Ini Akibat Berbangga dengan Postingan Kemaksiatan di Media Sosial

1
184

BincangSyariah.Com – Manusia memang tidak pernah luput dari kata salah dan dosa. Namun opsi terbaik di saat kita telah melakukan salah dan dosa adalah memohon ampun kepada-Nya. Bersungguh-sungguh menyesali perbuatannya, tidak mengulanginya kembali dan berbuat amal saleh yang banyak dengan harapan amal saleh tersebut dapat menghapus dosa yang telah lalu.

Namun yang menjadi masalah di zaman sekarang adalah berbanagga dengan setiap salah, dosa atau kemaksiatan yang telah sengaja diperbuat. Fasilitas kekinian dan media sosial hadir dan cukup mendukung mereka yang berbuat kemaksiatan untuk tidak malu-malu lagi memperlihatkan aksi kemaksiatannya. Atau justru seolah-olah mengajak orang lain untk bergabung bersamannya. Padahal Allah sudah mengecam mereka yang menyebarkan berita tidak baik dengan kecaman azab yang pedih di dunia dan di akhiat. Dalam QS An Nur ayat 19 disebutkan:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.

Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari mengatakan bahwa barang siapa yang berkeinginan untuk menampakkan kemaksiatannya dan menceritakan perbuatan tersebut maka dia telah menyebabkan Tuhannya marah kepadanya. Padahal jika ia menutupi perbuatan maksiat tersebut dan meohon ampun kepada-Nya, niscaya Allah akan menutupi aib tersebut dan mengampuninya. Rasulullah bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ}

Baca Juga :  Bagaimana Adab Bertetangga Pada Bulan Ramadan?

Sesungguhnya jika seorang hamba berbuat kesalahan/dosa dititikkan pada hatinya satu titik hitam. Namun bila ia berhenti dari dosa tersebut, beristighfar dan bertaubat, dibersihkan hatinya dari titik hitam itu. Akan tetapi bila tidak bertaubat dan malah kembali berbuat dosa maka bertambah titik hitam tersebut, hingga mendominasi hatinya. Itulah ar-ran (tutupan) yang Allah k sebutkan di dalam ayat: ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.’ (Al-Muthaffifin: 14)” (HR. Ahmad)

Keterangan tersebut mengungkapkan bahwa solusi terbaik ketika telah bermaksiat atau melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah adalah memohon ampun kepada-Nya. Sudah berbuah dosa, namun ia justru berbangga dengan postingan maksiat tersebut, atau menceritakan pengalamannya dan mengajaknya maka sesungguhnya ia dalam dalam keadaan yang mengenaskan, namun ia tidak menyadarinya. Seseorang yang berbangga dengan perbuatan khilafnya, sesungguhnya ia  mengharamkan ampunan Allah bagi dirinya sendiri. Terang-terangan dan berbangga dengan kemaksiatan tersebut bisa juga meyebabkan tersebarnya kemungkaran di antara kita di dunia.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here