Ini Alasan Agar Kita Tidak Berprasangka Buruk

0
862

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari berprasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. (QS Al-Hujurât [49]: 12)

 

 

BincangSyariah.Com- Sebagaimana pernah dibicarakan konsep atau ide da­sar ibadah puasa dimaksudkan sebagai pelatihan pe­ngen­dalian diri dari hal-hal yang bersifat lahiriah—se­­perti makan, minum, dan seks yang dapat membatalkan puasa sesuai fiqih formal. Namun, yang tidak kalah prin­sipalnya adalah pengendalian diri dari hal-hal yang bersifat ruhaniah. Hal yang demikian memiliki korelasi positif dengan ibadah puasa, yakni takwa. Dan takwa hanya dapat direflek­­sikan dalam bentuk sikap-sikap terpuji, seperti mampu me­­ngen­dali­kan diri dari munculnya prasangka buruk ter­hadap orang lain (sû’u ’l-zhan), dengki (qaul zûr), dan sikap-si­kap lain yang merugikan sesamanya.

Dalam Al-Quran, Allah Swt. memfirmankan sebuah anjuran agar orang beriman menjauhkan diri dari sikap ber­prasangka buruk terhadap orang lain. Karena hal itu berpo­tensi mengarah kepada penghukuman pribadi atau mela­ku­kan personal judgement. Firman tersebut berbunyi, Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari ber­pra­sangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan­lah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pe­nerima tobat lagi Maha Penyayang (QS Al-Hujurât [49]: 12).

Kalau mau ditelusuri dan direnungkan, dari pelak­sana­an ibadah puasa juga diharapkan akan tumbuh sikap men­da­hulu­kan pra­sangka baik (husn-u ’l-zhan)—dapat disejajar­kan dengan prinsip benefit of doubt—sebagai kebalikan dari sikap sû’u ’l-zhan yang dilarang. Sikap mendahulukan pra­sang­ka baik terhadap orang lain, pada prinsipnya, merupa­kan dimensi yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran berpua­sa, dibuktikan dan diperkuat dengan adanya anjuran dari Ra­sulullah Saw. berkenaan dengan ibadah puasa. Dika­ta­kan­nya, bahwa barang siapa berpuasa tapi tidak dapat me­ngen­da­likan diri dari sikap-sikap buruk, yakni dengki atau perkataan kotor (qaul zûr), maka tidak ada manfaat baginya untuk menjalan­kan ibadah puasa.

Baca Juga :  Hukum Memburu Berkah Melalui Sandal Ulama

Hakikat ibadah puasa adalah pengendalian diri dari segala sikap tidak terpuji. Tentu saja, ibadah puasanya tidak batal dari tinjauan fiqih formal, tetapi dari nilai dan pesan yang akan dituju dalam ibadah puasa itu. Hal ini sebagai­ma­na disabdakan dalam hadis Rasulullah Saw., “Barang siapa tidak mampu meninggal­kan dengki (perkataan kotor) dan mengerjakannya, maka sesungguhn­ya Allah Swt. tidak memiliki kepentingan baginya untuk meninggal­kan makanan dan minum­an­nya.”

Dengan demikian, ibadah puasa tidak saja menyangkut masalah pribadi atau personal, tapi memiliki dimensi sosial yeng tidak bisa dipisahkan. Hal yang serupa juga ditegaskan oleh hadis yang sangat populer yang diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab r.a., “Banyak orang berpuasa, tetapi dari puasanya ia tidak mendapatkan sesuatu, kecuali rasa lapar dan da­haga.”

Di antara cara menumbuhkan sikap-sikap terpuji ada­lah sikap mendahulukan prasangka baik terhadap orang lain. Sikap ini (preassumption) sesuai dengan konsep fitri atau fitrah dalam Islam. Konsep fitrah yang berarti kesucian pri­mor­dial atau asal mengajarkan bahwa pada dasarnya sese­orang tidak boleh dihukumi bersalah atau buruk sebelum ia terbukti melakukan suatu tindakan atau pekerjaan bu­ruk/jahat. Sikap demikian juga paralel atau sejalan dengan ajaran Islam tentang konsep ke-hanîf-an, yakni konsep yang mengajarkan bahwa pada diri manusia ada sebuah gerakan atau dorongan halus yang membuat manusia mencintai dan merin­dukan kesucian. Inilah yang dimaksud dengan fitrah ma­nusia yang tidak akan pernah berubah.

