Inayah Wahid: Perbedaan dan Keberagaman adalah Rahmat

0
657

BincangSyariah.Com – Dalam rangkaian kegiatan Muharram For Peace, Mubadalah.id, KUPI, dan AMAN Indonesia menggelar diskusi daring berjudul Hebatnya Kebhinnekaan Indonesia pada Minggu (13/9). Diskusi tersebut menghadirkan Inayah Wahid sebagai narasumber. Ia memaparkan tentang keberagaman dan peran humor dalam sebuah negara.

Lantaran aktif di dunia kesenian, Inayah mengantarkan pemaparannya dengan penjelasan bahwa dalam dunia industri teater atau pertunjukan relatif tidak terlalu terlihat adanya konflik-konflik keberagamaan atau konflik identitas. Sebab, jika bicara soal keberagaman, maka yang sekarang banyak terjadi adalah konflik yang berlandaskan identitas, apa pun identitasnya.

Sementara itu, secara umum, di dunia seni kreatif, orang-orang paham bahwa memang diperlukan perbedaan dan diperlukan keragaman. Untuk membuat satu pertunjukan misalnya, ada semacam joke zaman dulu, “Kalau pengacara jadi petani, kalau Kiai jadi petani, kalau presiden jadi petani, pertain jadi apa?”

Mungkin tidak dalam sebuah negara yang semua isinya semuanya petani? Tentu tidak mungkin. Sebab selalu ada kebutuhan-kebutuhan lain dan profesi-profesi lain yang dibutuhkan. Hal itulah yang selalu Inayah tekankan kepada teman-teman muda betapa pentingnya keberagaman.

Keberagaman adalah hal yang Inayah bawa dalam positive movement. Gerakan-gerakan perdamaian tapi benar-benar fokus di anak-anak muda. Apa yang dibahas sebenarnya adalah sesuatu yang reachable untuk mereka, hal sehari-hari untuk mereka, tapi kemudian pengaruhnya sebenarnya yang Inayah harapkan adalah terbangunnya sense of peace untuk membangun perdamaian.

Sebab Inayah percaya, anak muda harus melihat perbedaan atau keberagaman sebagai rahmat, melihat perbedaan sebagai kekuatan sebagai perspektif yang harus dilatih. Sebenarnya sudah ada, tapi kemudian menjadi habit atau tidak? Positive movement yang dilakukan Inayah adalah mengajak anak-anak muda untuk menjadikan sikap menerima perbedaan dan keberagaman sebagai rahmat menjadi habit.

Baca Juga :  Pesan dan Doa Grand Syaikh Al-Azhar terkait Virus Corona

Para ahli banyak yang memandang bahwa kesehatan sebuah masyarakat bisa dinilai salah satunya adalah dengan bagaimana mereka merespons humor. Humor adalah salah satu alat untuk menjaga masyarakat tetap waras dalam artian ketika ada situasi-situasi yang dianggap tidak baik. Misalnya, tidak baik secara moral, politik dan lain sebagainya. Kemudian masyarakat bisa mengambil jarak jadi kondisi-kondisi yang corrupt, atau kondisi-kondisi yang rusak.

Karena ketika orang melemparkan joke tentang hal tersebut, joke-joke yang kemudian membuat sakit tapi tidak berdarah, diserang tapi tidak marah. Inayah memaparkan, ia beberapa kali ada dalam kondisi itu. Ada orang yang marah saat dilepmarkan joke, jadi tergantung siapa yang menerima joke. Ada jarak yang kemudian tercipta.

Inayah setuju dengan ayahnya, Gusdur, bahwa sebenarnya humor menjadi hal yang sangat penting dan menjadi salah satu tolok ukur penting dalam sebuah society, bagaimana masyarakatnya mampu menerima humor atau tidak.

Hal tersebut sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara umum, hal tersebut juga terjadi di seluruh dunia, di mana hari ini disebut sebagai era ketersinggungan. Orang bisa tersinggung, terutama di sosial media.

