Hukum Trading Forex Berdasar Mekanisme Transaksi Spot, Option, Swap, Features dan Forward

2
148

BincangSyariah.Com – Berbekal tulisan sebelumnya, kita sudah mengetahui bahwa transaksi forex merupakan sebuah keniscayaan dalam relasinya dengan perdagangan antar negara dan sekaligus untuk menjaga dominasi mata uang suatu negara. Untuk itu, trading forex menempati derajat sebuah kebutuhan.

Selanjutnya, hal yang perlu dicatat, adalah bahwa mekanisme pelaksanaan trading  forex adalah dilakukan dalam pasar bursa berjangka. Dalam konteks ini, maka peran untuk melakukan trading, meniscayakan adanya peran pihak ketiga selaku broker. Akad yang berlaku antara seorang trader  dan broker adalah akad wakalah. Pihak broker berperan selaku wakil, sementara trader berperan selaku muwakkil (pihak yang mewakilkan).

Selaku wakil, maka pihak wakil berhak atas ujrah (upah) dari seorang muwakkil. Besaran ujrah  ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara broker dan trader, atau berdasar ketentuan yang  berlaku di antara keduanya.

Mengingat peran broker adalah merupakan seorang pihak yang diberi amanah, maka sifat amanah broker ini menghendaki untuk bisa terjamin. Sifat keterjaminan ini hanya ada manakala pihak broker tersebut berasal dari pihak yang terdaftar dan diakui secara resmi oleh peraturan dan perundangan yang berlaku. Itu pula sebabnya, dihimbau kepada masyarakat trader, agar menggunakan jasa broker yang terdaftar secara resmi di Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) untuk keamanan dana yang disetorkannya.

Mekanisme Trading Forex

Pada dasarnya semua transaksi muamalah  merupakan yang dibolehkan dengan catatan tidak ada illat larangan yang diterjang dalam mekanisme transaksi tersebut. Beberapa illat larangan itu antara lain adalah riba, maisir (judi), gharar (spekulatif), kecurangan (ghabn), dan dlarar (merugikan pihak lain).

Sementara itu, beberapa jenis mekanisme trading forex yang berlaku di pasar berjangka, saat ini, adalah mengikuti beberapa ketentuan, yaitu: trading spot, option, swap, features dan forward. Apakah dari kelima mekanisme ini diidentifikasi sebagai yang aman dari praktik riba, maisir, ghabn, gharar, dan dlarar? Inilah persoalan utama yang meniscayakan untuk dikupas dan diketahui oleh semua pihak seiring obyek transaksi dalam trading forex adalah berupa tukar-menukar uang, yang merupakan komoditas barang ribawi.

Catatan yang harus diperhatikan dalam transaksi barang ribawi (berupa mata uang / forex) ada 2, yaitu: (1) bila melibatkan terjadinya pertukaran mata uang sejenis, maka berlaku  wajibnya hulul (tunai), taqabudl (bisa saling dipindahkuasakan) dan tamatsul (sama takaran, nilai dan timbangan), dan (2) bila melibatkan terjadinya pertukaran mata uang tidak sejenis, maka berlaku wajibnya hulul (tunai) dan taqabudl (bisa saling dipindahtangankan).

Selanjutnya catatan  penting lainnya adalah bahwa trading forex adalah dijalankan lewat sebuah sistem aplikasi. Alhasil, ketepatan atau keterlambatan respon sistem, dapat berpengaruh terhadap status hukum trading forex.

Transaksi Spot

Transaksi spot ditengarai oleh sebuah transaksi satu titik. Di dalam transaksi satu titik ini, transaksi terjadi dalam bentuk realtime. Apa yang diklik sekarang, harus direspon  oleh sistem dengan harga sesuai dengan yang diklik tersebut.

Suatu misal, pada transaksii antara IDR/USD, ketika pihak trader mengklik beli pada poin dolar menunjuk pada harga 14.200, maka sistem harus merespon sebesar harga 14.200. Tidak boleh adanya keterlambatan dalam respon sistem.

Bagaimana bila terjadi keterlambatan respon sistem?

 Bila terjadi keterlambatan respon sistem, sehingga terjadi klik dengan harga yang meleset dari yang ditentukan oleh trader, maka tak urung dalam transaksi semacam ini bisa masuk kategori transaksi munabadzah (lempar kerikil). Sifat transaksinya menjadi bersifat spekulatif (gharar), alhasil hukum mengikutinya menjadi haram.

Suatu misal, seorang trader mengklik pada harga 1 dolar adalah 14.200, kemudian ternyata direspon oleh sistem 3 atau 4 detik kemudian, sehingga meleset dari harga 14.200 (contoh: harga 14.190), maka keterlambatan respon sistem semacam ini merupakan alasan  bagi timbulnya illat gharar (spekulatif). Alhasil hukumnya adalah haram disebabkan menyerupai transaksi munabadzah. Adapun bila tidak terjadi keterlambatan respon, maka hukumnya adalah dibolehkan tanpa kecuali, karena menyerupai transaksi tunai.

Transaksi Option

Option sering dimaknai sebagai transaksi memilih untuk menjual atau membeli suatu pasangan mata uang. Kebanyakan dari pola transaksi option ini ditengarai oleh keberadaan grafik sistem yang terus berjalan, sementara pilihan penjual dan pembeli tidak bisa dilakukan lewat klik langsung pada harga yang dimaksud. Transaksi semacam ini, lebih mirip dengan bai’ munabadzah atau muhaqalah, sehingga condong pada keharaman.

Transaksi Swap, Features dan Forward

Transaksi swap, features dan forward pada dasarnya merupakan bentuk lain dari transaksi kredit, bai’ bi al-ajal, dan salam. Karena komoditas yang diperdagangkan dalam trading forex adalah komoditas barang ribawi, maka berlaku ketentuan sebagai berikut:

  1. Transaksi yang terjadi melazimkan disepakatinya antara harga dan barang saat di majelis akad.
  2. Majelis akad dalam trading yang dimaksud di sini adalah majelis di mana trader masih berhadapan dengan mesin trading.
  3. Bila harga yang berlaku dalam trading dibebankan kepada trader pada saat komoditas pasangan itu diserahkan, maka tak urung akad trading  semacam ini adalah haram disebabkan adanya unsur gharar (ketidakjelasan) dan jahalah  (tidak diketahuinya komoditas).
  4. Bila komoditas  yang dibeli harganya ditentukan saat harga itu diserahkan, maka akad semacam ini juga termasuk yang haram, disebabkan adanya illat gharar.
  5. Kesimpulan: harga dan komoditas yang berlaku dan sah untuk dtradingkan, adalah wajib harga  saat masih  ada di  majelis akad, dan bukan harga ke depan.

Wallahu a’lam bi al-shawab

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here