Ilmu Bermanfaat Sebab Kerendahan Hati

0
898

BincangSyariah.Com – Kerendahan hati atau Tawadhu adalah sifat terpuji seorang mukmin dan kebalikan dari sifat sombong. Tawadhu merupakan sifat orang-orang saleh dan hanya sedikit yang memilikinya. Syeikh Ibnu ‘Atha’illah memberi nasihat dalam salah satu kalam hikmahnya: “Mutawadhi (orang yang tawadhu) itu bukanlah seseorang yang tawadhu namun merasa dirinya lebih dari apa yang ia perbuat. Akan tetapi, orang tawadhu itu adalah yang meski ia tawadhu tapi merasa dirinya kurang dengan apa yang telah ia perbuat”.

Ilmu yang beriringan dengan sifat tawadhu tersebut adalah ilmu yang bermanfaat. Dalam kitab Shaidul Khathir karya Imam Ibnu Jauzi disebutkan:

هو العلم النافع الذي يلح أعظم العلماء أحقر عند نفسه من أجهل الجهال ورأيت بعض من تعبد مدة ثم فتر فبلغني أنه قال: قد عبدته ما عبده بها أحد والأن قد ضعفت

Ilmu yang membuat sehebat-hebatnya ulama merasa dirinya lebih hina daripada sebodoh-bodohnya manusia, itulah ilmu yg bermanfaat. “Ya Robb, selamatkan aku dari neraka. Apakah orang sepertiku patut memohon surga?”, ucap Shilah bin Usyaim dalam doanya.

Keterangan di atas melambangkan keindahan sebuah ilmu yang berbalut sifat tawadhu, di mana kondisi ilmu tersebut akan menghasilkan sumber-sumber kemulian. Dan ilmu yang demikian itu yang disebut dengan ilmu yang bermanfaat.

Bahkan sekelas ulama terhebat pun masih merasa hina dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan orang lain yang bodoh. Ketika seorang mampu menghadirkan tawadhu dalam ilmu yang dimilikinya, beragam kemaslahatan akan didapatkannya.

Sebab, ketawadhuan bukanlah sesuatu yang hanya mengendap dalam hati. Ia akan memancar dalam sikap, tingkah laku, dan tutur kata.

Ilmu yang bisa mendatangkan banyak uang atau bisa dijadikan sebagai pundi-pundi rezeki tidaklah disebutkan dengan ilmunya yang bermanfaat, jika masih terselip rasa sombong atau bangga atas ilmu yang dimilikinya.

Baca Juga :  Berharap Lawan Politik Kalah, Apakah Termasuk Dengki?

Pernahkah melihat seseorang yang koleksi ilmunya sudah mendunia, namun ia dengan bangganya menyebut dirinya sebagai orang yang paling patut dicontoh karena ilmunya yang banyak? Sosok insan yang demikian tersebut belumlah dikatakan memiliki ilmu yang bermanfaat berdasarkan keterangan dalam kitab Shaidul Khathir.

Ilmu yang berbalutkan sifat tawadhu adalah ilmu yaang bermanfaat dan juga menjadi sebab dirinya mendapatkan kemulian di dunia dan akhirat. Ia merendah di hadapan orang lain, namun hasilnya mendapatkan kemulian di sisi-Nya.  Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim).

Menurut kitab Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, orang yang menanam sifat tawadhu dalam dirinya saat hidup di dunia akan dimuliakan oleh Allah di tengah-tengah manusia dan kedudukannya juga semakin mulia.

Meskipun realitanya ia tetap merasa hina jika dibandingkan dengan orang lai. Begitupun di akhirat, ia akan mendapatkan pahala dan derajat yang tinggi karena sifat tawadhu-nya di dunia.

Begitu pula berlaku untuk ilmu yang bermanfaat, sebab ilmu yang bermanfaat akan selalu berhiaskan tawadhu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here