Iktibar dari Kecongkakan Abu Lahab: Mendalami Tafsir Surah al-Masad

0
1971

BincangSyariah.Com – Nama surah ini diambil dari kata terakhir ayat ke-5. Secara urutan wahyu, surah al-Masad merupakan wahyu keenam yang diterima Nabi Muhammad SAW. Surah ini merupakan deskripsi tentang Abu Lahab, paman Nabi, yang menolak secara keras dakwah keponakannya, Nabi Muhammad SAW.

Penolakan ini berakar dari keangkuhannya, kebanggaannya terhadap kekayaan dan kebenciannya terhadap ajaran yang disebarkan Nabi Muhammad SAW, yang menyatakan bahwa semua manusia memiliki posisi yang sama dan setara di hadapan Allah SWT dan akan dihukum oleh-Nya atas apa yang mereka lakukan di dunia. Demikianlah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Zaid yang dikutip oleh at-Tabari dalam tafsirnya terhadap ayat pertama surah ini.

Sebagaimana yang dinarasikan oleh beberapa penulis kitab hadis terkemuka, al-Bukhari dan Muslim misalnya, Nabi Muhammad SAW naik ke bukit as-Shafa di Mekkah dan mengundang semua orang yang mendengar suaranya, suku Quraish, termasuk sukunya sendiri Bani Hasyim.

Ketika mereka berkumpul, Nabi bertanya kepada mereka: “wahai keturunan Abd al-Muttalib, wahai keturunan Fihir (Quraisy)! Jika aku beri tahu kalian bahwa musuh sedang mengintai kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?” Mereka menjawab: “Ya, kami akan mempercayaimu.” Lalu Nabi berkata: “Ingatlah! Sesungguhnya aku di sini ingin memberi tahu kalian tentang Hari Pembalasan!”. Spontan Abu Lahab menjawab: “Sekedar untuk inikah kamu mengumpulkan kami wahai Muhammad? Sialan!”. Tak lama setelah itu, surah al-Masad ini pun turun:

(1) Binasalah kedua tangan seorang lelaki berwajah bersinar, sungguh celakalah dia; (2) tidaklah hartanya dan juga semua usahanya membuatnya lebih kaya (3) [Kelak di akhirat nanti] ia akan merasakan panasnya api neraka yang menyala-nyala; (4) bersama dengan istrinya, yang membawa narasi api kebencian dan fitnah; (5) [yang membawa] tali yang terbuat dari gejolak api di lehernya.

Baca Juga :  Benarkah Nabi Pernah Disihir Orang Lain?

Dalam berbagai literatur tafsir, misalnya dalam Tafsir yang ditulis al-Baghawi, Zamakhsyari dan ar-Razy, ditemukan suatu keterangan bahwa nama asli paman Nabi yang dinarasikan dalam surah ini ialah Abdul Uzza.

Abdul Uzza ini sejak zaman Jahiliyyah sebelum Islam sering dijuluki sebagai Abu Lahab yang secara literal berarti Bapak Api yang Menyala-Nyala. Sebenarnya dijuluki Abu Lahab ini bukan karena konotasinya yang negatif. Dijuluki Abu Lahab justru karena ketampanan dan kegantengannya yang memukau. Ini artinya julukan Abu Lahab memiliki konotasi yang positif di masa Arab Jahiliyyah sebelum Islam.

Karena itu, di masanya, Abdul Uzza ini adalah seorang lelaki Bani Hasyim yang sangat tampan dan memiliki muka yang bercahaya. Mungkin dalam bahasa Inggris, kata Abu Lahab ini dapat kita terjemahkan “Man of the Glowing Countenance”.

Sedangkan kata yada yang berarti ‘kedua tangan’ dalam pemakaian bahasa Arab klasik sering diartikan sebagai metonim untuk kekuasaan dan kekuatan. Dari sini kemungkinan  arti Yada Abi Lahab ialah kuatnya pengaruh Abu Lahab dalam memengaruhi opini publik untuk membenci dakwah Nabi Muhammad SAW. Allah menepis kekuatan pengaruhnya tersebut dengan sebutan tabbat yada abi lahabiw wa tabb sehingga harta dan kekuatan yang ia kerahkan untuk menggagalkan dan bahkan menghalang-halangi dakwah Nabi akan sia-sia belaka (ma aghna anhu maluhu wa ma kasab).

Selanjutnya dalam ayat ini juga disebutkan hammalatal hathab. Kata ini secara literal maknanya ialah pembawa kayu bakar. Kendati demikian, dalam pemakaian Arab klasik, seperti yang dikemukakan oleh at-Tabari dalam Jami’ al-Bayan dan az-Zamakhsyari dalam al-Kasyaf, kata hammalat al-hathab ini adalah frasa idiomatik yang artinya orang yang sering menyebar fitnah dari satu orang ke orang lainnya agar dapat mengadu domba atau bahkan menyalakan api kebencian antara sesama manusia. Inilah kenapa istri Abdul Uzza ini disebut sebagai hammalatal hathab karena lidahnya sering digunakan untuk menyebarkan kebencian terutama terhadap dakwah Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Hadid Ayat 22-23: Hikmah dan Tujuan Musibah

Nama asli istri Abdul Uzza atau Abu Lahab ini ialah Arwa umm Jamil binti Harb bin Umayyah. Arwa sendiri ialah saudara perempuan Abu Sufyan, dan karena itu, ia adalah bibinya Muawiyah bin Abi Sufyan, pendiri kerajaan Bani Umayyah. Kebenciannya terhadap Nabi Muhammad dan para pengikutnya sangatlah akut sehingga ia sering kali mendzhalimi dan melukai Nabi. Arwa menggunakan kefasihannya dalam mengartikulasikan ide untuk memprovokasi massa agar membenci dan membendung orang-orang agar tidak terpikat terhadap dakwah Nabi Muhammad SAW.

Kendati demikian, surah ini juga sebenarnya termasuk kepada surah-surah Alquran yang futuristik, artinya, surah yang memberitakan kegagalan demi kegagalan yang akan dialami oleh semua elemen kaum musyrik yang berusaha sekeras tenaga menentang dan menghalang-halangi dakwah Nabi Muhammad SAW.

Dan Fathu Makkah merupakan bukti nyata atas ramalan yang dimaksudkan oleh surah al-Masad ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here