Ibnu Hazm, Ibnu Bajjah, dan Cinta Sejenis

1
231

BincangSyariah.Com – Ibnu Hazm al-Andalusi merupakan seorang tokoh besar, ahli ushul fikih aliran zhahiriah, dan ahli ilmu logika. Tidak syak lagi, Ibnu Hazm juga adalah seorang pujangga, perumus cinta dalam sejarah umat Islam lewat karyanya Tawq al-Hamamah. Tulisan ini ingin merespon salah satu tulisan Pak Mun’m Sirry di Geotimes yang menyebut Ibnu Bajjah sebagai homo. Katanya, Ibnu Hazm dalam Tawq al-Hamamah menyebutkan bahwa Ibnu Bajjah itu homo.

Tawq al-Hamamah merupakan memoar, kitab ini mengingatkan kembali cinta dalam konsep, batas, dan rintangan. Dan juga cinta sebagai kecendrungan, hasrat, seks dan seterusnya. Dalam tulisannya Pak Mun’im menuturkan bahwa LGBT adalah fenomena klasik seklasik usia peradaban manusia. Namun, bukan ini fokus pembahasan saya.

Berdasarkan beberapa literatur sejarah, saya juga menemukan tuduhan serupa yang menyatakan beberapa tokoh Islam itu pelaku homo. Namun, ada sesuatu hal yang perlu dikritisi terkait pernyataan-pernyatan bias tersebut. Alat baca sejarah apa yang harus dijadikan ukuran penghakiman seorang tokoh/ilmuan muslim, sebagai seorang homoseksual, misalnya?

Di sini, saya merasa bahwa kita harus kritis juga dalam soal sejarah, jika itu sejarah. Namun jika itu hanya sebatas rumor, isu perseteruan antara dua orang, lalu bagaimana bisa jadi sejarah yang dijadikan pembenar. Tampaknya kita perlu merujuk Ibnu Khaldun dalam hal permasalahan penghakiman atau rumor sejarah tersebut. Ibnu Khaldun bukan saja sebagai sosiolog Islam awal, ia juga ahli sejarah yang lewat Muqaddimah, mengkritik para sejarawan yang hanya menukil berita-berita hoax (akhbar wahiyah).

Rumor “panas” juga pernah disematkan pada al-Ma’mun. Disebutkan bahwa Yahya bin Aktsam seorang Qadhi (hakim) pernah meminum khamr dan bermalam di kediaman al-Ma’mun. Dalam keadaan mabuk, keduanya pun “tidur” bersama. Bagi Ibnu Khaldun itu hanya berita-berita hoax. Bagaimana tidak, Yahya bin Aktsam dikenal sebagai ahli hadis yang dipuji oleh Ahmad bin Hanbal, hadisnya pun di-takhrij oleh al-Tirmidzi bahkan al-Bukhari, ulama hadis yang sangat selektif dalam memilih rawi, meriwayatkan hadis darinya.

Baca Juga :  Balasan Bagi Orang yang Suka Memutuskan Harapan

Karenanya, menurut Ibnu Khaldun, bila Yahya bin Aktsam dianggap homo, maka hadis-hadis yang al-Bukhari riwayatkan darinya juga cacat. Namun kenyataannya tidak demikian bukan?!

Jika melihat film Game of Thrones yang diangkat dari buku George RR. Martin A song of Ice and Fire, seakan-akan kehidupan kerajaan-kerajaan tidak bisa lepas dari cinta-hasrat sejenis. Buku Islamicate Sexual Desire juga menjelaskan bahwa istana itu identik dengan dunia seksualitas sejenis.

Istana (Thrones) tak hanya menyajikan kemewahan, kegelamoran namun juga berisi “permainan” hasrat. Namun, buku ini khusus membahas “apa yang ada di balik tirai kemegahan istana Mamluk, Moghol”. Buku yang diedit oleh Kathryn Babayan ini secara umum memperlihatkan pembacaan kompleks atas seksualitas, tentang Desire dengan sudut pandang kajian literature, politik hingga budaya.

Berdasarkan penelusuran yang saya lakukan, tidak disebutkan satu pun orang bernama Ibnu Bajjah dalam teks Tawq al-Hamamah, bahkan dengan model penyebutan kunyah Abu Bakar (Ibnu Bajjah), atau dengan laqab Ibnu al-Shaigh (anak tukang perak) karena Ibnu Bajjah memang berprofesi sebagai pedagang perak.

Bahkan yang aneh jika dilihat dari tahun lahirnya, pengarang kitab Tadbiru-l-Mutawahhid ini, lahir tahun 1080 M/ 487 H. Sedangkan Ibnu Hazm wafat pada tahun 1064 M/ 456 H. Mungkinkah mereka bertemu? Artinya, Ibnu Hazm sudah wafat 31 tahun sebelum Ibnu Bjjah lahir.

Memang, Tawq al-Hamamah menyebutkan adanya percintaan sejenis. Cinta sejenis –model yang tentu saja tidak disetujui oleh Ibnu Hazm- bercerita tentang seseorang yang bernama Ibnu al-Jaziri: bukan Ibnu Bajjah.

Nama lengkapnya Ubaidullah bin Yahya al-Azidi. Dahulu, ia adalah seorang yang rajin, paham qiraah Alquran dan menghafal Hadis. Dulu, Ia menjaga dirinya. Namun, Karena dipenuhi syahwat, ia berubah drastis. Sesuatu yang sangat disayangkan. “cinta”-nya pada seorang pemuda tampan merubah dirinya secara total.  Kisah hampir serupa juga menimpa pada seorang Ibrahim bin Sayyar al-Nazhzham. Ahli ilmu kalam dengan keluaan wawasan ilmu pengetahuannya.

Baca Juga :  Teks Khutbah Idulfitri 1439 H: Akhlak Mulia adalah Muara Semua Ibadah

Kesan yang saya baca dari Tawq al-Hamamah tentang cinta sejenis berada dalam koridor kekaguman. Setidaknya itulah yang terlihat pada diri Ibnu Hazm pada seorang sahabatnya bernama Ibnu Thubni. Bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Yahya bin Muhammad al-Tamimi. Pria yang berwajah tampan, berperawakan bak bidadari ini dikagumi oleh Ibnu Hazm.

Kisah pengaguman sesama jenis juga melanda diri Ahmad bin Quzman. Kekaguman hingga cintanya pada seorang pemuda membuatnya meninggal, karena tak pernah diutarakannya. Begitulah konsep cinta menurut Ibnu Hazm. Cinta memang selalu tak berbentuk bahkan tak berkelamin. Namun, kadar, ekpresi, dan orientasi cinta; kebahagiaan, kesengsaraan, kematian juga hal lain yang dibicarakan Ibnu Hazm dengan nada yang berbeda tentunya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.