Imam al-Ghazali dan Kitab al-Iqtisad fi al-I’tiqad

0
823

BincangSyariah.Com – Abdul Qahir al-Bagdadi dan karyanya yang berjudul Kitab Ushuluddin merupakan salah satu kitab ilmu Kalam yang cukup merepresentasikan manhaj mutaqaddimin. Model ini di masa-masa berikutnya mengalami pergeseran dan menjadi manhaj muta’akhirin. Tentu, sebelum mengalami perubahan ke arah manhaj baru ini secara sempurna di tangan kalangan muta’akhirin, ada masa transisi yang menjembatani pergeseran dua paradigma dalam ilmu kalam tersebut.

Karena itu, kita akan lihat sejenak karya Imam al-Ghazali yang berjudul al-Iqtishad fi al-I’tiqad sebagai karya yang menandai masa transisi perubahan dari manhaj mutaqaddimin ke manhaj muta’akhirin.

Kitab yang menandai fase transisi dari mutaqaddimin ke muta’akhirin ini dapat dilihat dari sikap al-Ghazali yang kontradiktif dan inkonsisten: di satu sisi, al-Ghazali mengajak para intelektual di masanya untuk mengadopsi logika Aristoteles dan menjadikannya sebagai mekanisme penalaran dalam ilmu-ilmu aqliyyat sekaligus sebagai pengganti  metode “al-istidlal bi asyahid ala al-ghaib” dan di sisi lain, al-Ghazali menyerang filsafat atau lebih tepatnya metafisika filsafat Ibnu Sina. Mengadopsi logika dan menyerang filsafat merupakan dua sikap yang bertentangan karena logika merupakan perangkat berpikir dalam filsafat.

Berangkat dari sikap yang kontradiktif ini, kita melihat bahwa kitab al-Iqtisad ini bisa dikatakan sebagai karya al-Ghazali yang memiliki keterputusan secara epistemik dengan metode ulama mutaqaddimin. Paling tidak keterputusan secara epistemic ini dilakukan pada tataran yang sifatnya metodologis. Adapun pada tataran yang sifatnya substansi pengetahuan, kita melihat bahwa al-Ghazali, dengan tidak menggunakan konsep-konsep filsafat dalam karyanya ini, dapat dikatakan lebih dekat dengan ulama mutaqaddimin.

Jika ditilik kandungan dan substansi pemikirannya, kita melihat bahwa kitab al-Iqtisad mengikuti urutan pembahasan yang digunakan ulama mutaqaddimun. al-Ghazali menyusun karyanya berdasarkan kepada empat pembahasan utama: pertama, pembahasan mengenai dzat Allah; kedua, pembahasan mengenai sifat-sifat Allah; ketiga, pembahasan mengenai asma-asmanya Allah.

Adapun pembahasan keempat, al-Ghazali membaginya menjadi empat bab pembahasan: pembahasan mengenai teori kenabian, eskatologi, imamah dan sekte-sekte Islam yang wajib dikafirkan. Sampai di sini kita melihat al-Ghazali menyajikan susunan standar ilmu kalam yang sama menurut ulama mutaqaddimin. Sementara itu secara substansi, pandangan-pandangan yang dibela l-Ghazali serta pandangan-pandangan yang dikritiknya bukanlah pembahasan baru dalam ilmu kalam.

Baca Juga :  Hukum Puasa Bagi Pekerja Berat

Kendati demikian, jika kita melihat manhaj atau metode yang digunakan dalam kitab ini, tentu kita dihadapkan kepada sesuatu yang baru dari al-Ghazali. Dalam karyanya ini, al-Ghazali meninggalkan metode lama yang digunakan oleh ulama mutaqaddimin dalam menulis ilmu kalam.

