Ini Alasan Ahlulkitab itu Bukan Kaum Musyrik

0
679

BincangSyariah.Com – Muhammad Asad dalam the Message of The Qur’an sering mengkritisi penerjemahan Ahli Kitab dalam bahasa Inggris sebagai people of the book. Asad menilai bahwa terjemahan ahli kitab sebagai the people of the book terlalu harfiah dan tidak melihat ko-teks dan konteks ayat yang bersangkutan. Sehingga, bagi Asad, terjemahan tersebut tidak terlalu memperhatikan konteks ayat-ayat al-Quran dan kenyataan sosio-historisnya.

Lebih dari itu, Asad menawarkan terjemahan yang sekiranya cukup representative terhadap makna Ahli Kitab yang dimaksud oleh al-Quran itu sendiri. Asad menerjemahkan frase Ahli Kitab sebagai the followers of the earlier revelations yang artinya “para pengikut ajaran wahyu-wahyu terdahulu”, yakni ajaran atau wahyu sebelum Islam.

Jika Ahli Kitab diterjemahkan secara luas sebagai para pengikut ajaran wahyu-wahyu terdahulu, tentunya ada banyak ajaran-ajaran wahyu sebelum Islam yang tidak melulu Yahudi dan Kristen. Sampai di sini, terjemahan Asad memperluas makna Ahli Kitab yang tidak terbatas pada Bani Israel namun juga bisa kepada bangsa-bangsa yang pernah diajarkan ajaran oleh nabi-nabi yang tertulis dalam bentuk kitab. al-Kitab sendiri dalam The Message of The Qur’an tidak melulu berarti buku namun juga berarti revelation “wahyu”.

Tinggal yang menjadi persoalan ialah apakah Ahli Kitab itu secara keyakinan dapat dianggap sebagai orang musyrik?

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama terkait status keyakinan Ahli Kitab apakah dikategorikan sebagai orang musyrik atau bukan. Sebagian ulama, ada yang berpandangan bahwa Ahli Kitab masuk ke dalam golongan orang-orang musyrik. Tentu pandangan ini juga pada tahap selanjutnya berimplikasi kepada pemberian status hukum yang sama dengan yang diberikan kepada kaum musyrik. Kendati demikian, sebagian besar ulama berpandangan bahwa ahli kitab tidak termasuk ke dalam golongan kaum musyrik.

Baca Juga :  Alfatihah sebagai Refleksi Hidup dalam Harmoni

Salah satu ulama yang dengan tegas menyatakan bahwa Ahli Kitab tidak tergolong orang-orang musyrik ialah Ibnu Taymiyyah al-Harrani. Ibnu Taymiyyah menyebut pandangan Abdullah bin Umar  bahwa kaum Ahli Kitab, terkhusus umat Kristiani adalah musyrik karena mereka berkeyakinan bahwa  tuhan mereka adalah Yesus Kristus. Ibnu Taymiyyah menolak pandangan demikian. Dalam Ahkam az-Zawaj, Ibnu Taymiyyah mengemukakan argumen sebagai berikut:

إن أهل الكتاب لم يدخلوا في المشركين. فجعل أهل الكتاب غير مشركين بدليل قوله: “إن الذين آمنوا والذين هادوا والنصارى والمجوس والصابئين والذين أشركوا…” (سورة الحج، الأية 17).

“Sesungguhnya Ahli Kitab tidaklah termasuk ke dalam golongan kaum musyrik. Menjadikan Ahli Kitab sebagai tidak tergolong kaum musyrik dapat dilihat pada firman Allah: “Sesungguhnya mereka yang beriman, dan mereka yang menjadi Yahudi, kaum Shabi’in, kaum Kristen dan kaum Majusi serta mereka yang melakukan syirik…” (Q.S. al-Hajj/22:17).”

فإن قيل فقد وصفهم بالشرك بقوله: “اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله والمسيح ابن مريم وما أمروا إلا ليعبدوا الله إلها واحدا لا إله إلا هو، سبحانه وتعالى عما يشركون.” (سورة التوبة، 31)، قيل: إن أهل الكتاب ليس في أصل دينهم شرك ولكن النصارى ابتدعوا الشرك، كما قال: “سبحانه وتعالى عما يشركون.” فحيث وصفهم بأنهم أشركوا فلأجل ما ابتدعوه من الشرك الذي لم يأمر الله به وجب تميزهم عن المشركين، لأن أصل دينهم اتباع الكتب المنزلة التي جاءت بالتوحيد، لا بالشرك.

