Ini 8 Tips Niat I’tikaf di Masjid Agar Lebih Sempurna Menurut Imam al-Ghazali

0
841

BincangSyariah.Com – Satu ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya itu dapat menjadikannya memperoleh keutamaan yang sangat banyak apabila disertai dengan banyaknya niat baik. Berbeda halnya apabila disertai dengan niat riya, karena ia menyandarkan perbuatannya kepada dirinya sendiri, bukan kepada Allah Swt. Maka perilaku yang sejatinya merupakan ketaatan dapat berubah menjadi kemaksiatan. Terkait memperbanyak niat baik, melalui kitab Ihya Ulumiddin, Imam Abu Hamid Al-Ghazali memberikan tips 8 niat i’tikaf di masjid agar lebih sempurna. (Baca: Enam Hal yang Dimakruhkan saat I’tikaf)

Pertama, niat berkunjung ke rumah Allah Swt. Hal ini dapat tercapai apabila seseorang bisa meyakini bahwa masjid yang ia singgahi adalah rumah Allah Swt. Sehingga orang yang mengunjunginya dapat disebut sebagai orang yang mengunjungi Allah Swt. Karena niatnya mengunjungai Tuhannya itulah yang menjadikan ia sebagai orang yang mengharapkan hadirnya ampunan yang dijanjikan Rasulullah. Sebagaimana sabda Nabi yang menjelaskan bahwa Allah akan memulyakan semua orang yang berkunjung kepada-Nya.

مَنْ قَعَدَ فِي المَسْجِدِ فَقَدْ زَارَ اللّٰهَ، وَحَقٌّ عَلَى المَزُوْرِ أَنْ يُكْرِمَ زَائِرَهُ

“Barang siapa duduk di dalam masjid, maka ia telah mengunjungi Allah, dan menjadi hak Dzat yang dikunjungi untuk memuliakan pengunjung-Nya”.

Kedua, menunggu datangnya waktu shalat. Baik ketika setelah melaksanakan shalat maupun memang belum melaksanakan shalat, merupakan amalan ringan yang diberikan janjian ampunan bagi orang yang melakukan.

أَحَدُكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فِيْ صَلاَةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَدْعُوْ لَهُ الْمَلاَئِكَةُ :اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

“Tidaklah seseorang diantara kalian duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci melainkan para Malaikat akan mendoakannya. “Ya Allah ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.” (H.R. Muslim)

Baca Juga :  Tak Bisa I’tikaf di Masjid karena Covid-19? Ini Solusinya dalam Tinjauan 4 Mazhab Fikih

Ketiga, menahan anggota tubuh. Makna dari i’tikaf juga sejatinya bukan hanya duduk berdiam diri di masjid semata. Melainkan perlu adanya upaya memberikan perhatian lebih untuk menahan pandangan, pendengaran, dan anggota tubuh lain supaya jauh dari maksiat. Oleh karenanya, orang yang memasuki masjid dengan niat berdiam diri, sama artinya dengan berniat meninggalkan segala perilaku yang dilarang oleh syariat. Hampir sejalan dengan puasa yang tidak hanya berarti menahan diri dari lapar, tetapi juga menahan diri dari syahwatnya.

Keempat, memfokuskan diri dengan cara menyendiri di masjid. Dengan berniat demikian, seseorang diharapkan dapat lebih memikirkan kehidupannya di akhirat yang kekal, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang membuatnya berpaling dari kuasa-Nya.

Kelima, memaksimalkan diri atau totalitas dalam mengingat Allah Swt. Yakni dengan mendengarkan atau memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya dapat mengambil pelajaran dan mengetahui adanya peringatan di dalamnya.

مَنْ غَدًا إِلَى المَسْجِدِ لِيَذْكُر اللّٰهَ تَعَالَى كَانَ كَالمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ تَعَالَى

“Barang siapa bergegas menuju menuju masjid dengan tujuan mengingat Allah Ta’ala, maka ia layaknya seornng mujadi di jalan Allah Ta’ala.”

Keenam, berniat untuk menjabarkan ilmu yang diketahuinya. Baik dengan cara memberikan hikmah atau mauizah hasanah. Karena masjid tentu tak terlepas dari orang-orang yang belum sempurna shalatnya, bahkan tak terlepas juga dari orang yang melakukan hal-hal yang tidak disyariatkan dalam ritual ibadah. Dengan cara amar makruf yang diwujudkan dengan menunjukkan orang lain menuju jalan agama yang benar, maka akan dilipatgandakan amal kebaikan seseorang ketika di masjid.

Ketujuh, diniatkan untuk mengambil pelajaran dari saudara seiman. Karena setiap orang yang datang ke masjid adalah orang-orang yang memiliki tautan tali asih dengan Allah Swt.

Baca Juga :  Enam Hal yang Membatalkan I’tikaf

Kedelapan, berniat menjauhi dosa dengan alasan malu kepada Allah dan malu untuk melakukan perbuatan dosa di Rumah Allah Swt. Semua itu adalah niat-niat yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali, yang bisa dibangun seseorang, agar kegiatannya duduk di masjid tidak sebatas menjadi kegiatan yang boleh (mubah) semata. Melainkan juga sebagai ibadah yang mengantarkannya menuju ketaatan kepada Allah Swt.

Cara memperbanyak niat ini juga bisa dianalogikan dengan perbuatan-perbuatan yang berkonsekuensi hukum mubah lainnya. Karena orang yang yang melakukan perbuatan mubah bisa jadi diartikan sebagai tindakan menjauhi segala perkara yang dilarang dalam syariat. Sedangkan menjauhkan diri dari segala maksiat adalah amal baik yang diperintahkan syariat. Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here