Hukum Zikir dengan Suara Keras

0
1776

BincangSyariah.Com – Berziikir dengan suara keras (jahar) setelah shalat jamaah, saat tahlilan, yasinan dan manakiban merupakan tradisi yang menyatu dalam kehidupan masyarakat kita. Dalam ibadah-ibadah yang dilaksanakan secara kolektif tersebut, biasanya para jamaah akan berzikir bersama dengan suara yang agak keras secara bersamaan dengan dipimpin oleh seorang ustaz atau Imam.

Di antara dalil dibolehkan zikir dengan suara keras adalah hadis riwayat Imam Bukhari berikut ini

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: قال الله تعالى: أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه إذا ذكرني، فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منهم وإن اقترب إليّ شبرا تقربت إليه ذراعا وإن اقترب إليّ ذراعا اقربت إليه باعا وإن أتاني يمشي أتيته هرولة.

“Aku ini menurut prasangka hamba-Ku, dan Aku menyertainya, dimana saja ia berdzikir pada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hati-Ku, jika ia mengingat-Ku di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di depan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sehasta, jika ia mendekat pada-Ku sehasta, Aku akan mendekat- kan diri-Ku padanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”

Selain diriwayatkan oleh Imam Bukhari, hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Turmudzi, Imam Nasa’i, Imam Ibnu Majah dan Imam Baihaqi.

Menurut Badaruddin al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, maksud dari “al-mala’” adalah al-jamaah, artinya perkumpulan. Jadi barang siapa berzikir atau menyebut keagungan Allah Swt. dalam sebuah perkumpulan atau di depan khalayak umum, maka Allah Swt. akan menyebut atau mengingatnya dalam sebuah perkumpulan yang lebih baik, yaitu di depan khalayak malaikat di langit.

Baca Juga :  Nabi Pun Bercanda

Berdasarkan hadis di atas, ulama menjadikannya sebagai dalil bolehnya zikir agak keras sebab zikir di hadapan khalayak umum mengisyaratkan bahwa zikir dilakukan dengan suara agak keras.

Sebagaimana pendapat Al-Jazari dalam kitabnya Miftaahul Hishnil Hashin berkata: ‘Hadits di atas ini terdapat dalil tentang bolehnya berdzikir dengan jahar/agak keras’. Dan juga menukil pendapat Imam Suyuthi yang berkata: ‘‘Dzikir di hadapan orang orang tentulah dzikir dengan jahar, maka hadits itulah yang menjadi dalil atas bolehnya.’’

Jadi berdasarkan penjelasan-penjelasan ulama di atas, maka berzikir dengan suara agak keras bukan sesuatu yang dilarang dalam syariat Islam. Berzikir dengan lirih atau keras boleh-boleh saja, masing-masing memiliki dasar dan keutamaannya masing-masing. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here