Implikasi Pandemi Covid-19 terhadap UMKM di Indonesia

0
344

BincangSyariah.Com – Semenjak Covid-19 ditetapkan sebagai berstatus pandemi, mau tidak mau ada banyak sektor ekonomi domestik dan global yang terpengaruhi, termasuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia.

Pada tataran ekonomi global, sebuah laporan yang direlease oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) menyebutkan bahwa pandemi dapat membawa keterancaman suatu negara pada mengalami krisis ekonomi yang besar. Indikator keterancaman ini ditandai oleh: 1) terhentinya sebagian besar aktifitas produksi negara, 2) tingkat konsumsi masyarakat menjadi menurun, 3) hilangnya kepercayaan konsumen, dan 4) bursa saham cenderung mengarah kepada ketidakpastian.

Selanjutnya OECD memprediksi, bahwa jika hal ini terus berlangsung, maka akan terjadi suatu gejala penurunan pada output produksi dari banyak negara secara massal sebesar ⅕ s.d. ¼ yang ditandai dengan gejala umum berupa penurunan daya beli masyarakat pada kisaran ⅓ dari normalnya. (Baca: Ini Pandangan Fikih Maqashid Tinjau Pembebasan Biaya Pendidikan di Masa Resesi)

Pada tataran domestik Indonesia, Pandemi Covid-19 secara tidak langsung berimplikasi terhadap sektor pariwisata, perdagangan dan investasi. Imbas tersebut utamanya dapat dirasakan oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Dampak yang cukup terasa bagi para pelaku UMKM ini adalah terjadinya penurunan produksi dan nilai perdagangan, serta imbasnya terhadap keterlambatan pembayaran cicilan kredit pada sektor perbankan.

Akibat lainnya adalah terjadinya pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan sebagai konsekuensi logis dari penurunan produksi UMKM dan pendapatan dari hasil penjualan.

Terjadinya PHK ini, secara tidak langsung juga membawa implikasi pada turunnya daya beli masyarakat akibat kehilangan pendapatannya. Hal ini umumnya terjadi pada pekerja lepas harian dan pekerja sektor informal. Imbas lainnya, masyarakat berusaha menghemat pengeluaran, mengatur kembali keuangannya sebagai langkah  penyesuaian sampai batas kapan masa Pandemi Covid-19 ini akan berakhiri.

Baca Juga :  Sebelum Bicara Hijrah, Resapi Filosofi Taubat Menurut al-Ghazali

Turunnya daya beli masyarakat, memberikan efek berantai terhadap penurunan pemasukan bagi produsen dan pedagang yang menjual barang-barang konsumsi.

Dan imbas akhirnya adalah macetnya pembayaran kredit pada perbankan. Gejolak ini, ditandai dengan banyaknya kreditur mengajukan kelonggaran batas dan besaran pembayaran ciilan hutang dan kredit pada bank.

Apakah gejala-gejala ini sudah menerpa sektor UMKM kita?

Mari kita lihat bersama! Berdasarkan data yang di-release oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KemenkopUKM), bahwa pada tahun 2018 terdapat kurang lebih 64.194.057 UMKM di Indonesia yang mempekerjakan 116.978.631 tenaga kerja. Angka ini menduduki sekitar 99% total unit usaha, dengan daya serap tenaga kerja di sektor ekonomi sebesar 97%.

Dengan asumsi bahwa jumlah UMKM di tahun 2020 adalah sama jumlahnya  dengan tahun 2018, KemenkopUKM telah melaporkan bahwa kurang lebih terdapat 37 ribu UMKM telah menyatakan mereka terimbas berat oleh Pandemi Covid-19 per April 2020 terhadap sektor usaha yang dirintisnya.

Secara rinci, laporan  dari KemenkopUKM di atas adalah sebagai berikut:

  1. 56% melaporkan terjadinya penurunan penjualan
  2. 22% melaporkan permasalahan pada aspek pembiayaan / kredit
  3. 15% melaporkan permasalahan distribusi barang, dan
  4. 4% melaporkan kesulitan mendapatkan bahan baku mentah.

Sebagai catatan bahwa data ini merupakan yang direlease pada bulan April 2020. Dan dari data ini, 87.4%-nya terdiri atas usaha mikro serta dilaporkan sebagai yang paling merasa terdampak.

Pada bulan Mei 2020, dilaporkan sebuah hasil survey yang dilaporkan oleh Vice President of JNE yang dipublikasi oleh Pikiran Rakyat, bahwa sebanyak 96% pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) mengaku sudah mengalami dampak negatif pandemi Covid-19 terhadap proses bisnisnya. Sebanyak 75% diantaranya mengalami dampak penurunan penjualan yang signifikan.

