Perilaku Konsumen vs Industri Crowdfunding Syariah

0
849

BincangSyariah.Com – Crowdfunding syariah merupakan sebuah bisnis yang memanfaatkan platform sebagai medianya untuk melakukan usaha pengumpulan dana sekaligus pendanaan bagi individu, kelompok atau organisasi dengan prinsip syariah.

Prinsip syariah sebagaimana termuat dalam UU Nomor 21 Tahun 2008, Pasal 1 ayat 12 tentang Perbankan Syariah, dinyatakan sebagai “prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah.” Lembaga fatwa yang dimaksud dalam UU ini dalam prakteknya adalah MUI (Majelis Ulama Indonesia) melalui Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN).

Menurut laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tahun 2019, ada kurang lebih 114 perusahaan fintech syariah di Indonesia dan diprediksi jumlah ini akan terus bertambah seiring bertambahnya tahun. Sektor yang dibidik adalah masyarakat muslim Indonesia.

Berdasarkan laporan Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI), dari 85% total masyarakat muslim Indonesia, 64% di antaranya masih berstatus unbanked (tidak pernah kontak dengan bank). Hanya 36% yang sudah memiliki rekening di bank. Dan ini artinya adalah peluang bagi masuknya fintech syariah itu guna membidik angka 64% itu.

Karena regulasi fintech syariah ini masih dalam tahap penggarapan serta belum menemui titik akhir, maka itu menjadi peluang besar guna melakukan inovasi bagi masyarakat terhadap produk fintech syariah non bank ini. Nah, kondisi ini semestinya juga menjadi bagian pertimbangan kewaspadaan bagi konsumen muslim, karena payung hukumnya masih terbilang longgar.

Apalagi, di era revolusi industri 4.0 sekarang ini, kecenderungan konsumen telah banyak mengalami pergeseran baik dalam berbelanja maupun dalam melakukan investasi dan bisnis. Konsumen cenderung menginginkan segala sesuatunya berlangsung dengan cepat, nyaman, biaya murah, dan mudah penggunaannya.

Baca Juga :  Indonesia Terancam Bubar? Contohlah Sikap Optimis Rasulullah

Nah, semua kecenderungan konsumen ini selanjutnya ditangkap oleh para manajer industri fintech untuk mendirikan sebuah platform dengan skema crowdfunding. Dari kesekian platform crowdfunding yang ada dan beredar saat ini, ada sebuah platform alternatif yang sepertinya berfokus pada segmentasi konsumen muslim. Untuk itu, mereka menawarkan pola crowdfunding syariah.

Apa yang menjadi ciri khasnya?

Karena Indonesia sudah memiliki UU Perbankan Syariah Tahun 2008, maka prinsip syariah yang diacu adalah pasti undang-undang tersebut. Oleh karenanya, skema yang dibangun pun pasti tidak jauh dari definisi prinsip syariah serta bentuk akad yang menjadi basis penerapannya. Akad apa saja? Berikut rinciannya!

Pertama, menyediakan pola pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil dalam bentuk akad mudharabah dan musyarakah.

Kedua, transaksi sewa-menyewa dalam bentuk akad ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik (IMBT).

Ketiga, transaksi jual beli dengan memperoleh keuntungan dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna.

Keempat, transaksi pinjam-meminjam dalam bentuk piutang qardh.

Kelima, transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara pihak profider dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil.

Bagaimana uraian dari masing-masing ini, mungkin kelak akan dibahas di belakang hari. Yang terpenting adalah kecenderungan motivasi konsumen dalam menggunakan aplikasi.

Intinya, para pengguna pada dasarnya mengakses platform crowdfunding adalah didorong oleh semangat untuk memiliki barang atau keuntungan dari bisnis. Konsumen merupakan pihak selaku penyandang dana atau finansial sementara pihak provider adalah selaku perantara penyaluran.

Hah…..Perantara penyaluran!? Jadi, mereka menawarkan diri menjadi makelar dana!? Atau jadi wakil konsumen, gitu!? Pasnya jadi makelar atau jadi wakil?

Baca Juga :  Belajar dari Kesalahan Iblis dan Nabi Adam as.

Iya, mereka merupakan pada dasarnya adalah makelar dana. Namun, karena pengertian makelar dalam urusan dana itu tidak memungkinkan dimaknai sebagai layaknya makelar barang dagangan, maka yang lebih pas baginya adalah memegang peran selaku wakil konsumen. Jadi, berbahagialah Anda selaku pemilik dana yang diikutsertakan dalam crowdfunding syariah, karena itu artinya, Anda adalah juragan yang punya orang suruhan yang menjadi wakil Anda.

Selaku juragan, ketika seorang konsumen menyuruh seorang wakil, maka pasti keputusan menyuruh itu dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain: 1) motif pribadi konsumen itu sendiri, 2) pengetahuan konsumen terhadap bidang garap yang akan ditangani orang suruhannya (wakil konsumen, manajer crowdfunding), 3) posisi pengetahuan ini sudah pasti tergantung banyak pada hasil belajar konsumen, 4) kepribadian konsumen selaku shahibu al-finansial, dan 5) sikap pribadi konsumen.

Jika Anda adalah seorang yang sembrono dan suka bral-brol dengan keuangan, sebaiknya putuskan untuk tidak dulu terlibat dalam industri berbasis crowdfunding itu. Khawatirnya, Anda akan menyesal di belakang hari ketika menemui kegagalan atau kerugian. Sebaiknya manaje dan sabar dalam mengambil keputusan, itu lebih utama.

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

Artinya: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Q.S. Al-Isra [17]: 29)

Jangan gampang tergiur oleh penawaran-penawaran. Ingat selalu, tugasnya orang suruhan anda terhadap industri yang dipimpinnya adalah mempengaruhi anda. Jadi, pasti mereka akan bermulut manis di depan anda. Jika anda tidak cermat, ya mereka akan berbahagia karena sudah anda bantu melalui transfer dana dari anda yang itu artinya peluang pendapatan baginya.

Baca Juga :  Bolehkah Zakat Fitrah Dibayar pada Pertengahan Ramadan?

Adapun masalah untung ruginya, hah…masih coba-coba, kog. Senyampang payung hukumnya masih longgar. Iya kan? Iya kan? Sudah pernah dengar investasi bodong, kan? Ya itulah artinya kecermatan dan kewaspadaan anda sedang diuji. Jadi, waspada dan cermati! Itu kuncinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here