Idul Fitri, Zakat dan Relevansinya pada Nilai Kemanusiaan

0
259

Dan orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak melebih-lebihkan, dan tidak pula kikir, dan adalah (pembe­lanjaan itu) tengah-tengah antara yang demikian. (QS Al-Furqân [25]: 67)

 

BincangSyariah.Com- Memasuki suasana hari raya Idul Fitri, atau juga di­se­but sebagai hari raya Kemenangan—tentunya bagi yang telah menjalan­kan ibadah puasa satu bu­lan penuh—ditandai dengan kumandang gema takbir, meng­­agungkan asma Allah Swt. Selain takbir, mereka yang berpuasa juga diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah atau za­kat pribadi yang pada hakikatnya merupakan simbolisasi kon­sekuensi sosial ibadah puasa.

Barangkali, yang demikian dapat direnungkan lewat sab­da Rasulullah Saw. yang mengatakan bahwa zakat fitrah ha­rus dike­luarkan sebelum shalat Id, “Barang siapa menge­luar­kan (zakat fitrah) sebelum shalat Idul Fitri, maka itu diteri­ma sebagai zakat fitrah, dan bagi yang mengerjakan sesudah shalat Idul Fitri, itu termasuk sedekah sebagaimana sedekah yang lain.”

Zakat fitrah yang harus dikerjakan sebelum shalat Id—ada batas waktu—mengindikasikan bahwa ibadah puasa se­bagai ibadah pribadi juga pada kenyataannya tidak bisa di­pisahkan dari dimensi sosial, yakni menyantuni mereka yang tidak berpunya dan beruntung sebagai wujud kepeduli­an. Adapun idenya adalah agar pada hari raya Idul Fitri se­mua orang bisa berbahagia. Pada hari itu, ide­alnya jangan sampai ada orang yang meminta-minta karena kelaparan, ka­rena hari itu adalah hari bahagia.

Menjelang hari raya Idul Fitri, perlu kiranya kembali di­­re­nungkan sikap-sikap yang harus diperhatikan sebagai cerminan orang beriman, khususnya dalam membelanjakan harta. Ini penting karena jangan sampai perilaku atau sikap-sikap pada saat meraya­kan Idul Fitri justru, tanpa disadari telah menyalahi dan menyim­pang dari makna dan pesan Idul Fitri itu sendiri. Hal seperti itu tentunya harus dihin­dar­kan.

Seperti yang telah dibahas pada pembahasan sebelum­nya, ciri-ciri orang beriman dalam membelanjakan harta ada­lah tidak menghambur-hamburkan harta atau mengguna­kan hartanya untuk ber­foya-foya, sesuatu yang tidak akan men­datangkan manfaat. Tindakan menghambur-hambur­kan harta dalam Islam dipandang sebagai tindakan yang tidak disukai oleh Allah Swt. serta menuruti kemauan setan, seperti ditegaskan dalam Al-Quran, … makanlah dan minum­lah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya, (Allah) tiada me­nyukai orang berlebih-lebihan (QS Al-A‘râf [7]: 31).

Di tempat lain dalam Al-Quran juga disebutkan, … dan janganlah kamu memboroskan harta. Sesungguhnya, orang-orang yang boros adalah saudara setan-setan. Dan setan itu ing­­kar kepada Tuhannya (QS Al-Isrâ’ [17]: 26-27).

Baca Juga :  Ini Alasan Agar Kita Tidak Berprasangka Buruk

Amalan-amalan membelanjakan harta di jalan Allah Swt. dalam kaitan dengan ibadah puasa adalah dia­njurkan­nya orang beriman memperbanyak ibadah, seperti berinfak, ber­sedekah, dan berzakat kepada fakir-miskin, khususnya di­mulai dari kerabat. Dan itu pun dalam praktiknya tetap dalam batas-batas kewajaran, tidak boleh kikir dan tidak boleh berlebih-lebihan.

Dalam hal menafkahkan hartanya, orang beriman dila­rang kikir, sebagaimana diperingatkan dalam Al-Quran, Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu …( QS Al-Isrâ’ [17]: 29). Di situ ilustrasi membelenggu leher dengan tangan adalah sebuah metafora sikap kikir.