“Kalau dikatakan bahwa Allah telah menggolongkan Ahli Kitab ke dalam kaum musyrik dengan argumen firman-Nya: “Mereka bahkan menjadikan para pendeta, para tokoh agama dan Yesus Kristus sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Padahal mereka tidaklah diperintah kecuali hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak ada tuhan selain-Nya. Maha suci Allah atas apa yang mereka sekutukan. ”(Q.S. at-Taubah/9:31), tentu dapat disanggah dengan argumen bahwa pondasi keyakinan agama Ahli Kitab sebenarnya bukan syirik (tapi tauhid). Kendati umat Kristiani telah melakukan syirik, seperti yang difirmankan Allah: “Maha suci Allah dari apa yang telah mereka sekutukan”, namun syirik yang mereka lakukan itu adalah suatu hal yang mereka ada-adakan (sebagai bid’ah) yang tidak diperintahkan oleh Allah. Karena itu, berdasarkan keterangan ini, wajiblah Ahli Kitab itu dibedakan dari kaum musyrik. Sebab, asal-usul agama mereka ialah mengikuti kitab-kitab suci yang diturunkan dari Allah yang mengandung ajaran tauhid, bukan ajaran syirik.”

Baca Juga :  Hukum Mengebiri Hewan Ternak

فإذا قيل أهل الكتاب لم يكونوا من هذه الجهة المشركين، فإن الكتاب الذي أضيفوا إليه لا شرك فيه كما إذا قيل: المسلمون وأمة محمد، لم يكن فيهم من هذه الجهة، لا اتحاد ولا رفض ولا تكذيب بالقدر ولا غير ذلك من البدع، وإن كان بعض الداخلين في الأمة قد ابتدع هذه البدع، لكن أمة محمد صلى الله عليه وسلم لا تجتمع على ضلالة، فلا يزال فيها من هو متبع لشريعة التوحيد، بخلاف أهل الكتاب. ولم يخبر الله عز وجل عن أهل الكتاب أنهم مشركون بالاسم…

“Jadi jika dikatakan bahwa Ahli Kitab itu bukanlah kaum musyrik, itu karena kitab suci mereka itu tidak mengandung syirik. Hal demikian kasusnya sama dengan kaum muslim dan umat Muhammad. Mereka tidak disebut sebagai musyrik lantaran sebagian dari mereka ada yang berkeyakinan ittihadiyyah (kesatuan Tuhan dengan makhluknya), rafdhiyyah, qadariyyah dan bid’ah-bid’ah lainnya. Meskipun sebagian mereka menciptakan bid’ah-bid’ah itu, namun umat Muhammad tidak akan sepakat dalam kesesatan. Karena itu selalu ada di kalangan mereka yang mengikuti ajaran Tauhid, lain dari kaum Ahli Kitab. Dan Allah tidak pernah memberitakan tentang Ahli Kitab itu dengan sebutan kaum musyrik….”

Pandangan ini juga kemudian dielaborasi lebih jauh dan lebih lengkap oleh Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Mannar yang terkenal dan sering dijadikan rujukan utama Muhammad Asad dalam menyusun terjemahan dan tafsir al-Qurannya, The Message of The Qur’an.

Pandangan mengenai tidak dikategorikannya Ahli Kitab ini sebagai musyrik ini penting sekali karena akan berkaitan dengan hal-hal praktis sehari-hari yang timbul dari konsekwensi hukum tentang Ahli Kitab tersebut, dimulai dari sah-tidaknya perkawinan dengan mereka sampai ke soal halal-haramnya makanan mereka.

Baca Juga :  Asal-Usul Pengaruh Ahli Kitab (Yahudi) atas Penulisan Hadis Nabi

Berdasarkan pada pandangan Ibnu Taymiyyah ini, Ahli Kitab oleh al-Quran tidak diklasifikasikan kepada golongan musyrik karena awal mula keimanan yang diajarkan Allah kepada mereka didasarkan kepada ajaran tauhid. sedangkan syirik itu ialah bid’ah yang mereka buat setelah tauhid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here