Idul Fitri: Ajang Transformasi Diri

0
76

BincangSyariah.Com – Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan penuh ampunan. Di mana seorang muslim menjalankan ibadah puasa pada bulan tersebut. Secara subtansi, bahwa puasa dipahami sebagai pekerjaan menahan diri dari makan, minum, dan dari apa saja yang dapat membatalkan ibadah puasa, dengan waktu yang telah ditentukan yaitu terbit fajar sampai dengan terbenam matahari.

Namun, jika ibadah puasa diartikan sebagai sebuah metode, proses, atau tahapan, maka akan tercapailah suatu tingkat pendewasaan diri seseorang. Metode, proses, atau tahapan ini artinya menahan diri dari gemerlapan duniawi, kondisi diri untuk dapat mengatur emosi, dan keadaan memaksa untuk dapat memilah dan memilih antara sesuatu yang baik dan yang buruk.

Orang yang berpuasa berarti orang tersebut telah menjalankan suatu pekerjaan. Tentu terdapat tambahan imbalan atau ganjaran bagi seseorang yang telah melakukannya. Namun, tergantung seseorang itu mau diambil atau tidak tambahan imbalan itu. Orang bekerja mendapatkan bonus berupa uang misalnya. Sedangkan orang yang berpuasa telah disiapkan reward oleh Allah Yaitu berupa malam lailatul qadar.

Satu malam pada malam lailatul qadar itu lebih istimewa, lebih berkualitas dibandingkan dengan seribu bulan. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT dalam surat Al-Qadar ayat 3-5 yang artinya “malam Qadar (kemuliaan) itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbitnya fajar”. Dalam ayat tersebut para malaikat yang dipandu oleh malaikat Jibril bersemangat dan berbondong-bondong membawa rahmat Allah SWT untuk ditaburkan kepada hamba-Nya.

Malam lailatul qadar menjadi tumpuan harapan bagi setiap muslim. Harapan untuk mendapatkan ampunan Allah, untuk mendapatkan pahala, bahkan harapan untuk mendapatkan rizqi yang banyak, dipercepat jodoh, dan harapan untuk memperoleh gemerlapan dunia lainnya. Dengan adanya malam lailatul qadar di bulan Ramadhan merangsang setiap muslim berlomba-lomba dalam beribadah, melakukan kebajikan, serta berlomba-lomba dalam mensucikan rohani.

Baca Juga :  Tradisi Sahabat Dalam Merayakan Hari Raya Idul Fitri

Lailatul qadar ibarat seberkas cahaya pada lampu untuk menyinari ruangan . jika ruangan kumuh tidak bersih, maka cahaya tidak bisa bersinar secara sempurna. Maka yang diperlukan adalah membersihkan ruangan tersebut. Begitu pula dengan manusia, untuk dapat memperoleh malam lailatul qadar, maka yang diperlukan adalah membersihkan diri yaitu dengan memperbaiki dan memperbanyak ibadah, membersihkan hati dari penyakit hati, mempertebal iman, dan rasa totalitas kepasrahan. Di bulan Ramadhan inilah tempat untuk memaksimalkan semua itu.

Melalui rentetan ibadah dan Reward lailatul qadar dalam ibadah puasa, manusia dapat mencapai puncak kesejatian diri. Manusia terlatih untuk dapat membedakan mana yang abadi dan mana yang temporer. Akan tetapi realitanya, semua itu tidaklah dijadikan sebagai metode, proses ataupun tahapan pendewasaan diri. Masih banyak di antara kita menjalankan ibadah, berlomba-lomba dalam kebajikan, banyak shodaqoh, dan tadarus Al-Qur’an hanya sebagai ibadah sesaat. Sehingga hal itu dapat mempengaruhuri kualitas nilai dari ibadah puasa. Hal tersebut dapat dilihat saat perayaan hari raya Idul Fitri. Pada perayaan  itu semua orang telah diperbolehkan untuk makan dan minum kembali, serta diperbolehkan untuk menikmati apa yang telah dilarang ketika menjalankan puasa.

Sehingga Idul fitri dapat dikatakan sebagai pesta kaum muslimin. Yang identik dengan acara sungkeman, pakaian baru, kalimat minal ‘aidzin wal faizin (mohon maaf lahir dan batin), silaturrahim dari rumah ke rumah, halal bihalal, dan makan. Kalimat Tabligh dan Takbir bergema di mana-mana dengan iringan suara petasan dan bedug. Semua orang tampak bahagia pada hari raya Idul Fitri.

Namun sejatinya, Idul Fitri merupakan tahap akhir dari proses penyucian, pembersihan, dan pembebasan rohani manusia. Yang tahap sebelumnya telah dilaksanakan pada ibadah puasa di bulan Ramadhan. Sudah menjadi tradisi bersama bahwa Idul Fitri mengandung nilai yang telah dikonsepsikan oleh Allah SWT yaitu maaf-memaafkan. Akan tetapi, nilai yang terkandung dalam Idul Fitri tidak hanya secara horizontal yaitu berkaitan dengan hubungan antar manusia, melaikan juga secara vertikal yaitu hubungan dengan Allah SWT.

Baca Juga :  Khutbah Idul Fitri: Idul Fitri dan Lima Pelajaran Berharga dari Puasa

Untuk mencapai halal bihalal maka seseorang secara horizontal harus meminta maaf dan memaafkan oleh sesama manusia serta memberikan maaf kepada sesama manusia. Setelah adanya keikhlasan antara kedua belah pihak, maka insyaAllah akan membuka hubungan baik secara vertikal bahkan manusia bisa mencapai halal bi karromah (kemuliaan) dihadapan Allah SWT.

Setelah mencapai kedudukan halal bihalal, maka dimungkinkan manusia dapat berubah untuk menjadi insan yang lebih baik. Oleh karena itu Idul Fitri dapat dikatakan sebagai ajang pentransformasian diri. Berhasil atau tidaknya proses transformasi diri dapat dilihat dari tindakan, perilaku, dan keadaan ketika Idul Fitri dan setelahnya. Apakah seseorang setelah menjalankan rentetan ritual ibadah di bulan ramadhan dapat mempertahankan rutinitasnya bahkan lebih baik atau justru malah kembali ke rutinitas semula sebelum menjalankan ibadah puasa.

Dengan demikian, maka perlulah kita sebagai kaum muslimin menghayati secara mendalam mengenai proses transformasi diri yaitu pensucian, pembersihan dan pembebasan rohani manusia hingga sampai tahap akhir yaitu idul fitri. Bahwa proses tersebut tidak hanya berujung dan memuai hasil dengan sekedar maaf, memberi maaf, dan dimaafkan oleh sesama manusia. Namun, proses tersebut dapat berbuah menjadi insan yang lebih baik, sehingga dapat menempati posisi  la’allakum tattaquun (bersama orang-orang yang bertaqwa). Semoga dengan penghayatan serta pemaknaan puasa dan idul fitri secara benar, dapat mentranformasikan manusia untuk menjadi insan yang lebih baik dan bertaqwa kepada Allah SWT. Aamiin.

Waallahu a’lamu bi as-Showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here