Hukum Suami Tidur Membelakangi Istri Atau Sebaliknya

0
44

BincangSyariah.Com – Di antara posisi tidur suami yang terkadang membuat istrinya tidak nyaman adalah posisi tidur membelakangi istri. Dalam Islam, sebenarnya bagaimana hukum suami tidur sambil membelakangi istri, apakah boleh?

Terdapat beberapa alasan mengapa suami tidur membelakangi istri, di antaranya adalah kenyamanan tidur. Jika suami tidur membelakangi istri untuk kenyamanan tidur, maka hal itu boleh. Tidak masalah bagi suami tidur membelakangi istrinya jika dia melakukannya bukan karena kebencian pada istrinya, melainkan karena itu adalah posisi yang nyaman baginya untuk tidur. (Baca: Baca Doa Ini Sebelum Tidur Jika Sering Mimpi Basah)

Ada juga suami tidur membelakangi istrinya karena istrinya nusyuz atau membangkang pada suami. Dalam keadaan seperti ini, maka suami boleh tidur membelakangi istrinya, bahkan pisah tidur dengannya untuk tujuan ta’dib dan mendidik.

Selama istrinya nusyuz, maka suami dianjurkan untuk menasehatinya dengan baik, dan jika istrinya tetap nusyuz, maka ia boleh membelakangi istrinya di tempat tidur atau pisah tempat tidur dengannya. Hal ini pun berlaku bagi istri. Bila suaminya melakukan perbuatan menjengkelkan, maka istri juga boleh melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan suami.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

لِلزَّوْجِ تَأْدِيبُ زَوْجَتِهِ إِذَا نَشَزَتْ بِأُمُورٍ مِنْهَا هَجْرُهَا فِي الْمَضْجَعِ، لِقَوْل اللَّهِ تَعَالَى: وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ

Boleh bagi suami mendidik istrinya jika nusyuz dengan beberapa hal, di antaranya pisah tempat tidur. Ini berdasarkan firman Allah; Istri-istri yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan peringatilah mereka.

Jika istrinya sudah tidak nusyuz dan kembali taat pada suaminya, maka suami harus memperlakukan istrinya dengan baik, termasuk di tempat tidur. Jika istrinya sudah taat, maka suami tidak boleh tidur  membelakangi istrinya dan pisah tidur dengannya.

Baca Juga :  Kewajiban Menghormati Orang Tua yang Sudah Beruban dalam Islam

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

ذَهَبَ الْفُقَهَاءُ إِلَى أَنَّ هَجْرَ الزَّوْجِ لِزَوْجَتِهِ النَّاشِزَةِ يَنْقَضِي جَوَازُهُ بِانْقِضَاءِ نُشُوزِهَا وَرُجُوعِهَا عَنْهُ وَعَوْدَتِهَا إِلَى طَاعَةِ الزَّوْجِ فِيمَا فَرَضَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهَا طَاعَتَهُ فِيهِ.. وَذَلِكَ لِقَوْل اللَّهِ عَزَّ وَجَل فِي آيَةِ النُّشُوزِ: فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Para ulama fiqih berpendapat bahwa pisah tidurnya suami dengan istrinya masanya habis apabila istrinya sudah tidak nusyuz dan kembali taat pada suaminya dalam hal yang diwajibkan oleh Allah pada seorang istri untuk taat pada suaminya. Ini berdasarkan firman Allah dalam ayat nusyuz; Kemudian jika mereka (istri) menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here