Antara ‘Keimanan’ dan Ilmu Menurut Muhammad Husein Haikal

0
470

BincangSyariah.Com – Penulis produktif ini dikenal juga dengan Mantan wizarah al-Awkaf li Jumhuriyah Mihsriyah (semacam Mendikbud di Indonesia). Husei Haikal memiliki banyak karya yang layak untuk dikaji dan dibaca-ulang bagi para pembaca buku. Sepengetahuan penulis, buku Muhamamd Husein Haikal yang diterjemahkan ke Indonesia adalah buku sosio-biografis Muhammad Saw yang berjudul the life of Muhammad.

Di antara karya lain juga adalah al-Iman wa al-Ma’rifat wa al-Falsafah (Antara Kepercayaan, Ilmu Pengetahuan dan Filsafat). Karya ini diterangi sebagai upaya Husein Haikal untuk melampaui dikotomi perdebatan antara ahli ilmu agama dan ilmuwan umum.

Sampai sekarang perdebatan seputar rumpun ilmu alam, berbasis kepada ilmu natural dan filsafat positivistik yang berbasis kepada experiment. Hal ini banyak menimbulkan kecurigaan dari kalangan rohaniawana dan agamawan yang dianggap seolah melampaui pengetahuan ‘tuhan’, syariat dan sebagainya.

Salah satu tema yang dibahas Husein Haikal adalah posisi ilmu pengetahuan dan sciences di dalam Islam. Menurutnya tidak ada pertentangan antara ilmu umum dan ilmu agama. Artinya dalam Islam tidak dikenal ‘permusuhan abadi’ antara agama dan ilmu pengetahuan. Salah satu pandangan Husein Haikal ini didasarkan atas fakta banyak kalangan sarjana, ilmuwan muslim yang mengakui bahwa seorang ahli muslim.

Jika terdapat perbedaan, pertentangan maka pertentangan itu bukan di ranah ontologis ilmu itu sendiri, akan tetapi berada pada level sikap kita yang terhadap ilmuwan dan agamawan atau yang dibahasakan Husein Haikal dengan al-Niza’ baina rijal al-Ilmi dan Rijal al-Din.

Islam sendiri mengakui secara eksistensial posisi ilmu-ilmu umum dan diserukan dalam beberapa ayat al-Quran. Dalam beberapa ayat alquran digunakan kata Afala Ta’qilun, afala yatafakkarun, dan seterusnya.

Beberapa ayat ini menunjukkan pentingnya nalar, logika untuk memahami risalah ilahi. Jika dalam konteks modern, nalar, logika merupakan instrument manusia menggali ilmu pengetahuan dalam rangka kemaslahatan manusia (human interest).

Baca Juga :  Tiga Golongan yang Kelak Menjadi Musuh Allah

وكيف يكون خلاف بين الدين لذاته والعلم لذاته ومن بين رجال الدين علماء في العلم آخذون بأساليبه من غير أن يطعن ذلك في دينهم أو يغير من عقيدتهم، ومن بين رجال العلم من عمرت بالإيمان نفوسهم، وأخذوا في حياتهم بما يدعو الدين إليه من قواعد الكمال. وكيف يكون خلاف بين الدين لذاته والعلم لذاته ومن رجال الدين من إذا خلوت إليه أو خلا إلى نفسه رأيت الشك يملأ جوانب فؤاده فيعذبه أو يدفعه إلى السخر والاستهزاء من غير أن يخرجه ذلك من زمرة رجال الدين، ومن رجال العلم من يشك في طرائق العلم وأساليبه أكبر الشك، ويدعو لذلك إلى الأخذ بأساليب أخرى قد تكون إلى أساليب الدين أقرب.

“Dan bagaimana terjadinya perbedaan antara agama dalam esensinya dan ilmu pengetahuan, dan antara agamawan itu ada juga orang yang ahli dalam ilmu pengetahuan mengambil metode ilmu pengetahuan tanpa merusak agama, atau keyakinan mereka. Dan di kalangan ilmuwan ada yang merasa tenang dirinya dengan keimanan. tanpa merusak agama itu sendiri dan merubah akidah mereka. Dan begitupun betapa banyak dari kalangan ilmuwan meningkatkan keimanan dan ketenangan dalam diri mereka dan mereka membuat atau menghasilkan suatu eksperimen yang justru mendekatkan mereka kepada agama.”

Bukankah terkadang, kita sering membenturkan antara keimanan dan temuan ilmiah. Jangan-jangan gerakan anti-science yang menjangkiti umat Islam, salah satu bukti abainya kita terhadap perkembangan ilmu sains. Wallahu A’lam bi al-Showwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here