Hukum Transaksi Sistem Dropship

0
8

BincangSyariah.Com – Salah satu bisnis yang tetap bertahan di masa pandemi ini ialah bisnis jual beli online. Bukan sekadar bertahan, namun juga meningkat omsetnya secara tajam. Dalam praktiknya, transaksi yang terjadi pada jual beli online ini memiliki varian seperti reseller, dropship, dan lain sebagainya.

Sebelum menjelaskan hukum transaksi sistem dropship, dropshipping ialah teknik manajemen rantai pasokan barang dimana pihak penjual (retailer) tidak perlu memiliki stok barang apalagi memproduksinya. Dia hanya berfungsi sebagai perantara saja. Tugasnya di dunia digital ialah memasang “display items” atau “katalog” yang apabila dipesan oleh pembeli (buyer), maka ia akan menghubungi penyedia barang (supplier). Keuntungan yang dia dapatkan berasal dari selisih antara harga eceran dengan harga grosir atau berasal dari nilai komisi yang disepakati dengan pihak supplier.

Jika merujuk pada hukum asli jual beli atau bai’, maka transaksi semacam ini tidak bisa kita katakan sebagai transaksi jual beli, karena dalam jual beli mensyaratkan kepemilikan yang sempurna (milkut tam) dari pihak penjual, sebagaimana pernyataan Rasulullah SAW ketika ditanyai oleh Sahabat Hakim bin Hizam,

يا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِي الرَّجُلُ فَيَسْأَلُنِي الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِي أَبِيعُهُ مِنْهُ ثُمَّ أَبْتَاعُهُ لَهُ مِنْ السُّوقِ قَالَ لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mendatangiku lalu ia meminta agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan terlebih dahulu aku membelinya untuk mereka dari pasar?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR. Abu Daud no. 3503; An Nasai no. 4613; Tirmidzi no. 1232; dan Ibnu Majah no. 2187)

Karena tidak bisa dikategorikan sebagai akad jual beli (bai’) maka solusinya adalah kita arahkan akad tersebut kepada akad ijaroh (buruh makelar) atau akad salam (pemesanan). Namun sebelum kesana, terlebih dahulu akan kita kaji model varian dropshipping ini dalam praktiknya di dunia online. Setelah dikaji, ternyata dropshipping ini memiliki dua model, yakni ada kalanya dropshipper belum mendapatkan izin dari supplier, dan ada kalanya sudah.

Baca Juga :  Cyberstalking Menurut Islam

Jika dropshipper belum mendapatkan izin dari supplier, ini berarti ia hanya membuat akun penjualan sendiri, menampilkan display item atau katalog dari berbagai barang yang ia tawarkan. Jika ada yang memesan, baru kemudian ia menghubungi pihak supplier untuk mendapatkan barang yang ia inginkan. Dalam khazanah muamalah Islam, akad semacam ini biasa disebut dengan akad makelaran atau samsarah. Kelemahan dari akad ini ialah ia menjual barang yang belum ada di tempat sehingga spesifikasi barang yang dikehendaki oleh pembeli belum tentu sesuai dengan apa yang ia tawarkan mengingat barang saat itu belum ada di tangan dropshipper. Demikian juga dengan harga. Bisa jadi saat menampilkan barang, dropshipper memasang harga yang ternyata belum update dengan harga pasaran sebagaimana yang ada pada pihak supplier.

Dengan transaksi menggunakan sistem samsarah semacam ini, hanya madzhab Hanafi dan sebagian Malikiah saja yang memperbolehkan. Diantaranya ialah Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu,

ﻭاﻟﺴﻤﺴﺮﺓ ﺟﺎﺋﺰﺓ، ﻭاﻷﺟﺮ اﻟﺬﻱ ﻳﺄﺧﺬﻩ اﻟﺴﻤﺴﺎﺭ ﺣﻼﻝ؛ ﻷﻧﻪ ﺃﺟﺮ ﻋﻠﻰ ﻋﻤﻞ ﻭﺟﻬﺪ ﻣﻌﻘﻮﻝ

“Jual beli makelaran adalah boleh. Dan upah yang diambil oleh makelar adalah halal karena ia didapat karena adanya amal dan jerih payah yang masuk akal.”

Berikutnya, apabila dropshipper sudah mendapatkan izin dari supplier, maka berarti dropshipper sudah meminta izin kepada supplier untuk ikut menjualkan barangnya, sehingga semua spesifikasinya sudah dia pahami sepenuhnya, demikian pula dengan update harga. Dengan demikian, logikanya sama saja seperti dia menjual barang yang belum dia miliki namun dia sanggupi keberadaaannya dalam durasi tertentu menurut spesifikasi yang telah disepakati bersama. Akad semacam ini biasa disebut sebagai akad pemesanan atau salam, yang hukumnya adalah diperbolehkan dengan syarat spesifikasinya harus sesuai, sebagaimana hadis Nabi,

Baca Juga :  Fikih Ekonomi (1): Pengertian Muamalah

دِمَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ فِى الثِّمَارِ السَّنَةَ وَالسَّنَتَيْنِ فَقَالَ : مَنْ أَسْلَفَ فِى تَمْرٍ فَلْيُسْلِفْ فِى كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

“Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dengan waktu satu dan dua tahun. maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memesan kurma, maka hendaknya ia memesan dalam takaran, timbangan dan tempo yang jelas (diketahui oleh kedua belah pihak).” (HR. Bukhari & Muslim)

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here