Ibn Khaldun dan Kajian Hadis (1): Kajian Terberat dalam Ilmu Hadis adalah Nasikh Mansukh

0
1021

BincangSyariah.Com – Abdurrahman bin Khaldun atau yang lebih dikenal dengan Ibn Khaldun (w. 808 H), dalam karyanya al-Muqaddimah, sebuah karya yang seperti namanya bermakna “Pengantar” terhadap kitab sejarah karyanya yang berjudul Kitab al-‘Ibar wa Diwani al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa Man ‘Aashorohum min Dzawi Sulthon al-Akbar, mencatat berbagai hal yang berhubungan dengan apa yang disebut peradaban. Mulai dari berbicara wilayah geografis, karakter masyarakat, mazhab-mazhab keagamaan, hingga ilmu-ilmu yang berkembang di masanya. Salah satu ilmu yang ikut beliau ulas adalah ilmu hadis.

Catatan Ibn Khaldun tentang perkembangan kajian hadis terlihat seperti review atau profil terhaap ilmu hadis. Dalam al-Muqaddimah, ia tidak menceritakan secara luas perkembangan kajian hadis ini. Tapi ia membuat sebuah profil yang menjelaskan bagaimana perkembangan kajian hadis mulai di masa-masa awal hingga masa beliau hidup. Saya akan mencoba meringkasnya menjadi beberapa sub judul berikut ini, yang saya gali dari kitab Muqaddimah-nya.

Pertama, Kajian Tersulit dalam Kajian Hadis adalah Nasikh Mansukh`

Kajian An-Naskh yang dapat diartikan dengan “mengganti” dalam kesimpulan Ibn Khaldun adalah salah satu bagian tersulit dalam kajian hadis. Kajian Naskh berupa digantinya penerapan satu dalil dengan penerapan dalil, menurut Ibn Khaldun adalahperwujudan kasih sayang Tuhan. Naskh diterapkan pada ayat Al-Qur’an dan Hadis, sehingga ada kalanya ayat Al-Qur’an “diganti” (Mansukh) dengan hadis, Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, sampai hadis dengan hadis sendiri. Untuk Al-Qur’an, kajian soal naskh banyak dibahas dalam tafsir.

Namun untuk hadis, untuk menganalisanya dibutuhkan perangkat ilmu hadis. Dan di dalam hadis, acapkali terjadi dua hadis yang saling bertentangan. Untuk menyelesaikan dua hadis yang saling bertentangan, secara umum jika hadisnya sudah sama-sama shahih dan tidak dimungkinkan untuk ditakwil maknanya sehingga keduanya bisa digunakan bersamaan, maka jalan keluarnya adalah menggunakan naskh. Menurut Ibn Khaldun, yang paling pakar soal kajian naskh dan Mansukh ini, termasuk di dalam hadis, adalah Imam As-Syafi’i.

Baca Juga :  Tiga Hal yang Disunahkan di Hari Jumat

Sementara syarat sebuah hadis bisa diamalkan diantaranya adalah terpenuhinya syarat-syarat hadis bisa dikategorikan shahih. Hadis bisa dikategorikan shahih misalnya hadis yang sanadnya diisi oleh para periwayat yang berislam dengan baik (al-‘adl) dan punya sumber akurat, baik ingatan maupun dokumen (ad-dhobth). Untuk mengetahui periwayat hadis disebut al-‘adl dan ad-dhobth, para pakar di bidang hadis ada yang concern dengan tekun mengumpulkan profil para periwayat hadis satu per satu. Jadilah muncul sejumlah kitab profil periwayat (tarajum ar-ruwaat) yang berisi informasi yang berkaitan langsung dengan syarat kesahihan hadis. Ilmu untuk mempelajari periwayat dalam sanadhadis ini disebut dengan ‘ilm al-jarh wa at-ta’diil.

Bersambung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here