Pada pertengahan Agustus 2020, Menteri Koperasi dan UKM melaporkan bahwa 40% UMKM di Indonesia telah gulung tikar sebagai imbas dari Pandemi Covid-19. Pemetaan masalah menjadi semakin kompleks, tidak lagi sebagaimana laporan yang  dilansir pada April 2020.

Baca Juga :  Hukum Bersedekah Setelah Bermaksiat, Apakah Dosa Diampuni?

Secara riel, angka di atas kertas, rincian yang dilaporkan oleh data Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia dengan total sampel UMKM yang ada sebesar 235.938, dan diambil per 29 Juni 2020, berhasil mengidentifikasi tiga masalah utama yang dihadapi oleh UMKM selama Pandemi Covid-19, antara lain:

  1. permintaan menurun sebanyak (22,90%)
  2. distribusi terhambat (20.01%)
  3. permodalan sebanyak (19,93%).

Masih berdasar data dari KemenkopUKM, terdapat tiga sektor usaha yang paling terdampak yakni:

  1. pedagang besar dan eceran sebanyak (40,92%)
  2. penyedia akomodasi dan makan minum sebanyak (26,86%) dan
  3. industri pengolahan sebanyak (14,25%)

Secara tidak langsung, data-data di atas, baik yang direlease oleh KemenkopUKM per April 2020, Tim Riset JNE per Mei 2020, dan laporan KemenkopUKM di Agustus 2020 seolah menunjukkan kesinkronan dan seolah menggambarkan situasi yang simultan (berterusan).

Secara umum,  semua data riset menggambarkan adanya keterpengaruhan Pandemi Covid-19 terhadap gerak produksi dan penjualan oleh UMKM.

Data KemenkopUKM yang dirilis per April 2020 dengan per Agustus 2020, menunjukkan adanya tipe masalah yang sama pada UMKM akibat Pandemi Covid-19, yaitu:

  1. turunnya omzet penjualan yang berkorelasi dengan angka terimbasnya omzet penjualan pedagang grosir dan retail, yang secara tidak langsung menggambarkan terjadinya penurunan daya beli masyarakat
  2. hambatan distribusi yang berkorelasi dengan kebijakan PSBB,
  3. ketersediaan bahan mentah yang berkorelasi dengan angka terdampak pada sektor akomodasi dan pengolahan serta
  4. permodalan yang berkorelasi dengan 40% UMKM yang gulung tikar.

Terkait dengan persoalan distribusi, memang Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ) yang diterapkan di sejumlah  wilayah di Indonesia  yang merujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 9/2020 tentang Pedoman PSBB dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19, secara tidak langsung telah menghambat terjadinya distribusi barang ke sejumlah  wilayah target penjualan. Dan ini masuk akal, sebab pergerakan masyarakat untuk menuju akses penjualan itu menjadi terbatas. Efeknya, omzet penjualan menjadi turun.

Baca Juga :  Risma Sujud Minta Maaf pada Dokter, Benarkah Haram?

Alhasil, implikasi dari Pandemi Covid-19 terhadap UMKM memang cukup besar di negeri kita tercinta ini. Dampak itu secara tidak langsung telah menggerus potensi UMKM dalam menyokong GDP Nasional.

Padahal, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), besaran kontribusi UMKM terhadap Gross Domestic Product (GDP) Indonesia adalah mampu mencapai 61,41% pada tahun 2018. Dengan besaran ini, maka cukup relevan bila disampaikan bahwa UMKM merupakan tulang punggung utama perekonomian nasional Indonesia.

Jadi, jika 40% UMKM dilaporkan sebagai gulung tikar di Agustus 2020, maka imbas potensi ketergerusan GDP Nasional kita dapat terkoreksi sebesar 24,16%, sehingga menyisakan daya dukung UMKM sekitar 36,25%.

Alhasil, untuk menjaga stabilitas GDP dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), maka pemerintah memang perlu melakukan beberapa kebijakan strategis untuk menjaga eksistensi UMKM.

Kebijakan itu bisa melalui pemberian BLT terhadap karyawan dan stimulus hibah terhadap UMKM dengan tujuan jangka pendeknya adalah  membantu menjaga daya beli masyarakat di pasar-pasar produk UMKM.

Namun, yang paling penting lagi adalah memberikan keringanan pembiayaan kredit dengan bunga atau marjin yang rendah kepada UMKM. Mereka memerlukan hal ini untuk memulihkan kondisi mereka.

Tujuan jangka pendeknya, adalah agar UMKM yang sudah dilaporkan gulung tikar ini bisa bangkit kembali dari keterpurukan, sehingga jangka panjangnya, perekonomian nasional dapat bangkit lagi dari posisi resesi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here