Imlek, Toleransi, dan Ketegasan Sikap Pejabat Publik

0
180

BincangSyariah.Com – Tanggal 5 Februari 2019, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia termasuk Indonesia merayakan tahun baru Imlek ke-2570. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kemeriahan tahun baru ini akan berlangsung hingga hari ke-15 saat Cap Go Meh digelar sebagai puncak perayaannya. Masyarakat Tionghoa menyambut dengan suka cita tahun baru ini dengan menghias rumah, pertokoan, kampung, dan tempat ibadah mereka dengan pernak-pernik yang bernuansa merah, seperti lampion, angpao, dan lilin, sebagai simbol keberuntungan. Keindahan nuansa Imlek tak hanya dinikmati masyarakat Tionghoa, namun masyarakat lain (lintas etnis dan agama) pun turut menikmatinya, misalnya dengan berswafoto dan menonton pertunjukan barongsai dan liong yang atraktif.

Kemeriahan Imlek dan Cap Go Meh di Indonesia sejatinya tak lepas dari jasa K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tatkala menjadi presiden. Melalui Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 2000, Presiden Gus Dur membebaskan masyarakat Tionghoa merayakan Imlek dan Cap Go Meh secara terbuka. Keputusan ini disambut dengan sukacita oleh masyarakat Tionghoa, karena satu belenggu diskriminasi yang puluhan tahun mereka derita, telah terlepas. Atas jasanya ini, Presiden Gus Dur dianugerahi Bapak Tionghoa Indonesia. Kegembiraan masyarakat Tionghoa semakin bertambah ketika pada tahun 2013, Presiden Megawati meresmikan hari Imlek sebagai hari libur Nasional.

Kini, perayaan Imlek diadakan di mana-mana dalam berbagai bentuk. Di Bogor misalnya, diadakan event tahunan bertajuk Bogor Street Festival, yang berisi pawai seni budaya lintas daerah, etnis, agama, dan profesi. Acara ini bahkan telah menjadi event budaya tingkat Nasional yang dihadiri para pejabat, serta ditonton ribuan masyarakat yang setia berjejer di sepanjang Jalan Suryakencana, tempat dilangsungkannya pawai. Para pemuka agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Konghucu pun turut hadir dan memberikan doa bersama untuk keselamatan bangsa. Event ini menjadi oasis masyarakat di tengah kesumpekan masalah sosial dan politik yang mereka rasakan setiap hari. Selain itu, pergelaran kultural ini menjadi perekat kerukunan antarumat beragama dan masyarakat lintas etnis di Bogor.

Baca Juga :  Hukum Memasuki Tempat Ibadah Non Muslim

Namun menjelang perayaan Imlek dan Cap Go Meh tahun 2019 ini, masyarakat Bogor dikejutkan dengan seruan dari sekelompok umat Islam yang menamakan Forum Muslim Bogor (FMB). Mereka menyerukan kepada pemerintah kota dan kabupaten untuk tidak memfasilitasi perayaan Imlek dan tidak mengerahkan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk hadir dan mendukung perayaan tersebut. Mereka juga menyerukan kepada para tokoh dan masyarakat Islam untuk tidak menghadiri dan mengikuti perayaan Imlek karena dianggap haram dan membahayakan akidah. Seruan forum yang diduga transformasi HTI Bogor ini menjadi perbincangan hangat dan “bola liar” di kalangan masyarakat Bogor dan sekitarnya.

Menanggapi seruan tersebut, Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto pun angkat bicara dan menyatakan tidak sepakat. Ia menegaskan bahwa perayaan Imlek dan Cap Go Meh tetap digelar, karena setiap tahunnya perayaan Imlek dan Cap Go Meh selalu dibalut dengan pesta rakyat yang mengedepankan nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal (Kompas.com, 31 Januari 2019). Keyakinan FMB bahwa event ini akan menggoyahkan akidah umat Islam dianggapnya tidak berdasar.

“Apakah akidah seorang Ahmad Heriyawan (mantan Gubernur Jabar) luntur ketika menghadiri acara ini setiap tahun? Apakah akidah Presiden Jokowi luntur ketika ikut merayakan keberagaman budaya di Indonesia? Bogor Street Festival juga pernah dihadiri Menteri Pariwisata, Menteri Agama, dan sejumlah tokoh lainnya,” demikian argumen Bima Arya. Argumen Bima ini mengingatkan dengan analogi iman yang pernah disampaikan Kiai Muwafiq: “Sekalipun di bawah tower Telkomsel, sinyal Indosat tidak akan tiba-tiba berubah jadi sinyal Telkomsel.”
Senada dengan Walikota Bogor, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor, K.H. Mustofa Abdullah bin Nuh juga menyatakan ketidaksetujuan dengan seruan FMB. Baginya, seruan tersebut bisa menjadi ancaman yang mengoyak kebersamaan dan kerukunan antar-etnis dan agama di Kota Bogor yang selama ini sudah terjalin dengan baik.

Baca Juga :  Bolehkah Tunanetra Mengumandangkan Azan?

Di tengah aksi intoleransi dan kekerasan beragama yang marak di Indonesia, ketegasan sikap pejabat publik, seperti Bima Arya dan tokoh agama seperti K.H. Mustofa Abdullah bin Nuh di atas layak dipuji dan diapresiasi. Bangsa Indonesia akan semakin jaya jika masyarakatnya cerdas, terbuka, dan toleran. Sebaliknya, bangsa ini akan tenggelam jika masyarakatnya picik, eksklusif, dan intoleran.

Gong xi fa cai. Selamat merayakan Imlek dan Cap Go Meh. Semoga Tuhan semesta alam senantiasa memberikan keselamatan untuk kita semua. Aamiin. 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here