Ilmu Itu di Dalam Hati, Tapi Hari Ini?

0
855

BincangSyariah.Com – Setiap hari kami mendengar lantunan bait syair yang selalu mengupdate dan mengupgrade semangat belajar kami. Bait-bait itu adalah salah satu warisan agung kiai Ali Mustafa Yaqub yang didapat dari gurunya, Kiai Idris Kamali, saat nyantri di Tebuireng pada sekitar tahun 1970-an. Itulah Manzhumah Adabut Thalab, yang konon merupakan karya al-Lu’lu’i atau al-Ma’mun.

Dalam salah satu bait terdapat sebuah aforisma yang patut kita pegang teguh nilai-nilainya hingga kini, meskipun zaman telah berubah cepat. Nilai-nilai ini tidak boleh hilang, meskipun teknologi telah berkembang maju, melesat. Aforisma tersebut adalah,

اَلْعِلْمُ بِالْفَهْمِ وَبِالْمذاكَرَةْ * وَالدَّرْسِ وَالْفِكْرَةِ وَالمُنَاظَرَةْ

[yang namanya] Ilmu itu [hanya bisa diakui] jika diperoleh melalui proses memahami, mudzakarah (mengingat-ingat), belajar, berpikir, dan berdiskusi.

Ini penting untuk kita jaga. Nilai-nilai tersebut kini telah pudar. Saat ini, orang mengaku berilmu, cukup hanya dengan copas dari sana-sini. Bahkan saat copas tersebut tidak dibaca sama sekali. Dipastikan tidak ada proses mempelajari, membaca, memahami, apalagi diskusi dan mengingat-ingat. Semua serba tertulis dan sangat mudah disalin lalu ditempel alias dicopas.

Informasi yang diperoleh dengan cara copas tersebut jelas tidak dapat disebut sebagai ilmu. Karena, ilmu itu harus dapat dipertanggungjawabkan, memiliki sifat universal, melekat, dan pasti. Ia bukan sekedar asumsi, apalagi hasil copy.

Dulu, nilai-niai tersebut dapat dinyatakan juga dalam sebuah aforisma,

الْعِلْمُ فِي الصُّدُوْر

Ilmu itu adanya ya di hati

Aforisma ini sangat populer dan fenomenal pada masa-masa awal Islam, khususnya saat tradisi lisan masih menjadi yang utama. Pada masa Nabi, sahabat, bahkan awal tabi’in, tradisi tulis masih sangat baru, belum familiar. Maka aforisma itu hanya berhenti sampai di situ.

Begitu pula di negeri kita, Indonesia. Pada saat negeri ini masih di era tradisi lisan, aforisma tersebut juga sangat fenomenal. Orang dinyatakan berilmu jika mampu mengahafal ilmu-ilmu itu di luar kepala. Tulisan atau buku tidak menjadi ukuran kepintaran atau keilmuan seseorang.

Baca Juga :  Bolehkah Istri Mengambil Uang dari Dompet Suami Tanpa Izin?

Namun, beda halnya ketika tradisi tulisan telah populer. Aforismanya bertambah lagi. Setidaknya, ada dua aforisma yang muncul saling beradu. Pertma adalah aforisma baru, yaitu,

الْعِلْمُ فِي السُظُوْر

Ilmu itu adanya ya di kertas, dicatat.

Ilmu jika hanya dihafal saja, akan hilang ditelan masa. Ketika penghalanya meninggal dunia, maka ilmunya pun ikut tamat riwayatnya. Ketika penghafalnya tidak menyampaikannya, ilmu itu juga akan hilang begitu saja. Oleh karena itu, aforisma baru yang muncul menyambut tradisi lisan tersebut adalah, bahwa ilmu itu harus tercatat. Ukuran seseorang disebut berilmu bukanlah ia hafal ini dan itu. Melainkan, ia mampu menyusun karya ini dan itu. Semua harus tercatat rapi di atas kertas (suthûr), bukan sekedar tersimpan di hati (shudûr).

Aforisma kedua yang menjadi tandingannya adalah aforisma petahana, yaitu aforisma lama dengan sedikit tambahan kampanye “anti kertas” di belakangnya. Aforisma itu berbunyi,

الْعِلْمُ فِي الصُّدُوْر لاَ فِي السُظُوْر

[Tetap, yang namanya] ilmu itu ya di hati, bukan di kertas.

Orang yang punya banyak catatan, belum tentu pintar. Orang yang punya banyak buku, belum tentu berilmu. Boleh jadi, ia tidak memahami atau mempelajari catatan dan bukunya itu. Maka, tetap, bagi aforisma ini, yang disebut ilmu adalah pemahaman yang ada di hati, bukan catatan yang ada di kertas.

Lalu, bebeberapa tahun di era pascarevolusi Industri 2.0, muncul aforisma baru lagi, yang menjadi akibat dari maraknya komputer sebagai budaya keilmuan. Tradisinya berubah, bukan lagi tradisi lisan atau tulisan, melainkan tradisi digital. Tabiat keilmuan sebenarnya tidak berubah, namun perilaku masyarakat terhadap ilmu pun menjadi berubah. Seolah-olah muncul aforisma,

الْعِلْمُ فِي الكُمْبِيُوتِرْ، لاَ فِي الصُّدُوْر لاَ فِي السُظُوْر

[Sekarang,] ilmu itu ya di komputer, bukan di dalam hati, bukan juga di atas kertas.