Misalnya pembahasan mengenai pengetahuan, macam-macam pengetahuan, cara-cara memperoleh pengetahuan dan seterusnya yang lazim dilakukan oleh para ulama mutaqaddimin dalam menulis ilmu kalam. al-Ghazali meninggalkan metode penulisan ilmu kalam seperti ini. al-Ghazali bahkan menggantinya dengan empat tamhid, atau sebut saja empat pengantar ke arah metode dimana tiga pengantar pertama menjelaskan tentang status ilmu kalam sedangkan di pengantar keempat dijelaskan tentang rincian manahij adillah atau semacam metode penggunaan argumen.

Terkait status ilmu kalam ini dalam ilmu-ilmu keagamaan, al-Ghazali menegaskan bahwa memperdalami ilmu ini sangatlah diperlukan dalam agama. Itu yang pertama. Sedangkan yang kedua, mendalami ilmu kalam, meskipun penting, namun untuk sebagian orang tidaklah terlalu penting bahkan yang terpenting ialah tidak mempelajari ilmu ini.

Berdasarkan kepada kenyataan demikian, bagi al-Ghazali, ada empat klasifikasi manusia; pertama, kebanyaan orang Islam yang keimanannya tidak terkotori sedikitpun oleh keraguan namun tidak memiliki waktu untuk belajar. Untuk kategori manusia seperti ini al-Ghazali mengatakan: “untuk manusia dengan kategori seperti ini tidak perlu mempelajari ilmu kalam. Keimanan mereka menuntut untuk tidak perlu mempelajari ilmu macam ini;

Kedua, orang-orang kafir dan para pembuat bidah yang mereka sedari kecil sampai besar hidup dalam keyakinan yang keliru. Bagi al-Ghazali, mereka tidak perlu lagi mempelajari ilmu ini karena ilmu ini tidak ada gunanya bagi mereka. Hanya pedang dan senjata saja yang berguna bagi mereka. Kata al-Ghazali, kebanyakan orang-orang kafir dan pembuat bidah masuk Islam karena dipaksa dengan kekuatan pedang.

Ketiga, sekelompok orang yang sudah beriman serta dikaruniai kecerdasan namun terserang keraguan akibat sering mendengarkan pandangan-pandangan di sekeliling mereka yang sesat. Terhadap kelompok ini, al-Ghazali mengatakan: “Mereka ini wajib didekati dan dijelaskan atau bahkan diajarkan tentang ilmu kalam yang dapat menghilangkan keraguan mereka dan mengembalikan mereka kepada jalan yang benar.” Adapun jika keraguan ini masih tetap ada, maka bagi al-Ghazali, mereka harus diajarkan argument-argumen keagamaan yang kuat yang dapat meyakinkan mereka kepada kebenaran. Terkait hal ini, al-Ghazali mengatakan: “Mereka ini harus dijelaskan dalil-dalil seperlunya, terutama bila ada pokok persoalan-persoalan yang mereka ragukan kebenarannya.”

Baca Juga :  Etika Setelah Berbuka Puasa Menurut Imam Ghazali

Keempat, sekelompok orang yang mengalami kesesatan yang kemungkinan masih bisa menerima kebenaran setelah mendapat keragu-raguan. Tentang kelompok ini, al-Ghazali menyarankan: “Mereka perlu didekati dan diajarkan tentang keyakinan yang benar namun tentu tidak dalam kerangka mendebat atau menjatuhkan argument lawan…”

Atas dasar pertimbangan ini, mempelajari ilmu kalam hukumnya fardhu kifayah dimana jika dipelajari oleh sebagain orang, maka gugur kewajiban bagi orang lain.

Demikianlah penjelasan al-Ghazali tentang status hukum mempelajari ilmu kalam. Selain membahas tentang status hukum mempelajarinya, dalam al-Iqtishad juga al-Ghazali menjelaskan lebih jauh tentang manahij adillah atau sebut saja mekanisme penalaran atau metode argumentasi.

