Tanda Penceramah yang Ikhlas Menyampaikan Ceramahnya

0
158

BincangSyariah.Com – Riya memang dapat diartikan sebagai perilaku memamerkan amal atau kepura-puraan dalam beramal. Tetapi secara lebih mendalam, Imam Al-Ghazali mengajukan definisi bahwa riya adalah perilaku yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan tempat di hati manusia yang ada di sekelilingnya. Hal itu dapat tercapai apabila orang-orang memandang atas perilaku baiknya semata.

Sebagaiman dikutip oleh Imam Al-Ghazali, Imam Ali bi Abi Thalib menyebutkan tiga ciri-ciri orang riya.

قال علي بن أبي طالب: لِلْمُرَائِي ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ؛ يَكْسَـلُ إذَا كَانَ وَحْدَهُ، وَيَنْشَـطُ إذَا كَانَ فِي النَّاسِ، وَيَزِيدُ فِي الْعَمَلِ إذَا أُثْنِيَ عَلَيْهِ وَيَنْقُصُ إذَا ذُمَّ

Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata: “Terdapat tiga ciri-ciri bagi orang riya; ia malas ketika sedang sendirian, bersemangat ketika berada di tengah banyak orang, menambah amalnya ketika dipuji dan menguranginya ketika dicela.”

Uraian Imam Ali di atas merupakan kriteria yang dimiliki orang riya. Lantas, bagaimana bisa diketahui bahwasanya seorang itu tidak memiliki tendensi riya? Bagaimana ciri-ciri mubalig atau penceramah yang ikhlas dalam menyampaikan ilmu atau nasihat?

Melalui kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menyebutkan tiga tanda bagi seseorang yang ikhlas ketika menyampaikan ceramah.

Pertama, tidak menyepelekan orang lain.

Orang yang benar-benar alim dan mampu mengamalkan kealimannya tentu akan sangat bergembira apabila menjumpai orang yang lebih alim darinya. Karena orang yang ditemuinya itu sangat mungkin untuk dijadikan sebagai guru yang bisa diambil pelajaran darinya.

Terkait tanda keikhlasan seseorang dalam menyampaikan ilmu ataupun nasihat, Imam Al-Ghazali mengajukan kriteria bahwa orang tersebut harus mampu untuk tidak menyepelekan orang lain. Apabila menjumpai orang yang lebih alim dan lebih dapat diterima masyarakat dibanding ia, di daerah dakwahnya, ia mampu berbahagia–secara lahir dan batin–akan kehadiran orang tersebut.

Baca Juga :  Humor Nasrudin Hoja: Nasruddin Bermimpi

أنه لو ظهر من هو أحسن منه وعظا أو أغزر منه علما، والناس له أشد قبولا، فرح به ولم يحسده

“Bahwasanya apabila terdapat orang yang lebih baik petuahnya dan lebih berlimpah ilmunya, orang-orang pun lebih bisa menerimanya, maka ia turut bahagia dan tidak terbesit rasa dengki terhadapnya.”

Kedua, konsisten dengan yang disampaikan.

Seorang yang memang niatnya tulus untuk menyampaikan ilmu, maka ia tak akan gentar hatinya dalam menyampaikan kebenaran. Tak akan berubah ucapannya meski yang ia hadapi ialah orang yang lebih tinggi pangkatnya.

Senada dengan uraian tersebut, Imam Al-Ghazali juga menjelaskannya dalam masterpiece beliau.

أن الأكابر إذا حضروا مجلسه لم يتغير كلامه، بل بقي كما كان عليه فينظر إلى الخلق بعين واحدة

“Apabila para pembesar hadir dalam majelisnya, maka perkataannya tidak menjadi berubah. Akan tetapi tetap teguh sebagaimana sebelumnya, karena ia mampu memandang semua makhluk dengan pandangan yang sama.”

Ketiga, tidak hanya untuk mencari pengikut.

Menyampaikan ilmu itu bukan untuk banyak-banyakan mencari pengikut, melainkan untuk menjalankan perintah Allah Swt, serta menggapai ridha-Nya. Hal ini sejalan dengam kriteria selanjutnya yang diajukan oleh Imam Al-Ghazali.

أن لا يحب اتباع الناس له في الطريق والمشي خلفه في الأسواق

“Tidak terlalu suka membuat manusia mengikutinya ketika di jalan dan membuat mereka berjalan di belakangnya ketika di pasar.”

Terdapat sebuah cerita tentang Imam Ibnu Malik, pengarang Nadzam Alfiyyah Ibnu Malik. Ketika berdakwah, beliau sudah berusaha menyampaikan ilmu yang diketahuinya, akan tetapi tidak ada orang yang tertarik dengan ajakannya. Bahkan menurut sebagian riwayat, beliau hanya memiliki satu orang murid, yakni Imam An-Nawawi.

Tetapi apa yang bisa kita lihat sekarang? Ilmu-ilmu Allah yang disampaikan Imam Ibnu Malik dalam bentuk karya, dipelajari oleh para penuntut ilmu di berbagai belahan dunia. Bahkan penguasaan terhadap kitab yang dikarang beliau sering kali dijadikan sebagai standar bagi seseorang untuk menakar kompetensi yang dimiliki.

Baca Juga :  Bolehkah Perempuan Haid Ziarah Kubur?

Dengan mengetahui tanda-tanda tersebut, bukan berarti melegalkan bagi kita untuk menyematkan label kepada orang yang lain, khuususnya penceramah. Menjustifikasi bahwa ia ikhlas dalam menyampaikan atau terkandung riya. Tentu bukan demikian. Akan tetapi lebih sebagai wasilah untuk mengenal dan introspeksi diri sendiri. Kira-kira bagaimana jiwa kita kala menyampaikan nasihat ataupun ilmu Allah kepada orang lain.

Apabila tergolong sebagai orang yang beramal dengan disertai riya, semoga dapat berusaha memperbaikinya. Karena tidak ada makhluk yang berhak-dengan sengaja-memamerkan kemampuan dan kekuasannya, kecuali Allah Swt. Kemudian, apabila merasa tidak termasuk dalam kategori tersebut, semoga tetap dalam kebaikannya. Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here