak negative dari nikah muth’ah tersebut adalah tersebarnya penyakit kelamin seperti spilis, raja singa, hiv, dan sejenisnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here