Hukum Takbir Keliling

0
1440

BincangSyariah.Com – Perayaan hari raya tidak hanya dirayakan pada pagi hari saja, melainkan umat muslim dianjurkan untuk menghidupkannya sejak awal tanggal 1 Syawal. Karena telah sempurna hitungan puasanya sebulan, mereka merayakan dengan mengagungkan Tuhannya dengan cara bertakbir. Allah berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 185:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُ نَ

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Syaikh As Sa’di rahimahullah memaparkan dalam kitab Taisir Al Karim Ar Rahman bahwa Ketika bulan itu sempurna, hendaklah bersyukur pada Allah Ta’ala karena taufik dan kemudahan bagi hamba-Nya. Syukur tersebut diwujudkan dalam bentuk takbir ketika Ramadhan itu selesai. Takbir tersebut dimulai ketika melihat hilal Syawal hingga berakhirnya khutbah Idul Fitri.

Dengan begitu jelas bahwa bertakbir dianjurkan mulai awal 1 Syawal. Bertakbir bisa dilakukan dengan berjamaah atau sendiri di kamar. Sering kita melihat orang-orang berbondong-bondong membacakann takbir dengan berjalan atau berkendara. Hal seperti itu biasa dikenal dengan takbir keliling. Takbir keliling juga merupakan  ibadah dalam rangka membaca takbir yang dilakukan bersama-sama. Pada kenyataannya takbir keliling banyak diminati anak jaman now. Dengan ajang seperti ini mereka bisa saling memberikan semangat dalam mengerjakan kebaikan.

Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menghidupkan malam hari raya dengan memperbanyak takbir. Umat Muslim membuktikan cintanya pada sang kholiq dengan mengagungkannya sepanjang waktu. Nabi bersabda:


زينوا اعيادكم بالتكبير

“Hiasilah hari raya kalian dengan memperbanyak membaca takbir”.

Dalam suatu riwayat disebutkan:

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر

Baca Juga :  Tiga Kondisi Kalbu dalam Al Qur’an

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.”

Terlihat jelas bahwa Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa mengagungkan Allah dengan cara bertakbir bisa dilakukan hingga menjelang shalat Idul Fitri.  Jelasnya dari awal bulan Syawal (ba’da maghrib) hingga masuk waktu pelaksanaan shalat Idul Fitri. Dengan begitu jelas tidak mengapa mengamalkan sunah bertakbir dari malam haraai raya Idul Fitri hingga pagi. Justru merupakan ladang amal yang mulia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here