Ibnu Qayyim; Kebodohan Itu Penyakit, Obatnya Bertanya Kepada Ulama

0
986

BincangSyariah.Com – Fenomena saat ini, masyarakat lebih suka mendengar para ustadz yang terkenal berkat kisah taubatnya, yang kebetulan sering berfatwa karena banyaknya pengikut yang senang bertanya kepadanya.Tidak ada yang salah, dengan mengamalkan pesan Nabi ‘sampaikanlah walau satu ayat’. Tapi seperti kata Prof. Quraish Shihab, boleh menyampaikan jika memang itu bidang anda. Jika bukan maka serahkan kepada beliau-beliau yang kepakarannya telah terbukti dengan menkaji kitab belasan tahun di hadapan ribuan santri. Mereka lah ulama sejati.

Para ulama merupakan penghulu agama. Frasa ulama merupakan kata plural yang berarti orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Karna dalam permasalahan agama, maka pengetahuan di sini maksudnya adalah pengetahuan agama. Para ulama tersebut yang bisa menghilangkan penyakit bodoh.

Menurut Ibnu Qayyim dalam kitab Al-Da’ wa Al-Dawa, kebodohan merupakan penyakit. Jika dibiarkan tanpa bertanya kepada yang bukan pakarnya, maka sungguh penyakit itu akan semakin parah. Jika fatwa agama didapatkan dari sumber yang salah maka pemahaman akan agama bukan memberi ketentraman dan rasa damai malah memicu sumbu perpecahan dan perseteruan.

Dalam Hadis dari Jabir bin Abdullah, Rasul menyebutkan bahwa sungguh kebodohan itu penyakit berbahaya dan obatnya hanyalah bertanya kepada orang yang benar-benar tahu

 عن جابر قال خرجنا في سفر فأصاب رجلاً منا حجر فشجه في رأسه، ثم احتلم، فسأل أصحابه فقال: هل تجدون لي رخصة في التيمم؟ فقالوا: ما نجد لك رخصة وأنت تقدر على الماء، فاغتسل فمات، فلما قدمنا على النبي صلى الله عليه وسلم أخبر بذلك فقال: قتلوه! قتلهم الله، ألا سألوا إذ لم يعلموا؛ فإنما شفاء العي السؤال؟ إنما كان يكفيه أن يتيمم ويعصر أو يعصب -شك موسى – على جرحه خرقة، ثم يمسح عليها

Baca Juga :  Apakah Kera yang Ada Sekarang, adalah Kera Kutukan di Zaman Nabi Musa?

Dari Sahabat Jabir berkata, Kami pernah bepergian, kemudian salah seorang dari kami terkena batu sehingga kepalanya terluka. Kemudian ia bermimpi basah dan bertanya kepada sahabatnya, “apakah padaku ada keringanan untuk bertayamum?”. Maka sahabatnya mengatakan, “kami tidak menemukan keringanan untukmu sedang kamu mampu menggunakan air”, sehingga ia pun mandi, kemudian mati. Maka ketika kembali dan menemui Rasullah kami pun menceritakan hal tersebut, dan beliau bersabda, “Mereka telah membunuhnya dan semoga Allah membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui? Karena obat tadi tidak tahu adalah bertanya. Padahal cukup baginya hanya dengan bertayamum dan menutup lukanya dengan kain kemudian mengusapnya.” (HR. Abu Daud)

Hadis ini menerangkan bahwa seseorang tidak seharusnya bertanya kepada orang yang tidak tahu, bertanyalah kepada seorang ahli yang mengetahui agar kebodohanmu tidak membahayakan, bertanya membuat kebodohan yang melekat dapat disembuhkan. Sebab itu menurut Ibnu Qayyim, obat ketidaktahuan adalah bertanya kepada ulama yang memiliki kebijaksanaan dalam berfatwa.

Sebagaimana Rasulullah bersabda dalam hadis riwayata Imam Ahmad  dari Usamah bin Syuraik, berikut ini

   إن الله لم ينزل داء إلا أنزل شفاء، علمه من علمه، وجهله من جهله

Artinya; Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali dengan penyembuhnya, Dia memberikan pengetahuan kepada siapa yang mengetahui dan meniadakan pengetahuan dari mereka yang tidak tahu. (HR. Ahmad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here