Bagi al-Ghazali, ada tiga jenis metode argumentasi yang menjadi basis penalaran dalam ilmu kalam; pertama, metode as-sabru wat taqsim atau dalam istilah logika/ manthiq metode ini disebut juga qiyas syarti munfasil. Istilah as-sabr wat-taqsim ini dipinjam al-Ghazali dari ilmu fikih. al-Ghazali dalam hal ini sangat pandai memasukkan konsep-konsep logika dan menyelipkannya di balik istilah-istilah ilmu keagamaan.

Dengan kata-kata lain, di tangan al-Ghazali, as-sabru wat taqsim secara konseptual sangat berbeda artinya dari yang dikenal dalam istilah usul fikih. Jika dalam fikih, as-sabru wat taqsim ini artinya meneliti sifat-sifat terdapat dalam hukum asal kemudian mengklasifikasikan sifat-sifat tersebut serta mengujinya satu per satu untuk dijadikan sebagai illat. Proses ini dilanjutkan dengan menyingkirkan sifat-sifat yang tidak relevan sehingga yang tersisa hanya satu sifat yang pada tahap selanjutnya menjadi illat bagi status hukum ashal. Istilah as-sabru wat taqsim dalam kitab al-Iqtisad tidak dimaksudkan dalam pengertian fikihnya, tapi pengertian secara logika Aristoteles.

Sedangkan  metode kedua tidak disebutkan secara eksplisit oleh Imam al-Ghazali namun menariknya beliau langsung memberikan contoh-contoh. Dari contoh-contoh yang dikemukakan dalam kitab al-iqtisad, dapat ditebak bahwa metode kedua ini dapat juga disebut sebagai metode qiyas hamli.

Baca Juga :  Taubatlah Sebelum Meninggal, Ini Empat Syarat Taubat Diterima

Seperti metode kedua, al-Ghazali juga tidak menyebutkan secara eksplisit nama metodenya. Kendati jika dilihat dari contoh-contoh yang dikemukakannya, al-Ghazali menggunakan qiyas kholaf, salah satu qiyas yang digunakan dalam ilmu mantiq atau logika Aristoteles.

Berangkat dari tiga metode ini, qiyas syarthi munfasil, qiyas hamli dan qiyas kholaf, jelaslah bahwa qiyas yang dijadikan sandaran bagi al-Ghazali selalu terdiri dari dua premis, bukan satu premis ashal atau syahid seperti yang digunakan dalam istilah-istilah ilmu kalam. Dalam hal ini al-Ghazali menegaskan secara jelas bahwa:

أن كل علم مطلوب فلا يمكن أن يستفاد إلا من علمين هما أصلان، ولا كل أصلين، بل إذا وقع بينهما ازدواج على وجه مخصوص وشرط مخصوص. فإذا وقع الازدواج على شرطه أفاد علما ثالثا وهو المطلوب.

“Setiap proposisi harus dicari kebenarannya. Karena itu, proposisi tidak akan diperoleh kecuali melalui dua premis yang menjadi dasar penalaran. Jadi bukan terdiri dari satu. Dua premis tersebut digabungkan berdasarkan kepada prosedur dan prasyarat tertentu. Jika digabungkan berdasarkan pada syaratnya, tentunya dua premis ini akan menghasilkan proposisi ketiga yang merupakan perwujudan kebenaran pengetahuan yang bersangkutan. ”

Jelaslah bahwa yang dimaksud gabungan di sini ialah susunan silogisme yang terdiri dari premis mayor dan premis minor. Sedangkan syarat yang disebut dalam kutipan di atas ialah adanya had awsath atau unsur-unsur yang terdapat dalam kedua premis.

Inilah metode-metode argumentasi yang digunakan oleh al-Ghazali dalam membahas argumen-argumen kalam. Pertanyaan selanjutnya ialah apa  prinsip-prinsip fundamental yang melandasi metode-metode argumentasi dalam ilmu kalam tersebut? Kita akan jawab di tulisan berikutnya.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here