Yang baik dalam hal membelanjakan harta sesuai de­ngan ajaran Islam adalah sikap pertengahan antara kedua­nya, antara tidak boros atau berlebih-lebihan dan kikir. Sikap tengah-tengah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran, me­rupakan salah satu ciri orang beriman dalam memper­tang­gung­jawabkan hartanya, seperti yang dinyatakan, Dan orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak me­lebih-lebihkan, dan tidak pula kikir, dan adalah (pembe­lanjaan itu) tengah-tengah antara yang de­mi­kian (QS Al-Furqân [25]: 67).

Perayaan Idul Fitri se­be­nar­nya merupakan kemenangan se­cara batiniah atau ruhani, namun kebahagiaan dan kemenangan batin itu kemudian diekspresi­kan dan ditampilkan dalam hal-hal yang bersi­fat lahiriah sebagai lu­ap­an kebahagiaan batin. Hal itu diekspre­sikan seperti dalam ben­tuk pakaian baru, peralatan ru­mah baru, makanan, minuman, dan sebagainya. Yang semacam itu, tentu sah-sah saja. Namun se­bagai orang beriman, tetap harus mampu mengendali­kan diri da­lam batas-batas kewajaran, men­ce­gah tergelincir pada sikap-si­kap yang justru dilarang oleh ajar­an Islam seperti ber­foya-foya atau kikir karena hanya memen­ting­kan diri.

Berkenaan dengan sikap men­­je­lang hari raya Idul Fitri, sya­ir berbahasa Arab yang sering di­kutip para mubalig, patut kira­nya untuk diingat kembali, yakni “Bukanlah hari raya Idul Fitri bagi orang yang pakaian dan perabotan rumahnya serba baru, tapi hari raya Idul Fitri adalah bagi orang yang beriman dan ketaatannya bertambah.”

Perlu ditegaskan, sepanjang Idul Fitri, khususnya ber­kenaan dengan membelanjakan harta, orang beriman juga dianjurkan agar memperhatikan kesejahteraan orangtua dan kerabat. Sedangkan berkenaan dengan mengeluarkan zakat fitrah, haruslah diikuti dengan mengeluarkan zakat yang lain, yakni zakat mal atau harta. Jadi, zakat fitrah ber­fungsi sebagai sarana penyucian diri, sementara zakat mal se­bagai sarana penyucian harta. Dengan begi­tu, suasana Idul Fitri benar-benar dalam suasana serba fitri atau suci, lahir dan batin.

Baca Juga :  Idul Fitri berarti Kembali Kepada Kebahagiaan Sejati

Kembali pada kepemilikan harta dalam Islam. Sejalan dengan ajaran Islam, di dalam harta kita terdapat hak-hak dan kewajiban atas harta. Hak dan kewajiban itu berwujud hak bagi para pengemis dan orang miskin. Dalam sebuah ha­dis Nabi yang sangat populer disebutkan bahwa zakat sebagai kewajiban sosial dalam Islam juga boleh dilakukan atau dijalankan dengan menggunakan paksaan atau keke­ras­an jika memang diperlukan, “Ambillah dari harta orang-orang kaya zakatnya.”

Berkenaan dengan pelaksanaan pengambilan atau pe­ngum­pulan zakat secara paksa, dalam sejarah Islam hal ini pernah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar r.a., khususnya ke­pada penduduk Yaman. Khalifah Abu Bakar r.a. meme­rangi mereka yang tidak mau membayar zakat karena tidak mau atau menolak membayar zakat, dapat diasum­sikan me­no­lak kontrak sosial atau perjanjian sosial, al-‘aqd, yang me­nyangkut segi-segi politis. Hal ini seperti yang diperkenalkan oleh Al-Mawardi, berabad-abad jauh sebelum lahirnya teori politik modern Social Contract-nya Jean-Jacques Rousseau.