Aforisma itu muncul seolah-olah menjadi pendukung buat slogan gerakan go green atau gerakan paperless. Bahwa ilmu itu jangan dicatat, tapi diketik di komputer, biar hemat kertas, dan efisien karena tidak perlu capek-capek menulis dan menghafal.

Baca Juga :  Mengenal Budaya Mengelana Ulama Mencari Ilmu

Ini benar-benar menjadi sebuah pergeseran nilai tentang ilmu. Orang dianggap berilmu jika bisa mengoperasikan komputer. Orang-orang alim tampak menjadi “culun” hanya gara-gara tidak bisa komputer. Bahkan perilaku masyarakat dalam hal ilmu juga demikian. Bergeser jauh. Tidak ada yang mencatat secara manual di kertas. Tidak ada lagi orang yang mau menghafal ilmu. Melainkan, yang ada adalah mengetik ilmu. Ilmu itu diketik, bukan dicatat, bukan juga dihafal.

Sebenarnya ketiganya itu sama saja. Semua itu bukan hakikat ilmu, melainkan hanya cara mendapatkan dan menyimpan ilmu. Adakalanya dengan dihafal, adakalanya dengan dicatat, adakalanya dengan diketik. Jika semua itu tidak dibarengi dengan proses mempelahari, memahami, mengingat-mengingat, dan diskusi,  sebagaimana yang disebut dalam bait syair di atas, maka ia tidak akan  menjadi sebuah ilmu.

Lama kelamaan, budaya komputer pun bergeser. Ia mulai ditinggalkan. Ia digantikan oleh hape cerdas alias smart phone. Otaknya bernama Android. Ini mesin kecil yang super canggih dan cerdas. Bisa dibawa kemana-kemana. Pengetahuan dan keilmuannya melebihi keilmuan orang seluruh dunia. Bahkan, keilmuan orang seluruh dunia dapat terakomodir semuanya di dalamnya. Akirnya, aforisma yang muncul dalam hal ini adalah,

العِلْمُ فِي اْلأَنْدُرُوِيْد، لاَ فِي الكُمْبِيُوتِرْ، لاَ فِي الصُّدُوْر لاَ فِي السُظُوْر

Ilmu itu [cukup] di Android, tidak perlu komputer, hafalan, apalagi catatan.

Ini lebih dahsyat lagi. Saat ini orang bisa menjadi seolah-olah berilmu kalau pegang android. Semua bisa terjawab dengan mudah dan cepat. Cukup dalam hitungan detik. Tidak perlu diskusi, memahami, apalagi berdiskusi. Bahkan, tak jarang diskusinya pun telah tersedia di android. Itulah era revolusi industri 4.0.

Bagi era ini, paperless itu tidak sekedar punya banyak file buku, melainkan juga punya akses internet yang supercepat. File buku masih memerukan perangkat keras yang sulit dibawa kemana-mana, tidak praktis. Namun cukup dengan kuota dan data serta jaringan internet yang super cepat, semua itu dapat teratasi dengan cepat, mudah, dan ringan. Jadilah, ilmu itu adanya di android, bukan di komputer, bukan di hati, bukan juga di kertas.

Baca Juga :  Menakar Fatwa Hari Ibu Ala Khalid Basalamah

Begitulah fenomena tentang ilmu dan dinamika perkembangan metode pencariannya. Kalau begitu dapat disimpulkan bahwa fenomena keilmuan yang paling mutakhir ini adalah,

العلم على الأنامل لا على العقل

العلم بالإبهام لا بالأفهام

Ilmu itu adanya di ujung jemari, bukan di otak.

Ilmu itu didapat dengan gerakan jempol, bukan dengan mikir-mikir.

Ya Allah, jika sudah demikian, dimana letak keutamaan ilmu yang mampu mengangkat derajat seseorang? Ampunilah hamba yang telah melenceng dari nilai-nilai keilmuan ini ya Rabb.

Disarikan dari hasil renungan tentang perkembangan medsos saat membaca ulang buku Taqyîd al-‘Ilmi, buku babon tentang sejarah penulisan hadis, karya al-Khathib al-Baghdadi, usai mendengar lantunan manzhumah Adab al-Thalab oleh mahasantri Darus-Sunnah menjelang halaqah mudzakarah, malam Senin, 24 Februari 2019.

Saat membaca buku ini hingga catatan ini ditulis, tiba-tiba kerinduan untuk ngaji bersama kiai Ali Mustafa Yaqub muncul kembali. Apalagi kitab Taqyidul ‘Ilmi  ini adalah kitab yang seringkali disebut oleh beliau dan seringkali direkomendasikan agar dibaca, biar jadi santri yang melek sejarah ilmu, sejarah hadis. Tahun 2007 adalah tahun pertama kali kami mendapati kitab ini di Perpustakaan UIN, setelah beberapa kali beliau menanyakan hal yûjad hâdzal kitâb fil maktabah? [Apakah kitab ini ada di perpustakaan kita?]. Bagi kami, beliau adalah penjaga gawang ilmu buat kami agar nilai-niai keilmuan kami tak bergeser, meskipun zaman telah jauh melesat.

Tulisan ini adalah bagian dari Refleksi Jelang Haul Ke-3 K.H. Ali Mustafa Yaqub. Tulisan sudah pernah dimuat di darussunnah.ponpes.id dengan judul “Rindu Mengaji Bersama Kiai”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here