Imam Al-Ghazali: Jangan Bersikap Sombong Meski pada Non-Muslim

1
930

BincangSyariah.Com – Sentimen terhadap sesama warga negara, baik yang muslim dan non-Muslim kini sedang merebak. Banyak dari kita bersikap sombong pada sesama anak bangsa. Perbedaan keyakinanlah yang rata-rata melatar belakanginya. Entah itu perbedaan terkait akidah agama maupun pengamalan fikih.

Imam Al-Ghazali ratusan tahun lalu pernah mengulas keadaan semacam ini. Tepatnya pada pembahasan menjahui penyakit hati, semacam memandang diri lebih baik dan memandang rendah orang lain. (Baca: Ini Tujuh Hal Penyebab Sikap Sombong)

Tidak tanggung-tanggung Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa merasa diri lebih baik disertai memandang rendah orang lain itu termasuk penyakit hati. Sekalipun kita melakukan itu terhadap orang yang kurang taat dalam menjalankan agama, maupun non-Muslim.

Ini berbeda dengan sikap serta keyakinan sebagian muslim masa kini. Tidak sedikit dari kita merasa sudah cukup taat beribadah, namun memandang orang lain yang masih berprilaku buruk itu dengan pandangan sebelah mata.

Pandangan-pandangan tersebut semacam suara hati yang berkata pada orang lain dengan perasaan sinis: “Kasihan sekali dia. Dia tidak mau masuk Islam. pasti ia masuk neraka”, “Hina sekali hidupnya, tidak mau mengerjakan ibadah Sunnah. Apasih sulitnya mengerjakan hal Sunnah seperti yang sudah aku lakukan”, “Kenapa aku perlu bersikap baik padanya? Dia tidak mau solat. Pasti dia dibenci tuhan”.

Padahal persoalan masuk surga atau neraka serta hina atau tidaknya seseorang di mata Allah, adalah di luar perkiraan manusia.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah mengatakan bahwa merasa diri lebih baik dan memandang rendah orang lain menciptakan sifat sombong dan angkuh. Sifat ini didefinisikan Imam Al-Ghazali dengan memandang diri sebagai sosok mulia serta orang lain sebagai sosok hina. Pada intinya sifat ini selalu saja mempertimbangkan diri sebagai sosok mulia. Diri selalu berkata “Aku! Aku!” Artinya selalu memikirkan diri sendiri. Dan memandang rendah orang lain. (Bidayatul Hidayah/78)

Baca Juga :  Ketika Allah Menjaga Manusia dari Sombong dan Syirik

Sifat sombong inilah yang menyebabkan setan enggan melaksanakan perintah Allah untuk bersujud pada Nabi Adam, sehingga dianggap sebagai makhluk durhaka. Allah berfirman menceritakan ucapan setan:

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”.(Q.S. Shadd [38]: 76)

Sikap yang seharusnya dimiliki seorang muslim, menurut Imam al-Ghazali, adalah memandang orang lain lebih baik daripada kita meski sebatas kemungkinan. Ini disebabkan bahwa siapakah yang sebenarnya lebih baik antara kita dan orang lain, adalah hanya Allah saja yang tahu. Itu bergantung bagaimana keadaan masing-masing kelak tatkala meninggal. Bisa saja yang awalnya baik serta taat beribadah kemudian meninggal dalam keadaan tak lagi mau beribadah. Begitu pula sebaliknya.

Larangan merasa diri lebih baik disertai memandang rendah orang lain berlaku tidak hanya kepada sesama muslim, tapi juga umat muslim. Ini dapat dilihat langsung dari uraian Imam Al-Ghazali tentang sikap yang seharusnya dimiliki saat berhadapan dengan non-Muslim. Imam Al-Ghazali berkata:

Apabila berpapasan dengan non-Muslim, katakanlah dalam hati: “Aku tidak tahu mungkin kelak ia masuk Islam dan mati dengan amal paling baik, lalu dengan masuk Islam ia keluar dari dosa-dosanya sebagaimana keluarnya rambut dari adonan roti. Sedang aku –semoga Allah melindungi- bisa saja Allah menyesatkanku kemudian kufur dan mati dengan seburuk-buruknya prilaku. Sehingga kelak ia termasuk orang yang dekat dengan rahmat Allah, sedang aku termasuk orang jauh dari-Nya. (Bidayatul Hidayah/79)

Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak bisa menjadi alasan seorang muslim boleh merasa dirinya lebih baik serta memandang orang yang berbeda agama dengan pandangan hina. Apalagi kepada sesama muslim yang berbeda hanya dalam segi permasalahan detail-detail pengamalan fikih saja.

Baca Juga :  Bahaya Sikap Sombong Bagi Para Penuntut Ilmu

Imam Al-Fakihi; pensyarah kitab Bidayatul Hidayah berkomentar, larangan merasa diri lebih baik disertai memandang rendah orang lain, tidak memandang soal usia, luasnya pengetahuan agama, serta tidak juga memandang perihal apakah ia seorang muslim atau bukan. (Al-Kifayah/407)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here