Bagi Khalifah Abu Bakar r.a., yang menjadi masalah bu­kanlah jumlah zakat, melainkan nilai kemanusiaan yang terkandung dalam perintah zakat tadi. Itulah sebabnya, Abu Bakar r.a. kemudian bersumpah bahwa meski harganya ha­nya seutas tali unta, beliau tetap akan terus menjalankannya meski harus dengan paksaan atau kekerasan kepada siapa saja yang menolak membayar zakat.

Sikap keras yang ditampakkan oleh Abu Bakar r.a. ter­sebut, pada sisi lain, juga mengindikasikan bahwa ajaran Is­lam sangat memperhatikan fungsi zakat sebagai perwujud­an dimensi kemanusiaan yang memiliki nilai sangat penting bagi tegaknya sebuah tatanan sosial.

Tidaklah mustahil, diawali sikap enggan membayar za­kat, tanpa disadari akan muncul kerawanan sosial, atau da­lam istilah lain, merebaklah kemungkaran akibat terjadinya kesenjangan so­sial. Islam jauh-jauh mengingatkan bahwa kemungkaran sering sekali berpangkal pada problem kemis­kinan yang tidak terkendali. Dalam hadis Rasulullah Saw. dika­takan, “Hampir saja kemiskinan itu mengajak kepada kekafiran.”

Dan perlu disadari, berkenaan dengan kemungkaran sebagai efek kesenjangan sosial, orang beriman pun dituntut ikut serta menyelesaikannya. Kewajiban tersebut dianalogi­kan sebagai kerja atau amal sosial. Sebagaimana dalam ha­dis Rasulullah Saw. yang sering kita dengar, “Barang siapa di antara kamu melihat kemung­karan, hendaknya mengubah­nya dengan tanganmu, dan apabila tidak mampu, hendaknya meng­gunakan lisanmu, dan apabila tidak mampu, hendaknya de­ngan hatimu.”

Sejalan dengan pemahaman dan maksud hadis terse­but, dapat disimpulkan bahwa sikap tidak mampu meng­ubah kemungkaran—mence­gah dengan tangan dan lisan­nya—yakni hanya dengan mencamkan dalam hati diparalel­kan dengan wujud derajat atau kualitas keima­nan yang te­ren­dah. Inilah, barangkali, di balik ide yang mendor­ong di­per­bolehkannya pengambilan zakat secara paksa, seperti yang dilakukan Khalifah Abu Bakar r.a.

Baca Juga :  Puasa dan Esensi Ketakwaan

Yang pernah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar r.a. ju­ga dapat menyadarkan kita akan adanya kemungkinan di­laku­kannya law enforcement berkenaan dengan penge­lola­an zakat, baik zakat fitrah maupun mal. Tentunya kepada orang-orang kaya yang Muslim.

Sepanjang bulan puasa, banyak masjid yang berperan se­bagai penampung dan pengelola zakat, infak, serta sede­kah. Dengan sen­dirinya, sepanjang bulan puasa masjid-mas­jid menjadi ramai. Masjid yang pada mulanya merupakan in­stitusi keagamaan—sebagai tempat menjalankan ibadah shalat, pengajian, dan sebagainya—kemudian berperan se­ba­gai institusi sosial.

Dengan mengambil peran sosialnya—dan ini merupa­kan kesatuan ajaran Islam yang memadukan hal yang ritual dan sosial—masjid dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai institusi yang ber­tanggung jawab dalam memper­hati­kan dan menyelesaikan masalah kemiskinan di sekitar­nya. Yang demikian itu juga tetap sejalan dengan ajaran Is­­­­lam yang sangat memperhatikan dimensi sosial atau soal-soal kemanusiaan.

Peran dan fungsi masjid yang demikian itu hendaknya tidak hanya sepanjang bulan puasa, tapi juga terus diperta­han­kan sepan­jang tahun. Dan sesuai dengan fungsi ritual­nya—yakni siang malam menjadi tempat beribadah—hen­dak­­nya masjid juga mampu difungsikan sebagai tempat un­tuk menyantuni dan menolong orang yang dalam kesusahan selama 24 jam. Yang demikian itu dapat dikembangkan lebih baik dengan melihat contoh di negara-negara maju. Fungsi masjid pun dapat dikembangkan menjadi neighbouring unit.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here