Dalam konsep fitrah, pada ha­kikatnya setiap anak yang la­hir ke alam dunia ini ada dalam kesucian, terlepas dari perilaku orang­tuanya. Artinya dalam Is­lam tidak ditemukan konsep anak haram. Hal ini adalah seba­gai­mana hadis Rasulullah Saw., “Setiap anak yang dilahirkan, ma­ka ia berada dalam fitrah (kesuci­an)nya. Dan kedua orangtuanya yang akan menjadikan ia Yahudi atau Nasra­ni.”

Di kemudian hari, dalam per­kembangannya, khususnya du­nia pendidikan, ditemukan dan dikenal konsep bakat dan minat. Sesuai dengan prinsip-prin­sip pendidikan, konsep ba­kat dan minat perlu dikenali un­tuk kemudian seorang anak di­dik diarahkan dan dikem­bang­kan bakatnya secara maksimal. Dalam Al-Quran, konsep bakat dan minat tersebut dinya­ta­kan dalam, Katakanlah, “Tiap-tiap orang berbuat menurut ke­ada­annya masing-masing” … (QS Al-Isrâ’ [17]: 84).

Baca Juga :  Puasa dan Esensi Ketakwaan

Itulah sebabnya, tugas para pendidik di zaman seka­rang­lah mengenali kemudian mengembangkan setiap po­tensi dan kapasitas bawaan anak didiknya agar anak didik dapat berkembang dan ber­prestasi, membuat achievement se­cara maksimal. Dalam istilah populer, sering kita dengar “Who knows everything, knows noth­ing.” Yang artinya, barang siapa mengetahui banyak masalah, disiplin ilmu, maka se­benarnya ia tidak mengetahui apa-apa.

Hal yang demikian dikarenakan pengetahuannya ten­tang berbagai hal tersebut hanya sebatas permukaan atau dangkal, superficial semata. Dengan sendirinya, sebenarnya ia dapat dikatakan tidak mengetahui atau menguasai ma­salah tersebut.

Konsep pengenalan bakat dan minat tersebut kemu­dian mela­hirkan konsep penjurusan dan spesialisasi, atau pengkhususan dalam berbagai disiplin ilmu. Dengan konsep spesialisasi bidang atau disiplin ilmu, seseorang diharapkan dapat mendalami sebuah disiplin ilmu dengan berbagai de­tail masalahnya secara mendalam.

Kembali menyinggung sikap mendahulukan prasangka baik dengan menyandarkan pada konsep fitrah dan ke-hanîf-an yang menjadi modal dasar setiap manusia, di sisi lain akan melahirkan sikap optimisme. Yakni sikap optimisme saat per­tama-tama menjumpai seseorang. Sikap ini akan sangat mem­­bantu bagi lahirnya sikap-sikap positif yang lain dalam kehidupan sosial.

Sikap berprasangka baik berkaitan dengan pelaksana­an ibadah puasa karena kita dianjurkan menjauhi sikap-si­­kap tidak terpuji, seperti dengki, iri, berkata kotor dan se­­­­­­­­­­­gala sikap yang merugi­kan lainnya. Sudah pasti sikap ter­sebut memiliki keterkaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan.

Sikap berprasangka baik terhadap orang lain juga ber­kait­an erat dengan anjuran mengeluarkan zakat fitrah, seba­gai zakat penyucian diri yang tujuannya membuktikan wu­jud konsep fitrah itu sendiri. Meski demikian, jangan lupa bahwa fungsi zakat fitrah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. adalah untuk menyucikan sikap-sikap tidak terpuji yang dapat mengurangi, atau bahkan dapat mem­batalkan nilai dan pahala ibadah puasa. Zakat fitrah ini sekaligus refleksi nilai kemanusiaan yang terkandung da­lam perintah berpuasa.

Baca Juga :  Islam Melarang Agar Jangan Berkeluh Kesah

Sabda itu, “Zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia, kata-kata kotor, dan ma­kan­an bagi orang miskin, maka barang siapa mengerjakannya sebelum shalat (Idul Fitri), sah sebagai zakat fitrah dan barang siapa mengerjakan setelah shalat, hukumnya adalah sedekah se­perti sedekah lainnya.”[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here