Misalnya ada yang bicara seperti ini, “Saya lebih suka roti dibandingkan dengan es krim.” Nanti ada saja yang menjawab seperti ini, “Jadi buat kamu, roti itu jauh lebih baik daripada es krim? Kamu merendahkan es krim?”

Lalu nanti ada orang yang bilang, “Jadi buat kamu keripik tidak ada harganya?” Nanti ada juga yang bertanya, “Kenapa kamu tidak menyebutkan snack yang lain? Kenapa kamu hanya menyebutkan roti dan es krim? Mana representasi yang lain?”

Mungkin, orang yang pertama hanya bilang bahwa ia lebih suka roti, sudah begitu saja. “Lantas kenapa masalahnya jadi ke mana-mana?” Tanya Inayah. Ia melanjutkan, hal itulah yang seringkali terjadi. Saat ini, masyarakat merasa harus tersinggung.

Baca Juga :  Ini Logika Ulama Fikih yang Membolehkan Shalat Jumat 2 Gelombang

“Saya tadi pagi baca satu tweet yang bunyinya hanya begini, “Guys ya saya tahu sih ini sosial media tapi please kita lagi di tengah pandemi kayak gini. Kita nggak bisa ketemu sama masyarakat yang lain sama temen-temennya jadi yuk kita ngomongnya lebih baik sedikit yuk lebih enak sedikit. Nggak usah saling ngatain.” Pernyataan seperti itu saja menimbulkan komentar yang berpolemik.” Ujar Inayah.

Menurut Inayah, hal tersebut adalah gambaran masyarakat dunia saat ini yang begitu penuh dengan ketersinggungan. Mungkin juga bisa terjadi dalam konteks keragaman. Betapa sulitnya kita kemudian ketika ada orang memilih pilihannya sendiri.

“Sulit sekali menerima keberagaman. Jangankan membicarakan hal-hal yang mungkin dianggap sangat fundamental seperti perbedaan agama, atau perbedaan keyakinan, atau perbedaan aliran. Jangankan yang itu, perbedaan cara makan bubur saja menjadi persoalan. Ini yang terjadi dan inilah gambaran masyarakat secara umum.” Tegasnya.

Gus Dur menyatakan bahwa toleransi dan pluralisme adalah buah dari keadilan. Kita tidak bisa mengandaikan sebuah society akan saling toleran selama si kelompok satu lebih mendapat kemewahan, tidak adil dalam masyarakat.

Contohnya, kita tidak mendapat fasilitas yang cukup sebagai warga negara misalnya Papua. Kita mau bicara toleransi di situ sementara hak hidup dasarnya belum terpenuhi. Apa yang terjadi saat ini kira-kira menurut kaidah ini, dampak dari ketidakadilan sosial atau sesuatu?

Analogi keadilan dan diskriminasi, bagaimana kondisi keragaman kita dan lain sebagainya sangat rumit sekali. Gus Dur menyatakan, “Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi.” Bagaimana bisa muncul rasa damai jika kemudian ada kelompok lain yang merasa diperlakukan tidak adil? Bahkan ada tindakan kekerasan.

Inayah pernah menulis puisi tentang kemerdekaan. Dalam puisi tersebut, ia mempertanyakan tentang arti kemerdekaan. Apakah kemerdekaan seperti zaman dulu, saat kita lepas dari penjajah atau ketika teman-teman di Papua misalnya tidak perlu merasakan ditodong senjata? Inayah membuat perbandingan.

Baca Juga :  Beretika Secara Islami di Era Digital

Inayah menutup dengan pernyataan bahwa jika tidak ada keadilan, maka tidak ada kedamaian. Hal itulah yang menjadi salah satu masalah besar yakni politik identitas karena memberikan ruang-ruang yang begitu besar bentuk kelompok-kelompok yang privilege, hanya untuk satu kelompok-kelompok tertentu.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here