Idul Fitri berarti Kembali Kepada Kebahagiaan Sejati

0
557

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Al-Rûm [30]: 30)

 

BincangSyariah.Com- Hari raya Idul Fitri sebagai puncak pelaksanaan iba­dah puasa memiliki makna yang berkaitan erat de­ngan tujuan yang akan dica­pai dari kewajiban ber­puasa itu sendiri. Idul Fitri secara eti­mologi (kebahasaan) ber­arti hari raya Kesucian atau juga hari raya Kemenangan—yakni kemenangan mendapatkan kembali, mencapai ke­suci­an, fitri.

Adapun kata ‘îd dalam bahasa Arab diambil dari akar kata alif-wa-da, yang memiliki banyak arti, di antaranya: se­sua­­tu yang terjadi berulang-ulang. Kata ‘îd juga berarti kebia­saan dari kata ‘âdah. Dan kata ‘îd juga memiliki arti kembali, kembali ke asal dari kata ‘audah—semua itu dapat dipelajari da­lam ilmu sharf, yang antara lain membahas perubahan-per­ubahan kata dalam bahasa Arab.

Dari pengertian yang terakhir, Idul Fitri atau kembali ke asal adalah pengertian yang sangat relevan dengan mak­na yang akan dicapai dalam pelaksanaan ibadah puasa. Iba­dah puasa merupakan sarana penyucian diri, tentu saja apa­bila dijalankan dengan penuh kesungguhan dan ketulusan serta disadarinya tujuan puasa itu sendiri sense of objective.

Hal ini sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. berkaitan dengan asal kejadian manusia. Dikatakan da­­lam hadis Rasulullah Saw. bahwa setiap anak yang lahir ada­lah suci, “Setiap anak yang lahir adalah dalam kesucian ….” Penegasan yang berke­naan dengan kesucian bayi yang baru lahir juga dinyatakan dalam sebuah hadis lain yang mengatakan bahwa seorang bayi apabila meninggal, maka ia dijamin akan masuk surga.

Baca Juga :  Suami Mengajak Bercinta, Bolehkah Istri Melanjutkan Puasa Sunahnya?

Manusia dengan kesucian asalnya, primordial, terka­dang mudah terjerumus dan tergelincir ke dalam dosa se­hing­ga menjadikan dirinya tidak kecil lagi. Meminjam istilah sastrawan terkenal Dante, kesucian itu diistilahkan dengan surga atau paradiso, suasana jiwa tanpa penderitaan. Se­dang­kan dosa, sebagai kondisi jiwa yang tidak membahagia­kan diistilahkan dengan inferno atau neraka. Dan bulan Ramadlan yang berarti penyucian diistilahkan dengan purga­torio atau penyucian jiwa. Orang yang menjalankan ibadah puasa sesuai dengan tuntunan, dengan sendirinya akan da­pat mengembalikan jiwanya ke­pa­da kesucian atau paradiso, yak­ni keba­hagiaan karena tanpa do­sa.

Setelah berhasil menjalani iba­dah puasa dengan baik, orang beriman kemudian oleh Al-Quran dianjurkan untuk ber­takbir atau mengagungkan asma Allah Swt. sebagaimana disebut­kan, … Allah menghendaki kemu­dah­an bagimu dan tidak menghen­daki kesukaran ba­gimu. Dan hen­dak­lah kamu men­­­­cu­kupkan bilang­an­nya dan hendak­lah kamu meng­agung­kan Allah atas petunjuknya yang diberikan kepa­da­mu supaya kamu bersyukur (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Dengan anjuran takbiran ter­sebut, sepertinya seorang Mus­lim yang telah menjalankan iba­dah puasa diasumsikan berada da­lam kemenangan atau kesuci­an sehingga yang ada hanya Tu­han dan yang lain dianggap ti­dak berarti apa-apa. Allâhu Ak­bar, Allah Mahabesar.

Adapun hal unik yang berkaitan dengan takbir adalah susunan lafaz takbir. Takbir yang biasanya dalam shalat dibaca sesudah tahmîd (menyucikan nama Allah Swt.), di­balik susunannya pada saat takbir hari raya—tahmid dibaca sesudah takbir.

Asumsi atau anggapan yang muncul adalah karena de­ngan menja­lankan puasa yang baik, sesuai dengan tuntunan dan telah berhasil melewati tingkatan-tingkatan dari lahir­i­ah, nafsiah, hingga ruha­niah atau spiritual, maka seseorang dinyatakan telah mencapai kesucian. Segala sesuatunya di­anggap sudah beres, artinya manusia telah kembali kepada asalnya, yakni kesucian atau fitri. Itulah sebabn­ya, yang di­perlukan kemudian hanyalah mengagungkan nama dan ke­be­saran Allah Swt.

Baca Juga :  Batasan Khaufil Fitnah dalam Kitab-kitab Fiqih

Sesuai hukum fiqih formal, anjuran bertakbir dimulai pa­da hari tenggelamnya matahari pada akhir Ramadlan se­ba­gaimana tertu­lis dalam Al-Quran, … Dan hendaklah kamu men­cukupkan bilan­gannya dan hendaklah kamu mengagung­kan Allah … (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Dan perlu disinggung di sini berkenaan dengan yang terjadi di masyarakat kita pada malam hari raya tiba. Sudah mem­budaya takbir keliling yang sesungguhnya merupakan ma­nifestasi atau ungkapan kebahagiaan setelah berhasil me­­menang­kan ibadah puasa. Dan takbir yang juga merupa­kan sarana meluapkan kebahagiaan setelah berpuasa itu juga identik dengan semangat zakat fitrah, yang intinya ada­lah memberikan kebahagiaan kepada orang yang tidak ber­punya, tu‘mat-an li ’l-masâkîn. Dalam ungkapan lain, lewat gerakan zakat fitrah, pada hari raya Idul Fitri jangan sampai ada orang yang bersedih dan jangan sampai ada orang yang meminta-minta. Ini hari kebahagiaan.

Itulah sebabnya, mengeluarkan zakat fitrah sebagai za­kat pribadi juga ditegaskan oleh hadis Rasulullah Saw., harus dilak­sanakan sebelum shalat Idul Fitri.

Dengan memahami hakikat ibadah puasa sebagai pro­ses penyu­cian diri serta diiringi melaksanakan kewajiban zakat fitrah—yang tentunya juga dianjurkan untuk diikuti dengan zakat-zakat dan amal-amal sosial yang lain—maka mak­na sesungguhnya Idul Fitri adalah kembali kepada ke­sucian. Dan inilah hakikat kebahagiaan yang sejati: kembali kepada kesucian, fitri tanpa dosa—yang menjadi sumber segala penderitaan setiap anak manusia.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here