Hukum Vaksin Mengandung Tripsin Babi, Bolehkah?

3
31

BincangSyariah.Com-Masyarakat Indonesia belakangan kembali heboh. Keadaan yang membuat gempar kali ini datang dari dunia kesehatan. Pasalnya, Vaksin AstraZeneca berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia disebutkan vaksin itu mengandung tripsin babi. Pelbagai media pun langsung bergerak cepat memberitakan. Baik itu media online, elektronik, dan  pun media cetak. Tak ketinggalan, media sosial. Jagat maya viral imbas vaksin yang mengandung tripsin babi tersebut.

Nah dalam fiqih Islam, bagaimana hukum menggunakan vaksin yang mengandung tripsin babi?

Menurut Lembaga Fatwa Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir bahwa pada dasarnya Islam mengaharuskan untuk mempergunakan zat yang suci dan tak berbahaya pada makanan dan obat-obatan.  Lebih lanjut, untuk  menurut hukum asal; haram hukumnya memberikan sesuatu yang tak suci dan berbahaya pada  makanan dan obat-obatan.

Namun, Menurut Lembaga Fatwa Al-Azhar ada pengecualian hukum. Ketika dalam keadaan darurat (uzur) dan saat ada kebutuhan mendesak, maka hukumnya boleh. Akan tetapi dengan catatan; ada kontrol yang ketat dari pemerintah.  Pendek kata, pada saat pandemi Covid-19 ini, untuk menghilangkan Virus Corona, maka vaksin yang mengandung zat babi, boleh hukumnya  mempergunakan vaksin yang mengandung zat babi.

Ada pun dasar  hukum kebolehan menggunakan vaksin yang mengandung zat babi tersebut sebagai berikut;

Pertama, dalam Al-Qur’an, Allah memberikan keringanan hukum bagi seseorang orang dalam  keadaan darurat. Tegas dalam Al-Qur’an, Allah membolehkan seseorang makan bangkai, ketika dalam keadaan uzur dan terpaksa.

Pun dalam kasus kasus vaksin yang mengandung sebagian zat babi (bukan babi semua), maka hukumnya diperbolehkan. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah ayat 173;

حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Kedua, dalam kaedah ushul fiqih, apabila terdapat dua hal yang membahayakan, maka dipilih yang kecil mudaratnya (kebinasaannya). Nah dalam persoalan antara vaksin yang mengandung zat babi dan Covid-19 yang kian mengganas, maka  Covid-19 tercatat sebagai sesuatu yang lebih besar mudaratnya. Untuk itu, menggunakan vaksin yang mengandung zat babi bisa dipergunakan untuk menyelamatkan nyawa manusia.

Ketiga, sebagaimana dikatakan oleh Imam Jalaluddin Suyuti dalam kitab Al-Asybah Wa An-Nazhair;

الحاجة العامة قد تنزل منزلة الضرورة

Artinya; hajat (kebutuhan) orang banyak, itu akan menempati hukum darurat.

Nah dalam keadaan  ini, hajat (kebutuhan) orang yang banyak itu menempati hukum darurat. Vaksin dalam hal ini, merupakan kebutuhan semua bangsa dan seluruh umat manusia. Bagaimana tidak? Pandemi ini sudah membunuh jutaan orang. Dan menimpa puluhan juta manusia, maka vaksin dalam ini merupakan suatu keniscayaan.

Meski demikian, Al-Azhar tetap mendorong agar negara muslim dan para ahli kesehatan yang beragama Islam, agar saling bekerjasama dalam menciptakan vaksin yang aman dan suci. Itu agar umat Islam mengkomsumsi sesuatu yang halal dalam dirinya.

Demikian hukum vaksin mengandung tripsin babi dalam Islam. Semoga bermanfaat untuk kemaslahatan kita semua.

(Baca: Apakah Vaksinasi Covid 19 Membatalkan Puasa?)

100%

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here